Wahai Puan

Puan, dunia ini luas
Kau dapat menunaikan satu per satu kewajiban namun kau lebih memilih ‘tuk mengemban semua itu secara bersamaan, sendirian

Puan, jalan hidupmu masih panjang
Kau lebih memilih untuk tak peduli; bekerja keras seolah tanpa henti

Puan, kau tak sendirian
Ada banyak telinga yang ‘kan mendengar keluh kesahmu, tapi bibirmu tetap bungkam

Puan, ada banyak hak yang bisa kau raih
Prioritasmu tetaplah orang-orang terkasih

Kau sangat luar biasa, Puan
Tak heran dunia membutuhkan sosokmu
Pun malaikat yang mencatat segala usahamu
Kelak, kau akan mendapat lebih dari yang pantas kau dapatkan, Puan


Wahai para penerus Kartini di masa kini dan nanti
Ingatlah selalu; habis gelap terbitlah terang

-Shelly Fw, 210417-

(Terima kasih atas saranmu untuk puisi ini, Adeana 😘)

image

Take Me Home

I am lost

Within sorrow

Falsehood raising

Can hold it no more

Spaceship always come and go

Embrace the shadow and the light

 

Day or night

All I want is leaving

Set me free

You’re the one I believe

Surrender is for the losers

Deep down there is nothing, but faith

 

Please take me home

To the place I belong

Across the skies

Through cosmic path

You and I will fight as one

Against thunderstorm or blazing sun

 

Universe awaits

For miracles and tales

Let them be the witnesses

Cause there’s only one chance

We ought to push all the limits

Firing the soul as a weapon, till the end

 

Please take me home

To the place I belong

Across the skies

Through cosmic path

You and I will fight as one

Against thunderstorm or blazing sun

 

-Shelly Fw a.k.a esfladys, 1 April 2017-

PicsArt_03-28-01.59.50~01

 

​Alhamdulillah; Saya Masih Bertahan

Sebenarnya sederhana saja. Kenapa sampai detik ini saya masih bertahan hidup? Pertama adalah karena perkenan dan rahmat-Nya. Kedua, karena saya yakin bahwa saya dapat mencapai impian-impian saya yang belum tercapai (aamiin). 

Salah satunya, membahagiakan orang tua saya. Seandainya bisa, saya akan selalu membahagiakan mereka. Senyum mereka adalah pelita sekaligus penyemangat. Tanpa dukungan dan perhatian mereka, mungkin saya takkan sanggup bertahan sampai sejauh ini.

Peran keluarga besar serta orang-orang di sekitar saya pun tak luput memberikan pelajaran berharga bagi saya. Bahkan mereka yang pernah ‘menjatuhkan’ saya sekali pun, membuat diri ini menjadi lebih tangguh daripada diri saya yang dulu. Juga, kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat. Tanpa semua itu, mungkin, saya yang sekarang tidak lebih baik dari saya yang dulu.

Saya sangat terbuka terhadap perubahan-perubahan. Juga pada segala kemungkinan yang ada. Faktor itu jualah yang membuat saya tetap bertahan. Lain halnya bila saya sangat tertutup pada berbagai perubahan. Intinya saya bersyukur (dan akan selalu bersyukur) dengan segala apa yang saya punya, baik dalam segi materiel maupun imateriel. 

Juga dengan event-event kepenulisan, salah satunya event kepenulisan 7 hari tantangan menulis #KampusFiksi dan #BasabasiStore yang saya ikuti ini. Saya selalu menghargai kegiatan-kegiatan yang memicu kreativitas saya demi bertahan hidup (dalam dunia yang penuh tuntutan ini), begitu pula terhadap tantangan ini. Saya harap, keikutsertaan saya dapat semakin mematangkan semangat saya untuk tetap berkreasi dan berkarya sampai akhir hayat. Harapan saya, semangat ini dapat berpengaruh pula untuk kita semua.

Dan saya akan melakukan yang terbaik untuk tetap bertahan. It’s easier to obtain than to maintain. Mempertahankan selalu lebih sulit daripada memperoleh, kan?

-Shelly Fw, 17 Maret 2017-

Kehilangan Diri Sendiri

​Don’t be afraid of losing people, be afraid of losing yourself – Unknown Author 

Begini. Kehilangan seseorang memanglah wajar bagi kita. Campur tangan-Nya begitu sering tak terelakkan. Nah. Ini kehilangan dalam arti harfiah. Bagaimana dengan seseorang yang (sengaja) meninggalkan kita, lalu disibukkan dengan hal-hal lain?

Mungkin saja, itu terjadi karena kita ‘kehilangan’diri sendiri. Hilang kendali. Terdepak dari alam kesadaran dan logika. Membiarkan alam bawah sadar menguasai diri kita.

Bagi saya, kehilangan seperti itulah yang (sayangnya) masih sering saya alami. Saya akan sulit memaafkan diri sendiri bila hal ini terjadi. Pernah, saya membiarkan ego menguasai diri. Hasilnya? Saya kehilangan orang-orang berharga di sekitar saya. Kehilangan kesempatan emas. Kehilangan jalan keberuntungan. Bagian terburuknya, saya kehilangan kepercayaan dari orang-orang di sekitar saya. 

Satu lagi. Pengaruh alam bawah sadar adalah 30.000 kali lebih kuat daripada pengaruh alam sadar (menurut Brian Tracy). Bila kecerdasan intrapersonal kita lemah alias kurang memahami kelebihan serta kekurangan diri sendiri dan selalu kesulitan mengendalikan emosi, jangan harap kita dapat mengendalikan diri. Inilah kenapa, saya mengutip quote di atas. Paham, kan?

-Shelly Fw, 16 Maret 2017-