Review Novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

29068175

Judul : Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

Penulis : Suarcani

Penerbit : Jendela O’ Publishing House

Rating on Goodreads : 3.92/5

Rating dari Shelly Fw : 4.5/5

Sinopsis : Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan.
Tapi kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku.
Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk kemudian kembali meremukkanku dalam ketakutan.
Aku butuh jalan, butuh mata kompasku. Apakah kamu bisa membantuku menemukannya?
Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.

===

Apa artinya kebebasan ini jika pada akhirnya aku kembali dipenjara oleh ketakutan? – hlm. 14

Dari kutipan di atas, bisa kita ambil pemahaman bahwa konflik dominan dalam cerita ini adalah Man vs Self. Dikisahkan Ravit yang baru saja bebas dari penjara berjuang melawan kenangan buruk sekaligus ketakutannya sendiri. Berbagai cara ia lakukan, termasuk juga berpetualang.

Ravit bukan hanya mengalami petualangan lahir, tapi juga petualangan batin. Saya sebagai pembaca juga seolah benar-benar mengalami kedua petualangan tersebut dan rasanya sayang kalau membaca cerita ini tanpa membuka pikiran dan hati (ini serius). Penuh renungan, penuh hal yang bisa dipetik maknanya.

Karakter Uci sebagai tour guide sekaligus rekan Ravit juga terbangun dengan baik. Cukup dewasa dan tegas. Satu hal yang paling saya suka, Uci ini sangat bijak. Inilah kutipan dari dialog Uci:

“Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dicari jawabannya. Kadang, jawaban itu akan muncul sendiri jika waktunya tepat.” – hlm. 87

 

“Masa lalu, tidak perlu kita bawa hingga mati, Ravit.” hlm. 180

Oya. Riset cerita ini juga tampaknya memang nggak main-main. Penggambaran latar, budaya, serta atmosfer Bali begitu kental dan memukau. Begitu dekat dengan kegiatan sehari-hari. Boleh dong saya bilang ini semacam realistic fiction? Cerita ini pun tidak hanya memiliki sisi gelap, tapi juga sisi terang, sisi suci, sisi abu-abu, dan sebagainya. Diksi yang ringan juga dapat dengan mudah dicerna. Nggak akan nyesel deh, bacanya hehe. Sulit juga menentukan bagian favorit cerita saya dalam novel ini karena semua bagiannya memiliki makna masing-masing dan berkesan di hati saya sebagai pembaca. Hehe. Untuk peringkat, saya beri 4,5/5 🙂

Terima kasih sudah menulis novel yang amat berkesan ini, kak Suarcani 🙂 :*

 

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s