Rencana Mereka

RM-crpn

 

(terinspirasi dari film ‘Awake’ dan cerita novel ‘The Host’)

Bumi. Fana. Tempat manusia menjalani kehidupan. Dengan seluruh sumber daya alam dan juga sumber daya manusianya, kukira bumi akan selalu memiliki harapan untuk bertahan. Atau setidaknya, peluang itu akan selalu ada.

Kenyatannya tidak. Banyak juga yang justru mempersempit peluang itu sendiri. Sebut saja penggundulan hutan, monopoli persediaan air bersih, penimbunan sumber daya alam, pencemaran limbah, dan masih banyak hal-hal buruk serupa yang terjadi pada bumi ini. Peningkatan suhu serta mencairnya es-es di kutub yang—menurutku—dapat dikatakan sebagai bentuk ‘tangisan bumi’ juga seolah tidak menghentikan mereka yang tidak bertanggung jawab.

Mereka. Ketika kukatakan mereka, yang kumaksud adalah para petinggi dalam golongan yang disebut ‘Klorenh Eary’ (KE) atau yang dalam bahasa manusia adalah ‘penguasa bumi’. Mereka bertempat tinggal di planet luar bumi tepatnya Planet Tiares, dan tujuan mereka datang ke bumi hanyalah satu: mengambil sumber daya bumi yang nantinya akan mereka gunakan untuk planet mereka sendiri.

Ini benar-benar miris. Hal ini juga menimpa tetanggaku, Desy, yang kehilangan suaminya Mark, sewaktu Mark menyergap komplotan ‘Klorenh Eary’ di daerah Minasa. Setelah kejadian itu, menyusul berita bahwa pasukan penyergapan ketika itu menghilang tanpa kabar dan kuat diperkirakan bahwa Korps Pertahanan Bumi (KORHAB) yang melakukan penyergapan ketika itu telah diambil alih oleh Komplotan KE. Tidak ada harapan untuk menyelamatkan kelompok KORHAB karena dapat dipastikan mereka telah dicuci otak dan menjadi budak Komplotan KE. Dengan kata lain, untuk waktu yang akan datang mereka akan kembali hanya untuk melakukan tugasnya: mengambil hasil bumi sebanyak-banyaknya secara diam-diam dan terencana.

Itulah yang membuatku selalu khawatir terhadap adikku, Darren. Ia adalah mahasiswa di Universitas Yakama dan tahun depan adalah tahun kelulusannya.

Darren memanglah sudah dewasa, tapi bagiku ia tetaplah adik kecilku yang selalu kurindukan. Selain pintar, ia juga cerdas. Tak heran ia memiliki banyak teman dan juga tidak sedikit dosen-dosen yang sering mengajaknya berpartisipasi untuk melakukan penelitian.

Begitu pula dengan dua bulan yang lalu. Salah satu dosennya—aku lupa siapa nama beliau—mengajaknya sebagai asisten peneliti dosen tersebut melakukan penelitian terhadap masyarakat pedalaman Pulau Astarin yang belakangan terkena penyakit Chikuga serta kaitannya dengan ritual penghalau penyakit di sana. Awalnya aku tidak merasakan kejanggalan, sampai akhirnya berita mengejutkan itu terdengar.

Bahwa KORHAB kehilangan kontak dengan para penduduk Pulau Astarin dengan ditandainya Pulau Astarin yang kosong tanpa penghuni sama sekali.

Dan itu berarti Darren juga menghilang.

===

“Kak Mitha,”

“Ya? Kenapa kamu lemas begitu, Darren?” tanyaku pada Darren yang biasanya tersenyum.

Darren yang ketika itu murung hanya diam dan dikeluarkannya semacam botol kecil dari saku transparan. Warnanya yang kekuningan dan sangat kental membuatku mengerutkan kening.

“Apa itu, Darren?”

“Ramuan hasil percobaanku. Ini adalah ramuan yang dapat membedakan manusia dengan KE kalaupun manusia nantinya akan tertangkap oleh KE, ditandainya panas tubuh normal manusia dan darah yang dikandung akan tetap berwarna merah.” Darren berdeham sebelum melanjutkan, “Intinya, ramuan ini akan menyelamat manusia nantinya sekalipun para KE mengubah fisik manusia menjadi seperti mereka.”

Mulutku membulat dengan sendirinya. “Ini bagus, Darren! Kau harus memberitahu KORHAB mengenai hal ini! Apa sudah ada manusia yang mencobanya?”

Darren menggelengkan kepala. “Aku sudah mencobanya pada beberapa mamalia, namun ramuan ini masih sangat sulit untuk diproduksi banyak sehingga aku harus bekerja keras untuk memperbanyak ramuan ini sebelum memberitahu KORHAB. Dan untuk mempertahankannya, setidaknya manusia harus mengonsumsi ramuan ini empat bulan sekali dalam dosis yang pas. Berjaga-jaga lebih baik daripada terlambat.”

Aku menghembuskan napas, nyaris tidak sanggup berkata-kata. “Ini benar-benar ajaib. Aku bangga padamu, Darren.”

