Cureless

 

Jantungku nyaris terhenti ketika pandangan hewan itu mengarah padaku. Tepat ke arahku, mengunci gerak tubuhku. Aku menelan ludah, memastikan bidikan panahku tertuju ke suatu titik pada tubuh hewan itu…sebelum terlambat.

Menyadari sesuatu, rusa itu pun berlari secepat yang ia bisa sebelum akhirnya ambruk ke tanah dan seolah meronta-ronta memohon pertolongan.

Terlambat. Sebuah anak panah sudah tertancap dengan mantap di tubuhnya dan sebentar lagi ia akan menjadi santapan seseorang.

Seseorang. Bukan aku. Bukan anak panahku yang melukai tubuh rusa tersebut. Siapapun itu, ia memanah dari arah yang berlawanan denganku. Ah, seharusnya aku mengetahuinya dari awal. Tanpa kusadari kedua tanganku terkepal erat, terlalu berat rasanya bagiku untuk kembali kehilangan buruanku.

Aku pun mengangkat tasku dari tanah dengan marah, mengakibatkan beberapa koin dari dalam tasku terjatuh berceceran ke tanah.

Ah, sial! Aku bahkan harus sembunyi-sembunyi untuk mengambil semua koinku yang terjatuh agar tidak diketahui si pencuri buruanku itu. Ada sekitar empat koin milikku yang menggelinding dan untungnya aku dapat mengambil koin-koin itu sebelum benda berharga milikku tersebut menggelinding lebih jauh.

Setelah memasukkan koin-koinku ke dalam tas secara hati-hati aku akhirnya memutuskan untuk tetap bersembunyi di balik semak-semak sambil terus bergerak menjauhi tempat sialan ini.

“Apa ini koin milik…mu?” tanya sebuah suara yang kurasa berasal dari arah belakang. Tak salah lagi. Pemilik suara itu pasti si pencuri buruanku itu!

Adalah sebuah kebodohan bila aku membalikkan badan dan lebih memedulikan koin satu penn yang kini berada di tangan gadis itu. Daripada membayangkan apa yang akan terjadi bila gadis itu melihatku, lebih baik aku pergi. Sekarang.

“Hei, tunggu!” cegahnya. Kupercepat pergerakan kedua kakiku tanpa menghiraukannya.

Suara gadis itu masih terdengar lebih jelas. “Hei! Tunggu! Jangan pergi!” serunya.

Pergilah! Jangan pedulikan aku dan makan saja buruanmu sana! Aku berteriak dalam hati.

“Hei! Aku ingin bicara denganmu!” teriaknya lagi.

Aku benar-benar tidak mengerti kenapa gadis itu memaksaku untuk mengambil koinku itu. Dia sinting atau apa? Aneh sekali. Lagipula apa urusannya denganku? Kenapa dia bahkan memilih untuk meninggalkan buruannya dan bersikeras—

Tubuhku hanya bisa bergeming begitu sebuah anak panah menancap sekitar setengah senti dari telinga kiriku.

Yang benar saja! Ia bahkan sengaja memanah sebuah pohon di dekatku untuk dapat menghentikanku. Ha. Kurasa dia ingin menantangku untuk adu kemampuan memanah.

Aku bergeming selama dua kedipan mata. Menyadari keberadaan gadis itu semakin mendekat, aku akhirnya membalikkan badan dengan terpaksa.

Tidak sedekat yang kukira. Gadis itu memang masih jauh dari tempatku berdiri namun aku dapat menilai pergerakan tubuh gadis itu.

Aneh. Ini sungguh aneh. Dalam perkiraanku, gadis ini akan berteriak ketakutan dan berlari menjauh setelah melihat wajahku. Setidaknya seperti itulah reaksi orang-orang lainnya yang melihat wajahku atau bahkan penampilanku.

