Cerita Pendek: Pertunjukan Bustam – Shell Fiand

Bustam

 

Anak itu berlari. Setiap pijakan dan hentakan membuatnya semakin menjauhi desa, mendekati hutan lebat di sebelah barat. Dari jarak puluhan meter, terlihat asap keabuan menodai lembayung senja. Mengotori semburat jingga nan jelita.

Jantung anak itu takkan berdetak tak beraturan seandainya ada orang lain yang memadamkan api ganas itu. Tubuhnya takkan berkeringat dingin seandainya ia tak berlari sendirian di antara pohon-pohon jati yang menjulang.

“Kebakaran! Kebakaran!”

“Bagaimana ini? Ketika aku mendekati hutan luar tubuhku bahkan terpental. Kami semua terpental.”

“Tidak ada yang bisa memadamkan kebakaran itu.”

“Bustam pasti bisa!”

“Ya, anak itu pasti bisa.”

“Tolong kami, Bustam. Desa ini membutuhkanmu untuk memadamkan api itu.”

“Hutan luar membutuhkanmu, Bustam.”

Segala yang berada di hutan luar mengingatkan anak itu pada mendiang sang ibu. Dari tanah, dedaunan, bunga, bahkan sampai aliran sungai. Warga desa menyebut wilayah tersebut sebagai hutan luar karena tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa memasuki wilayah itu. Setidaknya hanya ada dua orang yang bisa memasuki, memanfaatkan tanaman, dan mengenal wilayah itu dengan baik; Bustam dan mendiang ibunya, Sadirah.

Masuk ke hutan luar sebenarnya mudah. Susuri jalan ke arah barat dan kau akan menemukan tanah yang landai. Turun saja terus hingga kau menemukan tanah yang lebih subur, maka kau telah sampai di hutan luar.

Satu hal yang istimewa dari wilayah itu adalah dedaunan dan bunga-bunga yang jarang didapati di wilayah lain. Daun Engkek untuk bahan utama ramuan obat penyakit luar, akar Bunga Siloam untuk obat penyakit dalam, Bunga Liasan untuk menjaga kelembapan kulit, dan masih banyak lagi. Dulu, Sadirah sering pergi ke sana untuk menolong warga desa. Ia bahkan bersedia membuatkan ramuan-ramuan dengan sukarela, tapi warga desa selalu tak pernah merasa cukup hanya dengan mengucapkan terima kasih. Mereka memberi Sadirah pakaian, menu hidangan yang enak, meminjamkan kuda, dan lain sebagainya. Sejak wanita itu meninggal, rutinitas Sadirah diteruskan oleh Bustam, tapi seiring waktu, warga desa menemukan berbagai tanaman lain yang memiliki khasiat kurang lebih sama seperti tanaman-tanaman di hutan luar. Mereka bilang, mereka tidak ingin merepotkan Bustam. Tidak seharusnya anak berusia sebelas tahun memiliki rutinitas seperti itu. Kata mereka, ia lebih baik mempelajari hal lain saja.

Kendati begitu, Bustam selalu memastikan hutan luar selalu terawat. Menjelajahi wilayah itu saja sudah cukup. Tidak pernah ada rumput liar atau hama. Di sana, dedaunan kering akan terurai menjadi mikroorganisme lain. Cuaca buruk pun tak pernah memengaruhi pertumbuhan tanaman-tanaman di sana. Tidak sekalipun. Kata Sadirah, wilayah itu hanya membutuhkan sosok penjaga.

Tapi, bagaimana Bustam menjaga hutan yang sudah telanjur dirusak oleh api? Tidak. Sebagian hutan luar masih baik-baik saja. Satu-satunya yang terganggu hanya sebatang pohon jati—terbakar dan menguarkan panas. Satu pohon saja. Meski begitu, bagaimanapun Bustam harus mencari cara agar bisa menyelamatkan pohon tersebut.

“Ibuuu,” lirih anak itu. “Bagaimana aku bisa memadamkannya? Bahkan dedaunannya sudah termakan api.” Ia mulai terisak. Bisakah ia meminta agar diturunkan hujan saja? Atau ia harus menggunakan air sungai untuk ….

