Review Novel: One Step

REVIEW ONE STEP

Screenshot_2015-11-15-12-34-39

Judul Novel  :                        One Step

Penulis           :                        Shireishou

Jumlah Part   :                       23 Part

Status             :                        Completed

Link                :                        www.wattpad.com/story/34036747

Cerita ini mulai saya baca awal tahun ini di wattpad (pastinya) dan sejak awal saya memang sudah ‘kepincut’ sama cerita ini dari sinopsisnya.

Nah, kan. Saya hampir lupa mencantumkan sinopsis cerita ini.

Vega, Ryan, Cala, Batara.

Empat remaja dengan empat rahasia.

Empat remaja dengan masa lalu sekelam malam.

Dendam seperti bara api.

Dendam membawa perpecahan.

Ketika dendam masa lalu membawa keempatnya untuk bertemu dan memengaruhi satu sama lain.

Akankah dendam melebur dalam pengikhlasan dan cinta?

Atau justru terbakar dalam api kebencian yang menghanguskan segalanya?

Jalan mana yang akan mereka pilih?

Dendam. Masa lalu. Rahasia. Buat saya, ketiga kata tadi itu ‘menggiurkan’. Bacaan saya banget. Dan ya, saya pun lanjut membaca.

Begitu saya sampai di prolog, saya menemukan hal lucu. Lucunya, saya sempat nggak percaya ‘ini beneran adaptasi komik?’ mengingat prolog-nya sendiri terbilang ini-mah-bahasa-novel-banget sampai-sampai saya baca berulang kali. Detail. Tidak bertele-tele. Begitu juga dengan trailer ceritanya sendiri yang semakin ‘menghidupkan’ cerita. Singkatnya, prolog cerita ini cukup ‘menggugah’ bagi saya.

Masuk ke chapter satu, saya menemukan keganjilan. Ryan, yang merupakan si-penindas-protagonis dalam dialog sempat berkata ‘kami’, tapi kemudian dia berkata bahasa non formal dengan menggunakan kata ‘lo, gue, kita’. Belum sampai di situ, ternyata hal tersebut juga berlaku pada si kembar Bobby dan Bryan  yang merupakan antek-anteknya Ryan. Dari keseluruhan cerita pun, penggunaan ‘saya-kau’ di tengah-tengah bahasa mayoritas non formal ‘gue-lo’ juga tampak timpang (di mata saya), tapi toh kalaupun penulisnya sendiri nyaman dengan gaya bahasa (dalam dialog) tersebut, itu adalah hak penulis yang tidak bisa saya pungkiri. Saran sedikit saja nih, kalau bahasa dialog mayoritas non formal, cocoknya disandingkan dengan penggunaan bahasa formal aku-kamu agar cerita terkesan lebih mengalir. Selebihnya, dari segi narasi dan diksi saya acungi empat jempol! Cerita ini sukses membuat saya hanyut dan beberapa kali amazed terutama dengan intro di chapter-chapter tertentu (Well, selalu ada diksi yang membuat saya amazed tiap chapter, sih).

 

Intro-intro favorit
Intro-intro favorit

Screenshot_2015-11-15-23-05-22

 

 

 

 

 

 

 

Sempurna pokoknya buat diksinya. Masalah EyD hanya ada beberapa penempatan tanda baca yang kurang. Selebihnya sudah pas (malah ada EyD trivia sebagai tambahan beberapa bab). Penggunaan POV ke-3 serba tahu juga sudah tepat untuk cerita ini.

“Bawa golok kak!”

seharusnya,

“Bawa golok, kak!”

-One Step Chapter 4-.

Oke. Sekarang, mengenai karakter. Buat saya, semua karakternya oke, sih. Porsi semua karakternya pas dan kuat. MC (main character) buat saya nggak ada masalah. Vega, misalnya. Agak sulit mendeskripsikan sifat tokoh satu ini dalam satu/dua patah kata, tapi gambaran detail mengenai latar belakang (masa lalu) Vega hingga motif-motifnya melakukan beberapa hal tertentu terjabarkan dengan baik dalam cerita ini. Misalnya, Vega yang sering jadi korban bully-an Ryan dkk, selalu membiarkan hal itu terjadi. Ada alasan di balik diamnya Vega tanpa ada hasrat untuk melawan Ryan dan si kembar Bobby dan Bryan. Ada alasan kenapa Ryan gemar menindas Vega. Ada alasan di balik tindakan Vega yang menolong Ryan karena Ryan nyaris tertabrak mobil di tengah hujan. Ada alasan di balik Vega yang sempat menjaga jarak dengan Cala, dan hal-hal tersebut juga berlaku pada karakter-karakter lainnya sehingga plot cerita ini juga patut dibilang apik dan matang. Salut!

Ah. Cala. Kalau boleh jujur, Cala ini adalah karakter favorit saya. Somehow ke-plegmatis-an Cala ini menarik sekali. Itulah kenapa saya paling suka dengan chapter 13, yang dalam chapter itu Cala-nya Cala banget! (ngomong apa sih Shell?!) Pokoknya bagian ini nih!

Screenshot_2015-11-14-22-49-54

Oya, alur cerita… dan saya bingung mau mengkritisi bagian mana #dor. Singkat kata alur cerita ini kompleks namun dikemas dengan apik sehingga alurnya rapi pun unpredictable alias nggak ketebak alurnya. Secara keseluruhan alurnya matang jadi ketika dikonsumsi terasa gurih dan renyah (loh kok?). Kalau dipikir-pikir, saya sendiri belum tentu bisa mengonsep alur cerita sematang ini. Oya, satu yang mengganjal buat saja, yaitu ketika Vega dituduh mencuri iPad milik Ryan. Seandainya Vega dituduh mencuri iPad murid lainnya dan bukan Ryan, saya bisa memaklumi alasan Vega dijauhi teman-temannya. Tapi, dituduh mencuri iPad milik Ryan? Seharusnya, ini justru menjadi tanda tanya bagi yang lain dan malah mencurigai Ryan sebagai penuduh mengingat Ryan ini the troublemaker di SEA. Oke. Itu tadi hanya opini saya belaka.