Tidak seperti gadis ini. Ia lain. Ia tidak berlari ketakutan ataupun berteriak begitu melihat wajahku. Sebaliknya, ia justru tampak ingin membicarakan sesuatu padaku. Sesuatu yang sama sekali tidak bisa kutebak.

Kedua matanya sewarna kayu basah. Rambutnya yang dibiarkan tergerai begitu sewarna dengan bunga mawar hitam. Kulitnya yang hanya terbuka di sekitar mata dan tangannya sewarna dengan zaitun.

Aku juga tidak mengerti kenapa ia menutupi hampir seluruh kulit tubuhnya seperti itu. Hal itu tampak wajar bila ia berpenampilan buruk rupa sepertiku namun rasanya amatlah ganjil bila gadis di hadapanku ini berpakaian tertutup terutama di siang bolong seperti ini.

Siapa sebenarnya gadis ini?

“Ini koinmu.” katanya sambil menyerahkan koin milikku.

Harus kuakui aku terkejut sendiri mendapati gadis ini yang tidak merasa jijik bersentuhan denganku.

“Jadi…” aku berdeham untuk bicara dengan jelas dan menutupi keterkejutanku. “Kau memanggilku bukan hanya untuk mengembalikan koinku, kan?”

Gadis itu menggelengkan kepala dengan singkat. “Aku perlu bicara denganmu.”

Aku hanya bisa mengerutkan keningku.

“Kurasa aku butuh teman untuk menghabiskan buruanku.” Gadis itu kemudian berlalu meninggalkanku, mengisyaratkanku untuk mengikutinya.

Siang itu aku benar-benar makan enak. Makan hasil buruan orang lain memang merupakan kenikmatan yang takkan pernah kulupakan.

“Enak!” ucapku sebelum melahap daging rusa panggang terakhir. “Ini daging terlezat yang pernah kumakan!”

“Syukurlah.” ucap gadis itu. “Makan saja sebanyak yang kau mau.” Gadis itu kemudian memotongkan bagian kaki rusa panggang yang cukup besar untukku.

“Makan saja. Aku sudah kenyang.”

Bahkan perut dan lidahku tak sanggup untuk menolak tawaran itu.

Aku kemudian menyadari sesuatu. “Hei.Aku tidak melihat kau makan.” Dan aku juga tidak melihat kau melepas cadarmu ketika makan, tambahku dalam hati.

Gadis itu hanya memusatkan pandangannya pada sisa-sisa lidah api yang memancarkan cahaya berwarna kuning menyala di antara kayu-kayu. “Kau makan terlalu cepat.”

Aku nyengir. Sudah ditawari makan enak, diberi makan jatah lebih pula. Apa gunanya menolak?

Jadi aku pun menikmati santapanku itu. Awalnya aku sempat curiga dengan perilakunya yang kelewat ramah ini tanpa bisa mengusir anggapan bahwa ia pasti menginginkan sesuatu dariku namun rasanya konyol bila aku meyakini anggapan tersebut. Apa yang gadis ini butuhkan dari seorang pemuda yang buruk rupa sepertiku? Betapa konyolnya anggapan itu.

“Jadi…apa yang akan kita bicarakan?”

Gadis itu menghela nafas sejenak sebelum berkata, “Kutukan.”

Aku nyaris tersedak. Untungnya kegiatan makanku sudah selesai jadi aku tak perlu khawatir akan bereaksi secara berlebihan.

“Oh. Mungkin maksudmu adalah kutukanku.”Aku mengoreksi.

“Tidak, bukan.”

“Apa?”

Hal yang selanjutnya terjadi sama sekali di luar perkiraanku. Ia membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya, memperlihatkan sesuatu yang sedari tadi ia tutupi.

Ada sorot kesedihan dalam matanya. Bibirnya yang semerah delima melengkung muram, begitu pula dengan suaranya yang tidak selugas sebelumnya. Murung.

Agaknya sekarang aku mengerti mengapa gadis ini menutupi sebagian wajahnya dan berpakaian serba tertutup.