Air sungai! Anak laki-laki itu segera menghambur ke sungai dengan semangat yang membara, mengalahkan bara api di pohon tadi.

Ada dua ember di dekat sungai, jadi Bustam bisa membawa dua ember itu sekaligus. Tubuh anak itu memang kurus, tapi otot-otot di balik kulitnya sudah terlatih dan kuat. Merasa sedikit lelah setelah menempuh setengah perjalanan, ia mengangkat satu ember di atas kepala, sedangkan ember lainnya dibawa oleh tangannya yang bebas.

Bustam baru saja menaruh kedua ember di tanah ketika suara mendesis terdengar. Kedua tangannya baru mengangkat salah satu ember ketika ia kembali menatap pohon dan mendapati bara api telah berkurang hingga padam dengan sendirinya.

 

Lho?

Bagaimana bisa?

Kedua tangan anak itu belum sempat menaruh kembali ember di tangannya kala sebuah sulur bergerak semakin dekat dan mengelilingi kedua pergelangan kaki Bustam.

”Aaargh!”

Tubuh Bustam terangkat dari tanah. Sapuan angin serta dedaunan dan ranting menerpa wajah dan tubuhnya. Sulur itu semakin banyak, semakin membatasi ruang gerak.

Bruk! Anak itu mendapati tubuhnya mendarat tepat di depan pohon yang begitu lebar, lebat, dan hitam.

Jangan pernah mendekati pohon tua itu.

Bustam teringat nasihat sang ibu. Ia terisak lagi.

Pohon itu satu-satunya yang paling magis dari hutan luar. Kalau kau terpaksa berada di dekat pohon itu …

Bustam menyiapkan diri untuk berlari ke arah sungai.

… lari.

Belum lewat lima kedipan mata ia terbebas dari sulur pohon tua, sulur-sulur yang lebih kuat dan besar membelenggu anak itu. Tak hanya terjerat, ia juga terlempar, terbentur, dan terombang-ambing hingga ia mual hebat. Langit mulai gelap dan Bustam malah terperangkap pohon tua. Mimpi buruk yang sempurna.

“Maafkan kelalaianku. Tolong lepaskan aku! Tolong!” teriak Bustam. Baik akar maupun ranting pohon tua seolah mengamuk dan entah kapan melepaskan si bocah malang.

“Ibu! Maafkan akuuu! Kumohooon.” Bustam memohon sejadi-jadinya. Pada siapa saja. Pada apa saja. Asalkan dia bisa bebas. Asalkan ia bisa tenang.

Membentur lagi. Terlempar lagi. Membentur sulur lain lagi. Terlempar lagi.

Bustam benar-benar merasa linglung—tak kuasa bangkit berdiri hingga sulur akar pohon tua kembali menyerangnya, kali ini mengangkat sekaligus melempar bocah itu, membuatnya terlempar rendah namun cukup jauh.

“Aaargh!” Ia merasakan panas dan perih di tulang pipi kanan akibat benturan pada bebatuan. Sebagian tubuhnya merasakan kesejukan air sungai. Ia mencoba bangkit, tapi yang bisa ia lakukan hanya berguling sedikit. Sebelum anak itu sempat berpikir lebih banyak, kesadarannya semakin menipis. Bustam merasakan dirinya bergerak hanyut terbawa derasnya air, lalu tak sadarkan diri.

>>><<<

Lidah hewan itu menjulur keluar. Getaran suara menarik perhatiannya. Suara yang berasal dari bibir pemuda berkulit sawo matang di hadapannya begitu lembut dan nyaring.

Ular itu mendekati si pemuda. Gerakannya seanggun ilalang tertiup angin. Tanpa suara.

Sebuah tangan mengangkat tubuh ular itu, disusul tangan lain.

“Kita akan pergi jauh, Kora,” ucap si pemuda.

Ular bernama Kora itu ditempatkan di sebuah keranjang. Ia tampak tidak keberatan dengan keputusan si empu. Keranjang itu lalu dimasukkan ke dalam kantong yang terbuka, bersama perlengkapan lain.

“Nah. Kau sudah siap?”

Kora menatap si pemuda sekilas. Ia mendesis lalu menenggelamkan diri dalam keranjang.