“Terima kasih, kak.”

Darren. Mimpi itu kembali. Mataku panas seiring rasa pedih yang menggerogoti. Darren. Kenapa kau cepat sekali menghilang? Kenapa?

“DARREEEEEEEEEEEEEEEEN!” Aku berteriak hingga bangkit dari ranjang. Tanpa memedulikan peluh yang membanjiri tubuhku, kupaksakan untuk berlari. Berlari untuk pulang. Berlari meninggalkan rumah sakit. Terdengar beberapa orang berseragam putih mulai menghampiri dan dua dari mereka memegangi kedua tanganku yang berontak, membawaku kembali ke ranjang sebelum sempat menjangkau pintu.

“Tahan dia!” perintah seorang wanita.

“LEPASKAN AKU! AKU MAU BERTEMU ADIKKU DARREN! DARREEEEEEEN!” isakku.

“Berikan aku suntiknya!”

Aku hanya bisa merintih ketika benda tajam menusuk kulit bagian lenganku. Sial. Kuat sekali pegangan mereka di tubuhku. Bukan hanya tangan, mereka juga menahan kakiku yang berontak hingga ranjang menyambut pungggungku.

Hal yang selanjutnya kutahu, aku disambut oleh kegelapan.

===

Semuanya terasa ringan. Rasanya sudah lama sejak aku tersadar dalam keadaan seringan ini.
Tunggu. Di mana aku?

Aku mencoba untuk membuka mata, tapi tidak bisa. Kedua kelopak mataku tertutup rapat. Seolah ada perekat di kelopak mataku, tapi sepertinya tidak ada.

Aku menangkap suara mesin yang tidak jauh di sekitarku. Mungkin itu mesin elektrokardiogram? Dari suaranya, terdengar stabil dan bisa kupastikan mesin itu sedang mencatat detak jantungku.

Itu artinya aku masih hidup! Tapi, kenapa aku bahkan tidak bisa menggerakkan jemariku?

Kucoba untuk menggerakkan bagian tubuh lain. Ah, kaki. Jemari kaki, mungkin?

Tidak. Ini tidak mungkin. Aku sadar. Aku sepenuhnya sadar. Mungkin aku belum bisa menggerakkan tubuh sekarang, tapi agaknya nanti bisa.

Bersuaralah, Mitha! Aku membatin. Kenyatannya aku gagal menemukan suara.

Ya Tuhan. Apa yang terjadi padaku?

Terdengar suara orang-orang yang memasuki ruangan ini. Dari suara langkah mereka, kutebak ada dua orang.

Hei! Tolong aku!

Seseorang berdeham. Kutebak ia wanita. “Mitha Sayers. Dua puluh tujuh tahun. Guru di SMA MARSHATH sebagai guru Ekonomi. Tidak ada riwayat penyakit serius.” Aku menunggu kata-kata selanjutnya dari wanita itu. Seingatku, aku pernah mendengar suaranya di televisi saat penyiaran konferensi pers dari pihak KORHAB mengenai penyergapan di Minasa. Itu artinya…

Aku berada di KORHAB! Aku berada di markas KORHAB dan bukan di rumah sakit lagi!

Aku tertawa dalam hati. Perasaan bahagia membuncah menyelimutiku. Ini berarti, selangkah lagi aku dapat memberitahu mereka tentang semua yang kutahu. Akhirnya!

“Belum menikah?” tiba-tiba seorang pria berceletuk demikian.

Si wanita—kini aku ingat namanya adalah Gianni—menghembuskan napas. “Tidak ada. Belum ada, Kyle.”

“Waw. Aku bisa mengencaninya ketika ia sudah sadar nanti.”

Aku hanya terfokus pada suara Gianni. Semoga ia terus berada di sini sampai aku benar-benar terbangun. Semoga. Jujur saja, aku mengaguminya sejak aku melihatnya di liputan tv ketika ia menggunakan seragam KORHAB dan memegang senjata. Bukan hanya Gianni, sejak saat itu aku sangat mengagumi KORHAB dan segala kerja kerasnya. Aku juga ingat ketika tim Gianni berhasil menangkap beberapa komplotan KE, tapi sayangnya para makhluk itu keburu bunuh diri sehingga tim KORHAB tidak sempat menginterogasi mereka. Bagaimanapun aku tetap mengagumi kinerja KORHAB. Untuk situasi saat ini, kutebak Gianni hanya mengawasi Ian sebagai dokter. Kalau benar begitu, aku akan mencaci maki Ian begitu aku tersadar nanti karena bius yang ia berikan tidak sepenuhnya bekerja padaku.

Aku begitu terkejut ketika Gianni menambahkan, “ketika Mitha menjadi bagian dari kita, tepatnya.”

Bagian! Itu berarti aku akan menjadi anggota KORHAB seperti mereka dan menyelamatkan Darren serta banyak manusia lainnya! Seandainya bisa menggerakkan tubuhku, aku akan langsung memeluk Gianni penuh haru.