Dia adalah gadis tercantik yang pernah kutemui. Tatapannya laksana perairan tenang namun menghanyutkan. Hidungnya bak pahatan, tidak terlalu mancung ataupun cekung. Selain pipinya yang merona alami, bagian yang paling menarik perhatianku adalah bibir merah alami miliknya yang tipis sempurna. Sungguh jelmaan kesempurnaan. Anggun dan menawan.

Aku tidak tahu berapa lama aku menatapnya dengan penuh kagum. Aku hanya bisa merundukkan kepala karena malu begitu ia kembali memakai cadar hitamnya, menyadarkanku kembali ke kenyataan.

Kenyataan. Setidaknya ini memang bukan mimpi. Degupan jantungku yang masih berpacu begitu cepat menambah keyakinanku bahwa semua ini memang bukanlah mimpi. Gadis istimewa yang ada di hadapanku adalah nyata meski menurutku ia terlalu sempurna untuk ukuran manusia.

Jadi itulah alasannya. Alasan ia menutupi sebagian wajahnya. Melindungi diri. Melindungi kecantikannya yang…

Lagi, aku terhanyut dalam pikiranku sendiri hingga akhirnya suara muram gadis itu menyatakan sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Sesuatu tentang kecantikannya yang baru saja ia tunjukkan padaku.

“Karena aku juga dikutuk sepertimu.”

===

Itulah yang terjadi di hari pertama aku bertemu dengan Liz, gadis cantik yang berasal dari utara negara Samba. Meski aku tahu kecantikan gadis itu tak lebih dari sekadar kutukan, aku merasa aku memang jatuh hati padanya sejak hari itu.

Aku merasa begitu beruntung. Tak kusangka Liz memang sudah mencari ‘kawan seperkutukan’ selama empat bulan terakhir. Kebetulan yang sangat bagus karena kami dipertemukan di pegunungan Derin, daerah timur negara Samba.

“Aku menemukan sesuatu ketika aku di Yedn.” tutur Liz padaku. Diambilnya sebuah buku dari tasnya. “Buku ini berisi tentang kutukan dan ramuan penyembuhannya. Buku ini aku beli di Yedn seharga dua belas penn. Cukup mahal mengingat kegunaannya. Kau tahu? Ramuan-ramuan ini konon ampuh untuk menyembuhkan segala kutukan. Aku telah mendapatkan semua bahannya dan…”

“Dan?”

Liz menghela nafas sejenak. “Dan menurut buku itu, ramuan ini hanya bisa digunakan untuk mereka yang berjumlah genap. Entahlah, mungkin ini terkait kepercayaan masyarakat di Yedn yang menganggap angka genap sebagai angka sakral. Lagipula ini memang bukan ritual penyembuhan biasa. Dan karena itulah aku sangat lega begitu aku bertemu denganmu, Edgar. Aku lega karena akhirnya menemukan seseorang yang juga dikutuk sepertiku.”

Sejak dulu, aku termasuk orang yang tidak pernah percaya akan keberadaan kutukan atau semacamnya. Bagiku semua itu hanyalah ada di negeri dongeng dan omong kosong. Tak lebih dari sekadar cerita pengantar tidur atau cerita penghibur. Semenjak aku dikutuk, aku mengira diriku menderita suatu penyakit. Penyakit yang berujung maut jika tidak disembuhkan.

Sama halnya dengan sekarang. Bedanya, penyakit yang kuderita ternyata tidaklah berujung maut. Ada obat yang dapat membuatku terbebas dari kutukan. Kami dapat terbebas dari kutukan.

“Benarkah? Kita…kita bisa sembuh?”

Liz mengangguk. “Dulu pernah ada yang menggunakan ramuan ini. Kudengar mereka adalah penduduk di sekitar gunung Hald. Dan yang pasti, ramuan ini memang ampuh.”