“Ular pintar.” Si pemuda lalu berjalan meninggalkan rumah panggung.

Ini akan menjadi hari yang besar dan berarti baginya. Ia ingin sampai di tempat tujuan sebelum malam, jadi ia harus berangkat di waktu fajar.

“Di sana memang tidak seindah di sini, tapi kuyakin kau akan suka.”

Kedua kaki pemuda itu berjalan menyusuri rerumputan. Udara di sekeliling amat sejuk dan segar, membuatnya tenang dan juga bersemangat.

“Seingatku, kau baru makan kemarin. Iya kan, Kora? Selanjutnya apa? Kau mau ayam? Kadal? Tikus? Atau ….”

Seekor burung berkicau nyaring, mendarat tepat di atas ranting pohon. Ia berkicau lagi, kali ini lebih panjang.

Langkah pemuda itu terhenti. Ia menoleh ke arah burung kenari dan mendapati burung kenari lain bertengger di ranting pohon yang sama. Mereka berkicau dengan kompak.

Pemuda itu tersenyum. “Aku akan pergi sebentar saja Teo, Wali. Terima kasih sudah mengucapkan salam perpisahan denganku.” Ia kemudian berjalan lagi. Belum sampai sepuluh meter, seekor tupai menghalangi jalan.

Ia mengembuskan napas panjang. “Leta, aku hanya ingin pergi sebentar. Aku berjanji akan kembali lagi.” Ia melangkah sedikit ke kanan dan meninggalkan si tupai. Ia kira takkan ada lagi yang mengucapkan salam perpisahan untuknya, tapi kemudian seekor hewan berlari ke arah manusia yang mengenakan caping itu.

“U, aak. U, aak.”

“Hahaha. Astaga, Cipa! Rupanya kau juga tak ingin melewatkan kepergianku, hem?”

“U, aaaaak,” seru monyet itu.

“Aku akan kembali. Terima kasih.” Ia mengangguk dalam.

Kedua kaki telanjangnya mulai menapaki tanah tanpa rerumputan. Dingin semakin terasa ketika ia berjalan mendekati sebuah perahu di pesisir sungai.

Kejutan rupanya belum berakhir. Suara ringkik kuda menghentikan langkah pemuda itu.

“Sega?”

Ia tertegun mendapati kuda putihnya membuntuti sampai sejauh ini. Kemarin mereka sudah mengucapkan salam perpisahan, tapi rupanya Sega masih ingin bertemu.

Bukan hanya Sega yang membuatnya tertegun. Teo, Wali (keduanya bertengger di atas punggung Sega), Leta, dan Cipa juga tampak tidak menyerah untuk melepaskan kepergian dirinya.

“U, aaaak.” Cipa memelas tepat di dekat kaki anak laki-laki itu.

Sambil berlutut, pemilik hidung mancung itu mengelus Cipa. Ia menatap kawan-kawan yang sejak tadi mengikuti.

Pada kawan-kawan yang nyatanya tak ingin melepas ia pergi, melainkan ingin ikut pergi bersama.

“Baiklah. Sepertinya aku akan lewat jalan darat saja. Sega, mohon bantuanmu.” Pemuda itu memastikan perahunya sudah tertambat dengan kencang, kemudian bersiap untuk mengendarai si kuda putih.

>>><<<

Seluruh rakyat desa merayakan pesta panen dengan penuh sukacita. Sebagian dari mereka menari, bernyanyi, dan meminum teh melati. Pesta yang berlangsung sejak pagi itu seolah takkan berakhir.

Bahkan sang kepala desa—Wirma—mengizinkan kedua anak gadisnya berdansa dengan pujaan hati mereka. Di kejauhan, ia menikmati keceriaan di sekitar sembari mengisap kretek. Diiringi gendang hingga suling, nyaris seluruh penduduk desa hanyut dalam alunan musik tersebut.

Tepuk tangan mewarnai usainya pertunjukan. Pesta sudah usai, tapi kebanyakan dari mereka menyayangkan. Mereka capek, tapi juga masih enggan pulang.

Di tengah keramaian kecil itu, suara suling kembali terdengar.

