Review Novel Insecure

REVIEW NOVEL INSECURE

 

Insecure cover

 

 

Judul                          : Insecure

Penulis                       : Seplia

Penerbit                     : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal                          : 240 halaman

Terbit                         : Mei 2016

 

 

Sinopsis:

– Zee –
Jangan menatap luka dan memar di tubuhku.
Jangan berani bertanya apa yang terjadi.
Menjauh saja dariku.
Hanya dengan begitu, aku merasa aman.

– Sam –
Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna, setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang.
Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!

Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.

Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama.

Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

 

 

Singkat cerita, saya mendapatkan novel Insecure dari event giveaway via twitter kak Lia bulan Mei lalu (alhamdulillah). Seperti biasa, novel-novel giveaway yang saya dapatkan saya anggap sebagai ‘utang’ yang akan saya lunasi, entah itu dalam bentuk pemberian bintang di situs goodreads atau review. Sebelumnya, izinkanlah saya untuk berterima kasih dulu pada mbak Seplia serta mbak Michelle Maria yang telah mengirim novel Insecure ini.

 

 

Biasanya saya bahas judul dan cover terlebih dulu, tapi kali ini fokus saya bukan kedua hal itu. Ada hal yang lebih menarik lagi yaitu tagline cerita ini: Andai Aku Lebih Berani. Kenapa saya bilang menarik? Karena tagline inilah yang menjentikkan rasa penasaran saya. Tagline yang memunculkan pertanyaan seperti, ‘wah, sesuram itukah ceritanya?’ atau ‘seberapa insecure sih?’. Kalau novel lain mungkin dirasa cukup dengan hanya menyuguhkan judul, cover, serta sinopsis untuk menarik pembaca, tapi novel ini beda. Punya tagline yang khas. Dan saya suka. Eit, jangan salah. Bukan berarti saya nggak suka judul dan sampul cerita ini. Hanya saja menurut saya judul, cover, serta tagline novel ini adalah kombinasi yang sempurna untuk menegaskan kesan gloomy dalam cerita ini.

Sampai pada bab dua, saya benar-benar terenyak. Ternyata oh ternyata. Novelnya tidak sesuram yang saya kira! (sfx: jeng jeng jeng jeeeeeeeeeeeeeeeeng). Bukan berarti saya kecewa loh ya, tapi memang ternyata pengenalan karakter di novel ini dikemas dalam cara yang unik dengan dibumbui unsur komedi. Unsur komedi (yang ajaibnya) terkesan natural dan pas sebagai bumbu cerita. Unsur komedi yang seperti apa? Selengkapnya akan dibahas pada bagian karakter. Selebihnya, ke-gloomy-an cerita ini memang semakin kental seiring permainan alur. Salut untuk alur yang rapi dan nggak bertele-tele. Pokoknya, nggak ada alasan buat saya untuk nggak menikmati cerita Insecure. Terutama dengan gaya bahasa yang ringan nan berbobot.

 

Tibalah saya membahas mengenai karakter. Ada Sam Alqori, the “it” boy yang hobi terlambat dan doyan tidur di kelas, Zee Rasyid yang cerdas dan manis, dan Vini yang… apa, ya? Saking saya ngefans sama Vini saya malah speechless begini. Hahaha. Beneran, deh. Vini juga cerdas, sih, tapi karakter Vini yang paling melekat di pikiran saya adalah kecerewetannya yang berbobot dan khas. Tipe cerewetnya Vini ini juga memiliki selera humor yang saya suka.

 

Saat melajukan motor melewati melewati aula tatapan gue masih ke arah Zee sampai Vini memukul bahu gue dengan kasar dan bilang, “Lihat jalan! Lo mau kirim gue ke kuburan?” – hlm. 16

 

Vini datang ke meja kami lalu memberikan Sam satu formulir itu. “Ambil nggak lo?!” katanya setengah berteriak. “Atau gue pukul pantat lo sampai tepos.” – hlm. 20

 

Ada juga dialog Vini yang menyentuh hati saya.