Benar-benar kabar baik. “Benarkah…Liz? Kalau begitu, kapan kita akan membuat ramuan itu?”

“Secepatnya. Kita akan membuat ramuan itu secepatnya, Edgar!” kedua mata Liz terlihat berbinar ketika mengatakannya.

Mengetahui bahwa kami mempunyai harapan besar untuk sembuh dan terbebas dari kutukan merupakan sebuah keajaiban yang tak terlukiskan. Bagiku harapan tersebut sudahlah setimpal dengan penderitaan yang menimpaku sejak aku berusia dua belas.

Jika aku mengingat hari pertamaku dikutuk, hal yang paling kuingat adalah makian ayahku.

“BERANI-BERANINYA KAU MEMANGGILKU AYAH!” teriaknya.“ Aku tidak punya anak yang buruk rupa sepertimu! Siapapun dirimu, tempatmu bukanlah di rumah ini!” ia pun membantingkan pintu dengan keras.

Ingin rasanya aku menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi. Terbangun di tempat asing. Mendapati tubuhku berubah wujud tanpa alasan yang bisa kumengerti. Semua ini benar-benar di luar kendaliku.

Sayangnya, aku tak pernah mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan semua itu. Hal yang selanjutnya kulakukan adalah berlari. Berlari secepat dan sejauh mungkin. Tidak ada pilihan lain.

“Ibuuuuuuu! Ada monster!”

“Astaga! Menakutkan sekali!”

“…Siapa dia?”

Kini semua orang menjauhiku. Tidak ada lagi yang mengenaliku. Tidak ada lagi yang mengenal Edgar von Dhru.

Tak ada gunanya lagi aku kembali. Lari. Bersembunyi. Hanya itu yang bisa kulakukan selama lima tahun berturut-turut. Hingga saat ini.

Berbeda dengan Liz yang menderita kutukan itu sejak lahir. Ia terlahir cantik karena seseorang menghendaki demikian. Kecantikannya yang tiada tara bahkan membuat orang-orang di sekitarnya mencurigai asal-usulnya. Kebanyakan dari mereka bahkan menyebut Liz sebagai anak haram, tak terkecuali orangtua kandung Liz sendiri.

Ayah Liz terlampau kejam. Bukan hanya menuduh Liz sebagai anak haram, ia juga tega untuk menjual tubuh anaknya itu sejak Liz menginjak usia tiga belas.

“Berkali-kali kucoba untuk kabur namun berkali-kali itu pula usahaku gagal.” Suara Liz terdengar parau. “Dan begitu usahaku berhasil, aku bertekad untuk tidak pernah kembali lagi.”

Aku benci mendengar isak tangis seorang gadis, terutama isakan gadis istimewa seperti Liz. Aku benci mendengar suara paraunya. Aku benci melihatnya berada di titik rapuh.

Itulah kenapa sejak saat itu aku bertekad untuk melindungi Liz. Melindungi dan menjaganya sebisa mungkin karena aku tidak akan membiarkan sesuatu buruk terjadi padanya. Tidak akan pernah.

Terlalu banyak hal mengenai Liz yang membuatku kagum. Ia tidak hanya terlihat cantik dari parasnya, tapi juga cantik dari hatinya. Saat aku dan Liz menyusuri sungai Helts, Liz meminta kami untuk menghentikan perjalanan hanya untuk mengobati kuda yang sedang terluka di sana. Saat itu jugalah aku tahu bahwa Liz adalah seorang peramu.

“Aku senang karena setidaknya aku bisa mewarisi ilmu ibuku.” ucap Liz. “Meskipun ia tidak pernah mengajariku meramu, tapi aku yakin dulu dia adalah peramu handal.”

Dilatari perairan sungai yang berkilauan, dalam posisi itu Liz lebih mirip seperti malaikat yang tertimpa cahaya bulan.

Betapa aku berharap Liz tidak mendengar debaran jantungku.

