Ulasan Novel Salah Asuhan dan Berbagai Nilai yang Tak Pernah Padam

 

 

Salah_Asuhan

 

Judul : Salah Asuhan

Karya : Abdoel Moeis

Penerbit : Balai Pustaka

ISBN : 979-407-064-5

Bahasa : Indonesia

Tahun Terbit : 1928

DESKRIPSI :

Salah Asuhan terbit pertama kali di Balai Pustaka tahun 1928. Secara tematik, novel ini tak lagi mempermasalahkan adat kolot yang tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi coba mengangkat tema pernikahan antarbangsa yang menimbulkan banyak persoalan.

REVIEW:

Ada berbagai hal yang membuat saya terpanggil untuk membaca dan memahami isi novel Salah Asuhan karya almarhum Abdoel Moeis ini. Pertama, karena dari segi usia saya cukup memadai untuk mencerna dan mengerti substansi novel ini (mengingat banyaknya kandungan unsur sastra berbau Melayu sekaligus juga diselingi istilah-istilah Belanda). Kedua, tema yang diusung yaitu tentang pernikahan antarbangsa dirasakan dapat memprovokasi nilai-nilai yang pada masa itu dirasakan bernuansa nilai-nilai adat yang kolot. Ketiga, adanya konflik persepsi individu yang bermuatan aspek psikologis dari figur yang diperankan para tokohnya. Apabila saya berkesempatan membaca buku ini semasih SMP atau SMA, mungkin saya nggak mudeng atau bahkan repotnya lagi malah bisa langsung mengantuk ketika berusaha membacanya. Haha.

Novel ini memiliki paragraf pembuka yang sederhana, mencerminkan situasi serta realita yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, dan memikat.

Tempat bermain tenis, yang dilindungi oleh pohon-pohon ketapang sekitarnya, masih sunyi. Cahaya matahari yang diteduhkan oleh daun-daun di tempat bermain itu, masih keras, karena dewasa itu baru pukul tengah lima petang hari.

Pada bab pertama pembaca akan langsung dikenalkan pada tokoh Hanafi dan Corrie de Busse yang tengah bercakap-cakap di bawah pohon serta membawa pembaca pada situasi bernuansa romantika namun juga mengandung problematika.

“Bila di dalam segala buatan, kita harus bertanya lebih dahulu kepada orang lain, apakah timbangan atas perbuatan itu, meskipun perbuatan itu tidak mengganggu kesenangannya, niscaya akan menjadi berat kehidupan manusia, Corrie.” – Hanafi

”Itu benar, Han! Tapi pada segala pekerjaan ada batasnya. Maka adalah pekerjaan atau perbuatan yang luar biasa, yang tiada galib dilakukan orang, sedang pekerjaan yang disangka tidak mengganggu kesenangan orang lain itu pun boleh jadi akan melanggar peri kesopanan.”- Corrie

Dari cuplikan ini sudah bisa terlihat bahwa baik Hanafi maupun Corrie termasuk dalam tipe orang yang begitu pragmatis. Tak heran hal ini membuat karakter tokoh Hanafi dan Corrie terlibat persahabatan secara akrab sejak kecil sekaligus menjadikan mereka menemukan kesesuaian (klik) satu sama lain. Terlebih, pendidikan ala Eropa yang diperoleh Hanafi selama ia di Betawi memudahkan Hanafi untuk bergaul dengan orang-orang Belanda, termasuk gadis keturunan Indonesia-Belanda, Corrie de Busse.

Perjalanan romantika mereka awalnya memang berjalan mulus namun dalam proses selanjutnya menemui beberapa bibit-bibit yang dapat menimbulkan konflik yang cukup kompleks. Jalan cerita selanjutnya memunculkan tokoh ibu dari Hanafi (Mariam) yang bersikeras untuk menjodohkannya dengan Rapiah, anak dari kakak kandung Mariam. Dari dialog di bawah ini, dapat kita tangkap bahwa Hanafi kurang setuju dengan gagasan ibunya itu. Itulah titik di mana saya sebagai pembaca merasa konflik mulai terasa ‘hidup’.

"Rapiah memang bersifat sabar. Asal engkau tidak menyia-nyiakan, sekadar engkau harik dan bengisi saja, tentu ia takkan menghilangkan sabarnya, Hanafi! Sebutir intan yang belum digosok sudah Ibu sediakan untukmu, baiklah engkau percaya pada ibumu." - Mariam

”Ah, ya, Bu, sudah berapa kali saya berkata, bahwa saya kaku berhadapan dengan orang-orang serupa itu. Tidak tentu saja apa yang akan dituturkan.” - Hanafi

Selanjutnya dari alur cerita mulai muncul suatu dinamika yang menjadikan berbagai kemungkinan kelanjutan sikap Hanafi dalam menghadapi perjodohan dengan Rapiah. Dalam situasi ini Hanafi dihadapkan pada situasi yang dilematis. Di satu sisi ia tidak merasa cocok dipasangkan dengan sesama golongan bumiputra, di sisi lain terdapat kewajiban menyangkut hubungan baik dengan keluarga Rapiah yang telah berjasa menyekolahkan dan menanggung kehidupan Hanafi selama ia menempuh pendidikan ala Eropa di Betawi. Belum lagi perihal adat Minangkabau yang mana menghendaki si laki-laki menerima si perempuan, bukan sebaliknya. Adapun pertimbangan Hanafi yang lain yaitu Corrie yang baru saja meningalkan Hanafi di Solok menuju Betawi bersama sang ayah.

