Review Novel Purple Eyes

29860681

Judul : Purple Eyes

Penulis :  Prisca Primasari

Penerbit : Inari

Rating on Goodreads : 4.13/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis:

“Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

===

“Mereka memandangi saya karena saya tampan,” kata Hades tenang. “Bukan karena saya aneh.” – hlm. 16

Oke. Jadi novel ini menceritakan tentang Dewa Kematian bernama Hades dan asistennya, Lyre, yang turun ke bumi demi menunaikan sebuah tugas terkait peristiwa pembunuhan berantai dengan sebuah ciri khusus yaitu menyisakan korban-korban tanpa organ lever. Dan untuk menyelesaikan tugas mereka, orang yang harus mereka temui lebih dulu adalah Ivarr.

Nah. Quote di atas itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh Hades di hari pertama ia dan Lyre turun ke bumi.

Duh. Beneran, deh. Karakter dewa Hades di novel PE ini bikin geregetan. Sekaligus memorable juga sih, karena memang pada dasarnya semua karakter tokoh ciptaan Kak Prisca selalu seperti itu. Ditambah peran Lyre (yang menggunakan nama ‘Solveig’ selama ia berada di bumi) serta Ivarr Amundsen, novel ini sukses menarik simpati saya sebagai pembaca.

Pembaca yang lain mungkin sangat menyayangkan karena novel ini begitu tipis, tapi saya tidak. ‘Ramuan’ ala Kak Prisca ini justru patut diapresiasi karena meski ceritanya nggak memakan banyak halaman, tapi tetap padat konflik dan asik diikuti.

Oya. Soal konflik, ini tipe konflik man vs fate. Lyre yang perlahan-lahan jatuh cinta dengan Ivarr terhalang oleh takdir bahwa Lyre tidak lagi hidup sebagai manusia, sedangkan Ivarr adalah manusia. Keduanya jelas berbeda.

Lalu, bagaimana eksekusi cerita ini?

Kita akan dihadapkan pada misteri, teka-teki, pahit-getir, kelam-suram, serta bumbu manis dalam interaksi Lyre dan Ivarr. Tugas Lyre semakin sulit ketika Ivarr merasa nyaman dengan Lyre. Ada yang begitu unik di antara mereka berdua. Yaitu ketika Lyre memakaikan mantel pada Ivarr dan puisi yang Lyre tulis tentang Ivarr. Dan. Puisinya. Sangat. Indah. >,<

Ternyata oh ternyata. JENG JENG JREEENG … Seni dalam mengambiljudul Purple Eyes diangkat dari elemen cerita, di mana … uhuk, kasih tahu nggak ya? –ketawa jail- pokoknya ‘Puple Eyes’ ini menggambarkan fisik Ivarr gitu loh. Ada satu elemen lain, tapi baiknya itu jadi kejutan buat yang belum baca PE ehehehehe.

Memang ada banyak kejutan di PE, terutama bagian ending. Bagian itu juga yang membuat saya menitikkan air mata (serius). Kalau soal latarsaya rasa nggak ada masalah. Karya Kak Prisca selalu all out bahkan dalam menulis latar Norwegia. Salut!

Omong-omong, bagian favoritku adalah ketika Ivarr membalas surat Lyre. Perasaanku campur aduk di situ. Kalau kamu?

 

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s