“Pernah mendengar sungai Neld, Edgar?” ia bertanya sambil mencoba meramu obat untuk kuda yang terluka itu.

Aku menggelengkan kepala.

“Sungai suci di utara Samba.” lanjutnya. “Di sana aku bercermin, Edgar. Kau tahu apa yang kulihat di permukaan sungai Neld malam itu?”

Aku tidak bisa menebaknya.

“Wajahku, Edgar. Wajah asliku. Senang rasanya mengetahui kecantikanku ini hanyalah sebuah kutukan pembawa petaka. Sejak itulah aku semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai ramuan penyembuh laknat.” Liz tersenyum.

“Aku yakin kalaupun nanti kau terbebas dari kutukanmu, kau pasti akan tetap terlihat cantik.”

Ada semacam ledakan kebahagiaan dalam diriku begitu mendapati pipi Liz yang bersemu merah.

“Dan kau akan terlihat jauh lebih baik, Edgar. ”

===

Adalah sebuah rumah tak berpenghuni yang kami jadikan sebagai tempat pembuatan ramuan. Kosong, tapi layak. Jauh dari peradaban, tapi nyaman.

Aku tak mengerti banyak mengenai ramuan namun aku tahu mengenai sebagian tanaman yang digunakan untuk proses penyembuhan kami. Tanaman Pallica dari timur Samba dan tanaman pher dari utara.

Diperlukan setidaknya setitik darah kami untuk ramuan tersebut. Butuh sekitar tiga sampai empat jam untuk menunggu hingga ramuan tersebut siap diminum. Begitulah yang tertulis dalam buku milik Liz.

“Kau siap?” tanya Liz sebelum meminum ramuan itu.

Aku mengangguk mantap.

===

Ketika aku terbangun, kepalaku terasa berat. Butuh beberapa menit sampai akhirnya aku membaik dan menyadari sesuatu.

Kuangkat kedua tanganku ke udara. Kulit tubuhku putih, bukan pucat. Jemariku kurus, begitu pula dengan jemari kakiku. Ukuran hidung dan telingaku normal, tidak lebar seperti sebelumnya.

Tubuhku berada dalam ukuran normal. Ini berarti…

“LIZ!” aku bergegas mencari Liz. Dari ruang tengah hingga tempat ia tidur sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.

“Liz!” aku kembali menyerukan nama Liz lagi, berharap ia mendengar dan membalas panggilanku.

Tidak ada balasan. Aku semakin khawatir padanya.

Kedua kakiku baru saja tiba di bagian belakang rumah ketika aku mendengar sebuah isakan tangis.

“Liz!” Di sanalah ia, meringkuk di pojok ruangan. “Liz! Ada apa? Liz?”

Kedua mata Liz bengkak dan hidungnya memerah. Aku menyeka air matanya dan menangkup wajahnya dengan kedua tanganku untuk dapat melihat perubahan pada Liz.

Tidak ada perubahan. Liz masihlah berwajah jelita.

“Aku…aku tidak dapat sembuh, Edgar.” ucapnya. “Aku tidak tahu kenapa, tapi kurasa mungkin karena aku dikutuk dari lahir jadi aku tidak dapat sembuh. Aku…aku…”

Aku langsung memeluk Liz dengan erat. “Tapi kau baik-baik saja, kan?” ucapku padanya.

Bisa kurasakan Liz mengangguk dalam dekapanku. Aku memeluknya semakin erat, bersyukur karena Liz baik-baik saja.

Dan aku memang baik-baik saja selama aku bersama Liz, gadis yang kucintai.

===

Aku menatap langit di ufuk barat tanpa berkedip. Kelewat indah untuk dilewatkan, kurasa.

Langit menggelap seiring lenyapnya sinar mentari. Selesai menyaksikan fenomena tersebut aku pun bersiap untuk turun dari pohon. Pohon yang kupanjat memang cukup tinggi. Sengaja aku memilih pohon ini demi menyaksikan matahari tenggelam sekaligus dapat melihat keberadaan hewan buruan.