Semua orang menatap Tarno, laki-laki bermata bulat yang sebelumnya memainkan suling. Tarno mengernyitkan dahi—kali ini bukan dia yang memainkan. Ia mengangkat bahu.

Wirma segera beranjak menuju asal suara. Terletak sekitar enam meter dari kerumunan.

Di atas bebatuan, seorang pemuda tengah memainkan suling bambu. Wirma tidak mengenal pemuda itu meski ia sudah mendekati si pendatang. Pria berkumis tebal itu hendak mengusir, tapi alunan suara alat musik itu terlampau lembut untuk dilewatkan.

Warga desa lain mengikuti Wirma, seakan terhipnotis. Semakin lama mereka mendengar, semakin mereka mengagumi permainan si pendatang. Semakin penasaran juga, karena mata dan sebagian hidung si pendatang tertutup oleh caping anyaman, sedangkan mulutnya tertutup kain tipis yang diikat di belakang kepala.

Di tengah bisik-bisik warga, pemuda itu tiba-tiba menghentikan permainan. Laki-laki bertopi itu membuka keranjang di hadapannya sebelum memainkan alat musik tiupnya kembali.

Kali ini, ujung suling itu mengarah ke keranjang. Seiring gerakan mengayun ke atas, muncul kepala dan leher seekor ular kobra.

“Astaga!”

“Kepala desa, apakah ular itu berbahaya?”

“Ibu, aku jadi takut.”

“Mundur. Berdirilah di belakangku!” Wirma memperingatkan.

Seluruh warga desa mundur, membiarkan pria itu tetap dekat dengan si pendatang.

“Hati-hati, Ayah,” ucap salah satu buah hatinya.

Permainan masih berlanjut. Kepala ular itu kini meliuk ke kanan dan ke kiri, mengiringi gerakan ujung suling.

“U, aaak.” Seekor monyet muncul dari balik si pemuda, disusul seekor tupai.

Tempo musik yang amat lambat mulai meningkat. Semua pasang mata tak memercayai pemandangan di hadapan mereka ketika si monyet menari dengan tupai di atas batu. Si monyet melompat-lompat, sedangkan si tupai menaik-turunkan kepala.

Sahut-sahutan dimulai. Antara suara suling, monyet, dan si tupai saling mengisi satu sama lain.

“Lucu sekali!”

“Lihat! Monyet dan tupai menari!”

“Hei, ada burung kenari juga!”

Indah sekali, pikir Wirma. Mungkin ia memang ingin menghibur kami. Paling tidak, mungkin mengamen dan meminta jatah makan. Ah, aku tidak keberatan. Pria itu tersenyum. Tanpa perintah, warga desa kembali mendekati si pemuda dan mengira-ngira seperti apa wajah di balik caping itu.

“Mungkin ia seumuranku,” bisik anak sulung si kepala desa. “Kira-kira ia tertarik berkenalan denganku tidak, ya?”

“Kau ini, bagaimana dengan Kang Raka?”

“Ssst! Kau juga mengagumi pemuda bercaping itu, kan?” tanyanya pada si bungsu. Si bungsu terkikik pelan.

Kepala dan bahu mereka mulai bergoyang mengikuti irama. Warga desa terhibur dengan para hewan sekaligus terpukau dengan permainan musik yang menyejukkan.

Tarno sendiri merasa pemuda tersebut amat hebat. Tebersit keinginan untuk belajar dari laki-laki itu.

Raka pun tersenyum sepanjang pertunjukan.

Musik penutup dilantunkan. Tempo musik melambat dan sahutan terakhir yang terdengar adalah ringkikan sang kuda.

Riuh tepuk tangan membahana. Si pendatang mengangguk ke kiri, depan, dan kanan seolah dari balik caping ia bisa melihat kerumunan di hadapannya.

Ia lalu menutup keranjang. Tupai, monyet, dan dua burung kenari kembali mendekati tas kantong di belakang si pemuda.

Wirma mengambil dua langkah ke depan. “Tuan, kebetulan kami baru saja merayakan pesta panen dan kedatangan Anda sangat menghibur kami semua. Bolehkah kami tahu dari mana asal Anda dan apa keperluan Anda kemari?”