“Kudengar adiknya yang bernama Darren ketika itu sedang melakukan penelitian di Astarin?” tanya Kyle yang tiba-tiba sudah berada di dekatku, entah melakukan apa.

Benar. Dan dia juga ke sana sekaligus untuk memperbanyak ramuan M Baeri-nya! Teriakku dalam hati.

“Mm ya. Itu juga yang menyebabkan Mitha selalu histeris ketika di rumah sakit, kurasa.”

Baiklah. Aku tidak akan histeris kali ini. Aku berjanji. Ketika aku terbangun nanti, aku akan mengendalikan diri. Aku berjanji, Gianni.

Terdengar bunyi peralatan ringan di samping tempat tidurku. Kutebak Kyle sedang memilah suatu peralatan di sana. Ayolah, Mitha. Aku harus segera sadar. Aku harus segera bangun. Aku harus menjelaskan info penting! Siapapun, lihatlah aku! Aku tersadar! Aku tidak dapat menggerakkan tubuhku, tapi aku tersadar!
Gianni menghembuskan napas lagi, kali ini cukup dekat denganku hingga hembusan napasnya terasa di kulitku. Sial. Aku belum bisa bergerak. “Sayang sekali, Mitha. Mulai sekarang kami terpaksa harus menghapus ingatan-ingatanmu selama kau hidup.”

Apa?

“Selamat datang di KORHAB, Mitha.” itu suara Kyle.

APA?

Terdengar suara peralatan ringan lagi—kujamin itu adalah semacam suntikan dan kali ini aku tidak akan membiarkan ujung suntikan itu menyentuh kulitku! BERGERAKLAH, MITHA! BERSUARALAH!

Kenyataannya aku tetap berbaring menyedihkan. Di sekitarku semakin banyak pergerakan sementara aku berjuang mati-matian untuk berontak.

“Cepat lakukan, Ian. Sebelum pengaruh biusnya habis.” perintah Gianni.

TIDAK! AKU TERSADAR! Pengaruh biusnya tidak cukup untuk membuatku tertidur sepenuhnya! Hei!

“Kau yakin?” tanya Ian kemudian. “Maksudku, kau bisa menodongkan senjata padanya dan mungkin kita akan memperoleh sedikit petunjuk,”

“Petunjuk apa? Bahwa dia masih merindukan adiknya?” tanya Gianni. Suara Gianni selanjutnya begitu tegas. “Cepat lakukan, Ian.”

TIDAK! HEI, JANGAN! Aku punya informasi penting untuk kalian! Adikku membuat ramuan yang bisa menyelamatkan manusia dan hanya aku yang tahu mengenai ramuan itu!

“Baiklah.” suara Kyle kali ini teredam oleh masker yang agaknya ia pakai sekarang.

Kyle! Tolong aku! Aku tersadar dan aku punya informasi penting untuk kalian!

Rasanya otot-ototku seperti lumpuh. Kurasakan benda tajam menyentuh dan menembus kulitku.

Maafkan aku, Darren. Aku tidak bisa menyampaikan pesanmu. Kakak mencintaimu.

Teganya kalian! Teganya kalian!

“Kakak tahu kenapa aku menamainya M Baeri?” tanya Darren dan kujawab Baeri adalah suatu daerah tempat ia pertama kali membuat ramuan itu. Ia tertawa. “Maksudku huruf M. M adalah Mitha. Ramuan ini aku dedikasikan untuk kakak.”

Aku tidak akan tersadar lagi… aku tidak akan ingat Darren atau apapun lagi. Ah, Darren. Satu-satunya keluargaku yang kupunya sejak aku berumur lima belas… satu-satunya orang yang kusayang…

“Ini helm-nya.” ujar Gianni kemudian.

Semua bagian tubuhku masih lumpuh. Aku bergeming ketika benda semacam helm medis dipakaikan di kepalaku.

Kyle mengucapkan sesuatu tanpa bisa kudengar.

Darren… Aku hanya berharap Darren tidak menjadi musuhku ketika aku bekerja sebagai KORHAB nanti.

Kudengar Mitha mengatakan sesuatu dan sialnya aku tidak bisa mendengarnya. Kurasa aku akan kehilangan kesadaran dan ini adalah terakhir kalinya aku tersadar. Sebagai Mitha Sayers.

Kakak akan selalu menyayangimu, Darren!

Hei! Bukan ini yang kuinginkan! Ini adalah usaha terakhirku untuk memberontak dengan menggerakkan tubuh, tapi kemudian aku justru ditelan oleh kegelapan. Jurang kegelapan.

Tidak hanya ditelan oleh kegelapan, isi kepalaku serasa disengat begitu hebat.

 

 

-cerita ini diikutsertakan dalam Lomba Cerbul Kasfan Desember 2015 (tidak menang sih, sekadar informasi saja :v masukannya ditunggu!)-

Advertisements

3 thoughts on “Rencana Mereka

  1. Konfliknya bagus, tapi kerasa terburu-buru di alur, dan ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab. KE ini alien? Terus, ini settingnya di mana? Mitha pekerjaannya apa? Kenapa dia ada di KORHAB?

    Sekian dulu, sih. :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s