Suara petir menggelegar ketika aku hendak memijakkan kaki pada salah satu dahan pohon. Aku sempat kehilangan keseimbangan sehingga memunculkan reaksi panik pada tubuhku, membuatku kesulitan untuk mendapatkan keseimbangan kembali.

Aku terjatuh. Kupegangi bahuku yang sakit dan aku menyadari rasa sakit lain ketika hendak bangkit berdiri.

Kaki kananku. Aku dapat melihat dengan jelas darah segar yang merembes ke celana sekitar betis kaki kananku. Rupanya ada bagian celanaku yang robek di sana dan aku juga mendapati warna gelap pada batu yang tak jauh dari tempatku terjatuh.

Dengan pincang akhirnya aku segera menjangkau perairan dan membasuh lukaku dengan menggunakan air sungai lalu menutup luka tersebut dengan sebagian kain celanaku untuk sementara.

Perih. Meskipun aku terjatuh dari ketinggian sekitar tiga meter tetap saja luka ini perih.

Kudobrak pintu rumahku dengan kuat. Setelah menyalakan lampu terdekat, aku mencoba meraih ramuan-ramuan yang kuperlukan.

“Edgar!” seru Liz dari ambang pintu dapur. “Astaga! Apa yang terjadi, Edgar?”

Aku tetap menjelajah perlengkapan ramuan di dapur tanpa menghiraukannya.

“Lukamu cukup parah, Edgar! Biar aku yang—”

“Jangan sentuh aku!” sergahku.

Liz bergeming sesaat. Aku tidak tahu apa yang dilakukannnya, tapi tak lama kemudian rasa menyengat di kaki kananku berangsur-angsur hilang.

Kedua tanganku terkepal erat.

“Aku mohon, Edgar. Biarkan aku menyembuhkan lukamu. Aku mohon.” pinta Liz.

Aku selalu merasa kesulitan untuk menemukan suaraku setiap kali berbicara dengan Liz.

“Aku tahu cara untuk menyembuhkan lukaku sendiri.” tukasku. Kuambil sebagian tanaman pallica guna mengurangi rasa sakit dan tanaman krisar untuk menghentikan aliran darah pada lukaku.

“Tanaman pallica itu harus kau campur dengan sari pati bunga Sleam. Kita tidak punya cukup banyak persedian tanaman krisar. Sebaiknya kau gunakan saja…itu. Botol bertuliskan Hygs. Akan cukup ampuh untuk lukamu.”

Aku menghela nafas dengan berat. “Terserah kau sajalah.” Aku kemudian duduk di kursi ruang tengah dan mengangga sebelah kakiku dengan menggunakan meja.

Liz melakukan semuanya dengan cekatan. Mencuci lukaku dengan air hangat, mencampurkan ramuan-ramuan sebelum digunakan, hingga…

Aku memelototi Liz ketika indera pendengaranku menangkap semacam mantra yang diucapkan Liz.

“Maaf.” katanya. “Aku hanya ingin luka ini cepat kering dan sembuh.”

“Aku tidak butuh mantramu, Liz. Tidak sama sekali.”

“Aku tahu. Sekali ini saja, Edgar. Kumohon.”

Persetan dengan itu semua. Ingin rasanya aku meneriaki Liz yang sengaja berlambat-lambat memakaikan perban pada kakiku.

Kedua tanganku tiba-tiba terkunci. Bukan hanya tanganku, tapi juga kakiku. Seolah ada beban berat di sana sehingga aku tak dapat menggerakkannya.

Sial. Dia melakukannya lagi.

“Tidakkah kau mengerti, Edgar? Aku mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dari apapun dan aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri bila kau terluka.” Liz mulai terisak.

Itu terlalu berlebihan.

“Edgar. Bukankah kau juga mencintaiku? Bukankah kau juga ingin kita hidup bersama selamanya?”