Warga lain turut mendengarkan dengan saksama.

Pemuda bercaping tersenyum—suaranya sedikit teredam kain di wajahnya. “Tidak penting aku siapa, tapi yang terpenting adalah alasanku datang jauh-jauh ke desa ini. Aku sengaja membuat pertunjukan di sini untuk kalian semua.”

Anak-anak tersenyum riang.

Para gadis merasa tersipu.

Para ibu dan bapak begitu tersanjung.

Si pendatang berdiri di atas batu, masih setengah menundukkan kepala. “Kalian sudah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagiku, karena itulah aku sengaja mempersembahkan pertunjukan terbaik.” Ia merentangkan kedua tangan. “Sejujurnya, itu adalah semacam ucapan terima kasihku untuk kalian semua. Berkat kalian, kini aku bisa menjalani hidupku di tempat yang jauh lebih baik.”

“Sesuatu yang berarti? Apa itu?” tanya seorang wanita di ujung kerumunan.

Senyuman lagi. Seandainya laki-laki berkulit sawo matang itu melihat ke arah wajah-wajah di hadapannya, ia akan mendapati beberapa gadis menjulur-julurkan kepala, mengintip ke arah wajah di balik topi.

Tetap saja, masih terlalu misterius untuk ditebak.

Suara pemuda itu tidak berat; tapi terdengar amat merdu bagi para gadis. Namun, ketika suaranya terdengar lagi, reaksi yang muncul amat berbeda.

“Sebuah kebohongan,” katanya.

Warga saling tatap. Wirma sendiri tertegun mendengarnya.

“Maaf, Tuan. Kebohongan mana yang Anda maksud?”

Lawan bicara Wirma turun dari bebatuan dan menapaki tanah rerumputan.

“Kurasa itu tidak terlalu penting, karena kejadiannya sudah cukup lama—tujuh tahun lalu.” Ia memberi jeda. “Ah, ya. Apakah kalian mengenal anak laki-laki bernama Bustam? Kalau tidak salah asalnya dari desa ini.”

Wirma mendengus pelan. “Bustam? Anak penyihir itu? Dia memang berasal dari sini, tapi kami sudah mengusirnya.”

Yang lain mengangguk membenarkan.

“Bustam, si anak tak berguna. Kenapa dia menanyakannya?”

“Bocah aneh. Untung sudah diusir dari sini.”

“Hahaha. Pasti bocah itu mengadu.”

Senyum di wajah si pendatang lenyap. Jadi selama ini Bustam dianggap anak penyihir ….

“Pengusiran itu demi kebaikan warga desa ini, Tuan. Ah, Tuan tidak seharusnya menanggapi bocah itu terlalu serius. Hutan luar bahkan mengusirnya, jadi kami yakin itu adalah keputusan yang tepat. Tuan tidak perlu khawatir,” ujar si kepala desa.

“Tentu tidak, Kepala Desa.” Didekatinya pria berkumis tebal di depannya. “Tidak ada yang mengadukan perbuatan kalian.”

Topi anyam dan kain itu akhirnya dilepas, menunjukkan wajah di baliknya.

Wirma sempat berhenti bernapas.

“Akulah anak itu.” Ia lalu berpaling ke arah kerumunan. Kebanyakan warga menutup mulut karena kelewat terkejut. Anak-anak dan pemuda-pemudi saling menatap, bingung.

Beberapa pasang kaki di barisan depan mulai bergerak mundur.

Pemuda berkulit sawo matang itu memiliki codet panjang di pipi kanan, nyaris menyentuh mulut. Bustam memiliki alis yang cukup tebal, jadi ia takkan sulit dikenali. Matanya juga cokelat seperti ibunya. Mata itu kini menyorot tajam.

Ia sama sekali bukanlah pendatang. Ia adalah Bustam.

Suaranya meninggi. “Hutan luar mengusirku, itu memang benar. Tapi seandainya kebakaran itu tidak terjadi, aku takkan pernah terusir.”

Wirma menundukkan kepala, malu. Perasaan itu perlahan menjalar di antara dirinya dan juga semua warga lainnya.