 

“Begitulah kalau kita sudah cinta dan sayang sama seseorang, logika jadi tumpul. Kalau lo cinta sama seseorang sampai merasa sakit seperti ini, berarti lo beneran sayang sama orang itu. Lo nggak mau meninggalkan Mama lo bukan karena utang budi telah membesarkan dan merawat lo, melainkan karena lo emang sayang.” – hlm. 126

Hiks. Vini ternyata bijak juga, saudara-saudara.

 

Dari segi sudut pandang, novel Insecure ini memang memakai sudut pandang kesatu untuk karakter Zee dan Sam secara bergantian. Kata ganti ‘aku’ akan muncul dalam narasi dari sudut pandang Zee, sedangkan kata ganti ‘gue’ akan muncul dalam narasi dari sudut pandang Sam. Nggak ada masalah sih soal pergantian sudut pandang ini. Zee dan Sam yang sama-sama berada dalam fase ‘mencari jati diri’ dengan pergolakan batin yang sedemikian rupa dapat membawa saya terhanyut sekaligus baper. Oya. Bagian yang paling membuat saya baper adalah ketika Sam menyerahkan gelang Zee pada saat Zee tengah dianiaya oleh ibunya. Bola mata saya nyaris keluar pas baca (alias melotot). Serius. Kalau bagian favorit saya itu pas Zee mengantar Sam mengurus SKCK dan menjalani tes kesehatan.

 

Gue dan dia tuh kayak mau pergi kencan. Sayangnya kencan kami harus di kantor Polsek. Lalu berakhir di rumah sakit. – hlm. 151

 

Kenapa favorit? Karena Sam mengakui dirinya dan Zee itu memang cocoknya menjalani kencan alias pacaran. Ihiy! Di bagian itulah saya senyum-senyum sendiri, pemirsa. Apalagi tempat ‘kencan’ mereka di kantor Polsek dan rumah sakit (geleng-geleng kepala cantik).

 

Sehabis bicara karakter biasanya saya bahas plot. Ada yang janggal sih sebenarnya mengenai plot ini. Aneh aja waktu baca bagian Sam yang mergokin gelang Zee di pergelangan tangan cowok di ruang ganti sekolah. Kok harus di pergelangan tangan cowok, ya? Lalu, kenapa tu cowok ngambil gelang cewek gitu aja? Seperti menemukan akibat tanpa sebab. Hm. Tapi kalau tujuan penulis itu untuk nunjukkin Sam ini tipe cowok yang cukup disegani oleh murid-murid lain (karena si cowok ini langsung menyerahkan gelang milik Zee itu pada Sam setelah Sam menggertaknya) ya saya rada maklum, lah. Mudahan aja tebakan saya benar. Hoho. Sisanya dapat saya nikmati. Dari segi konflik pun matang. Saya bilang matang karena memang konfliknya terkesan real. KDRT. Menghadapi Ujian Nasional. Bimbang menentukan masa depan. Semuanya nggak muluk-muluk. Eksekusi konfliknya? Semua saya suka.

 

Selanjutnya, latar/setting. Tidak disebutkan kota yang menjadi latar cerita ini, tapi selebihnya (penjelasan setting suasana, waktu, bangunan, dsb) sudah cukup oke. Latar yang paling aku suka adalah penggambaran kedai mi ayam milik ibunda Sam. Sederhana. Rapi. Hangat. Dan bikin ngiler! Haha.

 

Nah. Sebelum saya menyampaikan penutup ulasan ini, izinkan saya bernarsis ria dengan novel Insecure. Haha.

 

 

 

image
Anggap aja gelang saya itu mirip dengan gelang milik Zee xD Hahaha

 

 

 

 

Well, secara keseluruhan saya jelas suka novel ini. Bintang dari saya 4/5. Sukses terus ya, kak Lia. Bersama ini juga saya mengajak kawan-kawan untuk mengikuti lomba Insecure Review. Hadiahnya kece, lho.

 

CmPLKrkUYAAiLXO.jpg

 

 

 

 

Akhir kata, terima kasih telah membaca review saya. Mohon maaf apabila ada kekurangan. Segala kritik dan saran atas ulasan ini saya akan terima dengan senang hati.

 

 

-Shelly Fw-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s