Selanjutnya mengenai konflik. Alih-alih memiliki satu konflik utuh, cerita ini memiliki beberapa sub-konflik yang saling terikat oleh kesatuan benang merah. Antagonis dan protagonis berbeda dalam tiap konfliknya. Bagi saya ini poin plus, karena konflik seperti ini jarang ditemukan dalam cerita. Konflik yang baik adalah konflik yang dieksekusi dengan baik pula (halahh) dan bagi saya eksekusi seluruh konflik yang ada dalam cerita ini terselesaikan dengan baik dan jelas. Eksekusi konflik yang ‘greget’ bagi saya adalah Chapter 11-Execution. Di sini, saya sebagai pembaca turut ‘baper’ saking gregetnya part ini. Serius. Mirena really freakin’ deserves it! Hahahaha.

Tibalah kita ke masalah latar/setting cerita. Untuk hal satu ini saya no comment, deh. Kenapa? Karena lebih dari sekadar detail. Semua latar (berikut tempat, cuaca, dsb) terdeskripsikan dengan baik. Yuk, maju cantik ke bahasan berikutnya hohoho.

Judul cerita. Iya iya, saya sengaja tempatkan bahasan ini di akhir. Saya biasanya sensitif banget membahas keterkaitan antara judul dan isi cerita, mengingat banyak cerita lain yang judulnya ‘nggak nyambung’ sama konten ceritanya. Apalagi sama judul berbahasa Inggris untuk konten cerita berbahasa Indonesia.

Tapi,

Meskipun judulnya berbahasa Inggris, cerita ini termasuk nyambung, kok, sama ceritanya. Pemberian sub judul ‘Sejejak Langkah’ juga sudah tepat. Judul cerita ini seolah menegaskan mengenai pilihan di setiap kesempatan. Makna ceritanya juga nyambung sama makna judulnya. Soal cover, saya lebih suka cover terakhir seperti gambar di atas.

Belum bosan, kan, membaca review ini? Saya harap belum, karena masih ada bahasan lagi. Kali ini yang saya bahas adalah ‘aksesoris’ cerita.

Screenshot_2015-11-15-14-12-31

Tags, sebagaimana yang terdapat dalam gambar, biasanya digunakan untuk menentukan unsur-unsur dalam sebuah cerita. Tidak jarang penulis memborong banyak tags dalam sebuah cerita, tidak terkecuali cerita One Step. Teen fiction? Oke. Anger? Boleh. Angst? Di sini saya mengerutkan dahi.

Angst

Angst, often confused with anxiety, is a transcendent emotion in that it combines the unbearable anguish of life with the hopes of overcoming this seemingly impossible situation. Without the important element of hope, then the emotion is anxiety, not angst. Angst denotes the constant struggle one has with the burdens of life that weighs on the dispossessed and not knowing when the salvation will appear.

-Urban Dictionary-

Sependek pemahaman saya, angst itu lebih kepada proses yang dialami si karakter itu sendiri. Mari kita fokus kepada tokoh Vega. Berdasarkan sumber di atas dan beberapa sumber lain (What is Angst?   dan Angst Writing) yang saya baca, angst ini punya unsur-unsur tersendiri. Unsur horrible past? Ada. Unsur anxiecty? Ada. Suffering? Iya. Hopeless? Di mata saya, Vega tidaklah se-hopeless itu. Pada bagian ending pun, Vega jelas memiliki harapan. Setipis atau sekecil apa pun harapan itu, sudah tercantum jelas pada bagian ending cerita ini sehingga saya (secara pribadi loh ya) kurang setuju atas penempatan tag angst. Saya malah berpendapat, unsur tragedy lebih kental dalam cerita sehingga seharusnya tragedy-lah yang dicantumkan sebagai tag cerita ini. Menambahkan tag mystery dan dark juga tidak ada salahnya.

Well, singkat kata saya suka cerita One Step. Tipe cerita Teen Fiction yang patut diapresiasi. Narasinya oke punya. Cocok bagi penyuka cerita dark seperti saya hahaha. Semangat terus buat penulisnya a.k.a kak Shireishou. Saya tunggu karya-karya cetar kakak yang selanjutnya hohoho. Kalaupun novel One Step diterbitkan, saya insyaAllah beli! Hohoho

Nah. Sekian saja yang bisa saya sampaikan untuk Review One Step. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Segala saran untuk review ini akan saya terima dengan terbuka. Terima kasih bagi yang sudah mampir di postingan blog ini (:

Shelly Fw a.k.a @esfladys

Advertisements

2 thoughts on “Review Novel: One Step

  1. Halo, Kak Shel.
    Do u know me? Hahahah. Sulistyani, partnermu di event puisi ibu.

    Ternyata main wordpress juga toh. Berarti kita sama. Cuma bedanya, tulisanku banyak yang fiksi penggemar. Tapi aku bukan kpopers.
    Udah ah, gitu aja.

    Btw, aku dapet alamat wpmu dari wattpad. Dirimu menang lomba review ini kan, kak? Wkwk

    1. Shelly Fw

      Hai, Sulis 😀 Iya aku ingat kok. Masa lupa hehe

      Gapapa nanti aku mampir juga ah ke sana

      Wkwkwk iya nih Alhamdulillah 😀 hhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s