Mari Menunggu Hujan

Aku tahu kalian tidak takut hujan pun kebasahan. Tak pula mengkhawatirkan gemuruh petir yang menggelegar.

Tapi aku tahu, kebanyakan dari kalian mungkin takut akan akibat hujan. Jadi demam, berhalangan ke tempat kerja, lalu pencarian nafkah demi keluarga tercinta pun terhambat. 

Atau takut kebanjiran. Sayang rasanya bila istana tempat bernaung dan bersantai dipenuhi air yang menggenang.
Ah, kotor. Bagi pencinta kebersihan, tak heran kalian memberengut mendapati rambut yang baru tadi pagi kalian cuci terkena titik-titik air dari langit. 

Serta bagi kaum pencari ilmu, yang amat mengharapkan setidaknya langit tak sedang menangis.

Tapi, tidak bagi mereka pencinta aroma hujan. Yang selalu menikmati bau itu, tak jarang berujung karya pada catatan. 

Sayangnya, hujan tidak pilih tempat. Bisa datang kapan saja, di mana saja, saat apa saja.

Nah. Mari lupakan semua itu sejenak. Hei, kaum pedestrian, kemarilah dan bernaung di bawahku. Percuma kalian berjalan tanpa perlindungan tubuh serta kepala. 

Wahai pengendara roda dua, apa sulitnya menepi tepat di bawahku sejenak dan memakai jas hujan kalian? Setidaknya, tunggulah hingga cuaca agak bersahabat.

Bahkan, aku tidak melarang siapa pun untuk berlindung di bawahku. Aku adalah tempat berteduh. Aku dibuat untuk kalian. Terutama untuk melindungi kalian semua. Apa hakku melarang? Aku dapat berdiri kokoh di sini dari kalian, untuk kalian.

Merapatlah. Di luar sana, akan ada semakin banyak orang datang. Berilah ruang untuk mereka juga. Aku tidak dibuat hanya untuk satu orang saja. 

Jadi, marilah menunggu bersama hingga sang hujan reda. Sang tamu dari langit yang bertandang sesekali, untuk membasahi rumput-rumput dan menguarkan aroma menenangkan. Memangkas debu dan bau asap. Tak jarang ia membawa serta tamu istimewa–sang pelangi. 

Percayalah, kesemua itu menyimpan makna dan keindahan masing-masing. Buka mata dan pikiran kalian lebih lebar. Buat indra-indra kalian mencicipi keelokan itu. Bagian dari kuasa-Nya.
Sekali lagi, jangan lupa. Aku ada, untuk kalian.

-Shelly Fw, 26 Feb 2017-

Note : Trims untuk Jarot yang sudah memberikan tema puisi ‘berteduh’ 🙂 hope you like this one 🙂 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s