Meskipun alur cerita dari novel ini dirasakan cukup berliku dan terkesan lambat, hal ini dikarenakan dalam situasi yang kritis seringkali dimunculkan hal-hal di luar dugaan sehingga menjadikan kondisi semakin pelik namun itu menjadi dinamika dan kekuatan karakter setiap tokoh. Berdasarkan hal tersebut saya pribadi cukup dapat menikmati Salah Asuhan sebagai karya yang layak untuk dibaca karena mengandung unsur-unsur emosional para tokohnya yang tentu hal tersebut dapat memberikan bobot begitu kuat atas kualitas suatu karya sastra.

Cerita ini secara keseluruhan banyak diwarnai dengan rangkaian dialog yang nampaknya cukup dapat memberikan warna tersendiri bagi alur cerita. Karena dengan demikian bisa dimunculkan perjalanan konflik psikologis para tokoh sehingga dominasi dialog dengan kejelian sang penulis bisa menjadi andalan untuk menggiring persepsi para pembaca. Dengan demikian saya pribadi tidak mempermasalahkan kuantitas dialog yang dimunculkan, karena dari kuantitas dialog yang cukup banyak sudah cukup untuk memberi kualitas tersendiri untuk karakter para tokoh. Dari sekian banyak dialog, saya pribadi memberikan apresiasi khusus pada isi dialog antara Hanafi dengan ibunya. Mengapa demikian? Karena dialog tersebut menunjukkan bahwa Hanafi pada dasarnya menghargai dan menyayangi ibunya, Mariam.

 

”Baiklah, Bu! Selesaikan oleh Ibu. Padaku tak ada kehendak, tak ada cita-cita. Hanya patutlah Ibu menjaga supaya jangan berubah aturan dahulu; bukan kitalah yang datang, melainkan dia. Perlu dijaga serupa itu, buat masa yang akan datang. Sebab perempuan itu tak akan dapatlah mengharap liefde dari padaku. Kuterima datangnya karena plicht saja." - Hanafi

liefde = cinta

plicht = tugas/kewajiban

Sayangnya, sosok Hanafi lebih mementingkan segi ego dibandingkan segi nurani. Hal tersebut kentara ketika Hanafi meninggalkan Mariam, Rapiah, dan juga Syafei (anak kandung Rapiah dan Hanafi) dengan bertolak ke Betawi dengan tujuan bukan hanya untuk melanjutkan pekerjaan, tetapi juga untuk menyusul Corrie. Dengan status Hanafi yang kemudian dinyatakan memiliki persamaan hak dengan orang-orang Belanda, pernikahan antara Corrie dan Hanafi pun dilangsungkan.

Pengambilan latar waktu dalam abad 19 serta latar tempat cerita antara lain di Kota Solok, Betawi, Semarang, dan beberapa tempat lainnya adalah langkah yang dapat mengungkap keterlibatan korelasi budaya dari masing-masing lokasi. Hal ini cukup tepat untuk ditampilkan dalam cerita yang nampaknya ingin menampilkan keberagaman adat dan budaya setempat sebagai aspek yang terkait dengan konflik yang akan dijadikan muatan cerita. Hal tersebut pula berpengaruh pula terhadap kepribadian Hanafi di mana saat menetap di Solok dengan saat ia menetap di kota besar seperti Betawi (Jakarta).

Mengenai diksi cerita, dapat disebut sebagai unsur penyajian cerita yang dapat mempertegas bobot alur cerita dan dialog. Hal tersebut terlihat antara lain dengan munculnya beberapa istilah Belanda yang memang ketika itu penduduk bumiputra melibatkan istilah-istilah tersebut dalam percakapan sehari-hari. Namun pula terdapat beberapa istilah asing yang seharusnya diperjelas dalam catatan kaki, contohnya pengertian liefde dan plicht (pengertian dua kata tersebut di atas saya ambil dari Google Translate). Secara umum nampaknya dapat dipahami inti keseluruhan alur cerita namun bagi saya untuk diksi yang paling menyentuh persepsi pembaca adalah diksi menjelang akhir cerita.

Barangkali masih banyak jalannya buat memperbaiki mana yang rusak, buat mengobati mana yang luka. Walaupun kerusakan atau luka itu kelak akan meninggalkan cacat, asal ia menjadi sembuh, sempatlah engkau memulai pula kehidupan baru. Jika hati belum aman, kehidupan pun tidak akan teratur, sia-sialah hidup serupa itu.

