Lukisan Verzasca

Sono le tre e quindici,”[i] ucap pria paruh baya sembari menunjukkan jam tangannya.

Grazie. Buon giorno, signore![ii] kataku pamit sebelum membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar taksi dengan agak terburu-buru.

Sungguh dinamika cuaca yang menyebalkan. Dengan suhu 54°Fahrenheit seharusnya langit Ticino cukup berawan seperti hari-hari sebelumnya! Ah, untung saja aku membawa jas hujan sehingga aku dapat merasa sedikit lega.

Tapi…kapan lagi aku akan menikmati hujan di Kota Ticino? Aku tersenyum sendiri memikirkannya.

Inilah hal yang menarik dari Ticino. Selain kota ini adalah salah satu surga bagi para pecinta alam dan seniman sepertiku, Bahasa Italia yang memonopoli sebagian besar percakapan disini juga menjadi salah satu keunikan dari Ticino; awalnya aku membenci hal ini, namun hari ini aku banyak menggunakan bahasa tersebut.

Kuhentikan langkah sejenak setibanya di pertigaan St. Nicolao. Tanpa ragu-ragu aku memasuki sebuah bar dan langsung memesan white merlot pada bartender.

***

Sebuah lukisan hasil perpaduan antara cat minyak dan linen kanvas. Berlatarkan lembah berbatu serta sungai yang sarat dengan warna hijau turquoise terpapar sinar matahari, lengkap dengan sentuhan hijau akan rimbunnya hutan di sekitar. Tertanda identitas dari lukisan tersebut.

Valle Verzasca, Bernhard Andreas, May 2003
Ticino, Switzerland

Ah, hijau. Warna yang mengingatkanku pada mata Clara.

Clara…Clara…Clara. Sungguh nama yang cantik, bukan? Secantik paras dan sinar matanya yang indah persis ketika kami pertama kali bertemu. Ketika itu aku sedang membuat sketsa Lembah Verzasca di Ticino, pastinya. Perkenalan kami tak banyak basa-basi. Malah to the point akan sketsaku itu.

“Serius, Bern. Sketsanya keren!”

“Benarkah?”

Gadis itu mengangguk cepat. “Apa kau akan menjual lukisan itu?”

Aku tertawa. “Aku bisa melukis khusus untukmu.”

Tak jemu-jemunya aku mengingat percakapan kami ketika itu. Satu per satu foto Clara kukumpulkan bersama lukisan Valle Verzasca. Kuakui, senyumnya yang sejernih aliran Sungai Verzasca selalu menghantuiku sejak itu.

Lukisan demi lukisan kubuatkan untuknya. Tentu saja ia tidak meminta seluruhnya, hanya saja sebagian besar dari lukisan-lukisanku itu ia salurkan pada galeri lukis milik pamannya yang cukup terkenal dan berkelas di Kota Bern. Senang sekali rasanya bagiku karena tanpa gadis itu mungkin lukisan-lukisanku hanyalah berupa pajangan atau hanya dipajang di etalase jalanan. Bukan hanya aku, namun ternyata paman Clara juga senang karena ia merasa galeri lukisnya serasa hidup kembali. Dan tentu saja, hubungan kami semakin akrab. Waktu demi waktu kami habiskan bersama.

Namun sayangnya hal itu tak berlangsung lama hingga akhirnya Clara melontarkan sebuah pertanyaan padaku.

“Bisakah kau mengajariku melukis gunung Alpen? Mungkin bisa sambil trekking.” godanya sambil terkekeh.

“Tidak, jangan. Aku pernah kesana.”

“Ayolah sayang.” kedua tangan kecilnya memeluk tubuhku. Sulit untuk menolak rasanya.

“Baiklah. Berjanjilah kau akan melakukan apapun yang kuminta. Kau belum terlalu berpengalaman, bukan?”

Clara mengangguk cepat.

Musim panas tahun 2006. Sebisa mungkin aku menghindarkan keinginan Clara untuk mendaki gunung Alpen mendekati musim dingin. Kami berangkat sesuai rencana. Cuaca ketika itu sangat bersahabat sehingga kami keasyikan disana dan bisa dibilang lupa waktu.

Hingga aku lupa dengan penyakit jantung Clara.

Benar saja, aku telah teledor dan malah mendatangkan bencana baginya. Sudah terlambat bagiku untuk meminta maaf. Sudah terlambat bagiku untuk menyesal. Sudah terlambat bagiku untuk memintanya kembali ke sisiku. Semuanya sudah terlambat.

Satu hal yang belum terlambat, dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Semua lukisan-lukisanku itu akhirnya kukumpulkan juga; foto-foto Clara kupeluk erat. Tanpa merasa ragu sedikitpun kunikmati pemandangan percikan-percikan yang menyala kuning. Lidah-lidah pelahap kenangan. Pelahap semuanya. Tepat saat sunset Ticino. Tepat saat rumah kayu ini juga siap untuk dilahap.

Ti voglio bene, Clara. Voglio sempre essere con te. ”[iii]


[i] Pukul 3:15

[ii] Terima kasih. Semoga harimu menyenangkan, Pak!

[iii] Aku mencintaimu. Aku selalu ingin bersamamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s