Itu dulu.

Liz menyeka air matanya sebelum berkata, “Kau berhak marah padaku, Edgar. Aku tahu aku salah. Tapi aku melakukan semua ini dengan terpaksa. Aku tak berniat untuk melakukan itu semua.”

Aku masih berusaha untuk menggerakkan tangan dan kakiku namun tetap masih gagal. Aku benci Liz. Aku benci sihirnya.

“Sejak dulu aku mencintaimu, Edgar. Sejak umurmu dua belas aku sudah jatuh cinta padamu, tapi kau tidak menyadarinya. Aku hanya bisa menjagamu dari jauh saat itu. Kau ingat ketika kau jatuh terpeleset dari tangga namun kemudian tiba-tiba kau memperoleh keseimbangan kembali? Itu karena aku yang melakukannya.

“Apa kau ingat ketika tanganmu terbakar namun tidak merasakan sakit? Itu aku juga yang melakukannya, Edgar. Aku sudah menjagamu dari dulu.”

Aku sudah muak mendengarnya.

“Dan kau tahu kenapa waktu itu aku mengutukmu menjadi buruk rupa?” Liz terisak lebih hebat. “Karena aku juga ingin melindungimu, Edgar. Aku ingin melindungimu dari gadis-gadis lain. Kau terlalu berharga untuk dimiliki orang lain, Edgar von Dhru.” Liz pun bangkit dari duduknya dan sebelah tangan Liz membelai wajahku. “Aku juga berdusta padamu selama ini karena terpaksa, tapi percayalah, aku tidak bermaksud melakukan itu semua, Edgarku. ”

Liz memang gila. Liz tak ubahnya iblis.

“Lihatlah dirimu.” Liz setengah berbisik. Seulas senyuman mengembang di wajahnya. “Kau tampan. Aku cantik. Kita pasangan sempurna, kan?”

“Kau benar.” ucapku tanpa membalas tatapannya. Liz kemudian duduk di pangkuanku. “Kau memang cantik, tapi tubuhmu itu bukanlah raga aslimu. Dan aku—”

“Ssssttttt….” jari Liz menyentuh bibirku. Ia pun terkikik geli. “Di antara kita saja, ya.” Liz bergerak mendekat dan berbisik ke telinga kananku. “Aku mengutuk diriku sendiri.” Liz terkikik lagi. “Tapi kau suka, kan?”

Lagi. Suara Liz yang dibuat-buat itu membuatku muak. Seakan belum puas, sekarang ia membuatku tak bisa membuka mulut.

Liz yang ada di hadapanku bukanlah Liz yang aku kenal empat bulan yang lalu. Liz yang kini menggodaku adalah Liz yang sebenarnya, sedangkan gadis cantik yang kutemui di Derin adalah topeng. Tidak salah lagi. Liz yang sebenarnya adalah iblis. Kedua iris berwarna cokelat yang kulihat sekarang sarat akan obsesi dan hasrat, bukan lagi ambisi dan harap.

Aku menyesal telah mencintainya. Aku menyesal karena telah berharap agar kami dapat hidup bersama.

Gadis di hadapanku telah menghancurkan semuanya. Semuanya. Ia memang membebaskanku dari sebuah kotak, tapi kemudian dia memasukkanku ke dalam kotak yang baru. Kotak yang lebih gelap. Kotak yang lebih membuatku terkurung. Ia membebaskanku dari kutukanku, tapi ia ‘mengutukku’ cara lain, yaitu dengan hidup bersamanya. Neraka.

Kutukanku belum berakhir. Kutukanku yang sekarang justru lebih buruk, lebih membuatku semakin jauh dengan kebebasan.

Edgar von Dhru telah kehilangan harapannya untuk sembuh.

-Shelly Fw, 101214-

Cerita ini diikutsertakan dalam Lomba Cerbul Kasfan November 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s