Mengakulah Hanafi, bahwa ilmu sekolah itu saja masih jauh daripada cukup buat perkakas hidup, bila pengetahuan dari bangku sekolah itu tidak disertai oleh faham.

Tak lupalah Hanafi, bahwa sifat-sifat ketimuran yang dikandungnya di dalam batin, tidak akan hilang oleh karena asuhan, karena sifat-sifat kebatinan itu seolah-olah sudah diminumnya dengan air susu ibunya dan sudahlah menjadi darah daging baginya.

Dan sifat-sifat kebatinan itu sudah benar akan disatukan dengan kebatinan orang Barat, karena banyaklah yang berlainan di dalam perasaan. Umpamanya tentang berkaum keluarga saja. Bagi orang Timur adalah menjadi kegemaran buat tinggal berkumpul-kumpul serumah dengan kaum keluarganya, meskipun ia sudah bersuami atau beristri.

Perlu diakui banyak hal-hal yang ternyata di luar dugaan yang dimunculkan di saat situasinya terasa kritis dan dilematis. Hal itulah yang menjadi ciri dan keunggulan Abdoel Moeis dalam merangkai cerita Salah Asuhan. Selain itu, dapat dijumpai beberapa pesan moral yang dapat dijadikan cerminan dan pedoman dalam menghadapi problema kehidupan. Salah satunya agar kita berhati-hati, cermat, dalam bersikap dan bertindak serta menentukan pilihan agar kelak di kemudian hari dapat terhindar dari berbagai situasi yang pelik. Tidak hanya menyangkut hal-hal yang sifatnya pribadi, tapi juga menyangkut kepentingan lain yang pada kenyataannya akan saling kait-mengait misalnya kepentingan keluarga, adat, hukum, agama, dan masa depan kehidupan. Sehingga cerita Salah Asuhan ini memuat pesan dan hikmah yang bernilai universal sekaligus kekal untuk dapat dijadikan cerminan ataupun pedoman untuk kita semua. Tentunya juga dengan mengutip peribahasa bahwa kita hendaknya jangan seperti ‘kacang lupa kulitnya’ sehingga dalam menjalani romansa dan dinamika kehidupan hendaknya kita juga memperhatikan dan memprioritaskan kepentingan keluarga kita, bukan hanya mengedepankan ego dan status pribadi semata karena walau bagaimanapun kita tetap sebagai orang timur yang senantiasa selalu menjunjung tinggi nilai-nilai sosial serta adat yang berlaku di lingkungan kita.

Terdapat hal yang perlu dicermati sebagai nilai tambah dalam cerita ini yaitu dengan menampilkan cerita sebagai fokusnya pada ‘akibat salah asuhan’ yang dialami dalam perjalanan hidup pribadi Hanafi. Selain dari itu, novel cerita Salah Asuhan menunjukkan pada pembaca bahwa ‘salah asuhan’ tidak hanya dipicu dalam lingkup keluarga saja, namun dapat dipengaruhi dari berbagai aspek antara lain faktor lingkungan. Baik lingkungan yang menyangkut interaksi pribadi maupun masyarakat sehingga perjalanan hidup tokoh Hanafi merupakan perpaduan antara berbagai aspek antara lain pribadi keluarga, pendidikan, status, lingkungan, masyarakat, hukum, serta cinta. Nilai-nilai inilah yang juga menjadi nilai tambah Salah Asuhan tanpa sedikit pun mengedepankan nilai satu dan mengenyampingkan nilai lain, tetapi justru merangkap semua nilai tersebut secara keseluruhan.

Sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘asuhan’ dapat berarti bimbingan atau juga didikan. Dikaitkan dengan makna novel Salah Asuhan, saya pikir cukup relevan adanya. Konsep pemahaman ‘Salah Asuhan’ juga nampaknya perlu dipahami secara komprehensif dari berbagai sudut pandang yang berbeda sehingga akan memunculkan hal yang sangat menarik serta menggugah keingintahuan para pembaca sekaligus dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait dengan aspek kehidupan. Singkat kata, novel Salah Asuhan merupakan karya yang bernilai sebagai karya sastra dengan peranannya yang monumental dalam perjalanan kesusastraan Indonesia.

Akhir kata, dengan berbagai pertimbangan menyangkut aspek keunggulan dan kekurangan nampaknya novel Salah Asuhan dapat saya berikan apresiasi dengan angka 4,5/5. Sekian review dari saya, tentunya dengan tidak melupakan semboyan yang tertuang dalam peribahasa ‘tiada gading yang tak retak’ yang artinya kurang lebih tidak ada yang sempuna di dunia ini secara utuh. Mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan atas segala kekurangan review ini.

 

20 Juli 2016

-Shelly Fw a.k.a esfladys-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s