“Aku tahu apa yang kalian lakukan saat itu. Salah satu dari kalian sengaja melesatkan anak panah berapi pada salah satu pohon agar terbakar.” Bustam teringat ketika ia menemukan sebuah busur panah di dekat hutan luar.

“Kalian memohon padaku agar bisa menyelamatkan kalian. Nyatanya, kalian berniat mengusirku. Pakaianku kalian buat agar menguarkan aroma asap tembakau yang sama seperti panah apinya. Dengan cara itu, pohon tua yang sensitif terhadap bau akan berpikir akulah penyebab kebakaran itu.”

Semakin banyak warga yang merasa malu. Mereka tutup mulut meski anak-anak bertanya pada mereka.

“Benarkah itu, Ayah?” tanya anak bungsu Wirma. Sang ayah bergeming.

Bustam melangkah maju. Sebenarnya ia tidak berniat mengatakan ini semua, tapi ia tidak terima ibunya dikatakan penyihir.

Mungkin, warga desa mengusirku karena aku tidak bisa melakukan tugas sebaik ibu. Tidak bisa bersikap ramah pada setiap orang. Tidak bisa berbaur dan menjalin hubungan akrab dengan mereka.

Selama tujuh tahun terakhir, pemikiran itulah yang bersemayam dalam benak Bustam. Tak pernah sedikit pun ia mengira warga desa membencinya karena menganggap Sadirah sebagai penyihir.

Tidak pernah.

“Ibuku bukanlah penyihir!” teriak pemuda itu. “Kalian tahu kenapa hutan luar tidak menerima kehadiran kalian? Karena hutan luar sangat keramat. Sangat suci. Hanya yang tulus yang bisa memanfaatkan segala tanaman yang ada di sana. Ibuku sempat memohon dan berdoa agar hutan luar dapat kembali seperti sediakala—menerima kehadiran siapa saja—tapi sayangnya tak pernah berhasil. Sekarang aku mengerti kenapa usaha itu selalu tak pernah berhasil.”

Ia pun melanjutkan. “Kalian bahkan menakut-nakuti anak kalian agar tidak mendekati hutan luar. Menunjukkan rasa iba kalian padaku karena tidak seharusnya anak berusia sebelas tahun keluar-masuk hutan, padahal sebenarnya kalian takut anak-anak kalian mengikutiku ke sana.”

Tidak ada penyangkalan. Tidak ada pembelaan. Wajah-wajah di hadapan Bustam seredup langit yang dihiasi sisa sinar mentari.

“Benar kan, Tuan Wirma?”

Wajah sang kepala desa sulit terbaca meski pandangannya tertuju pada pemuda di hadapannya. Bibirnya diam seribu bahasa, tapi sepertinya ia masih dapat mengumpulkan wibawa. Kebungkaman itu membuat Bustam makin naik darah.

“Kalau menurut kalian ibuku penyihir, maka aku juga sama! Akui perbuatan kalian atau aku akan mengutuk lumbung padi di desa ini!” ancam pemuda itu; jelas-jelas menuding Wirma dan segenap penduduk desa.

Raut sang kepala desa mendadak pucat. Lenyap sudah wibawa yang tadi.

“To-tolong jangan lakukan itu, Bustam. Kami melakukannya karena tak ingin anak-anak kami terluka atau hilang di hutan. Kami tak punya pilihan lain selain mengusirmu. Kalau tidak, kedamaian desa ini akan terganggu. Itu hanya sebuah kekeliruan.”

Anak- anak Wirma dan juga warga desa lain yang masih berusia belia menatap pemimpin desa mereka, antara bingung dan kecewa. Beberapa pria dewasa bergerak ke sisi sang tetua, mendukungnya.

“Kekeliruan, katamu?” Bustam berteriak makin keras. “Kebohongan bukan sekadar keliru. Itu sangat salah! Dan ingat! Itu lebih dari satu kebohongan!” Pemuda itu mengepalkan tangan, geram.

“Hei!” bentak seorang lelaki tua yang berdiri tepat di samping Wirma. Sorot matanya tajam dan tanpa ragu ia maju satu langkah, menantang. “Kau pikir kami bisa terpikat oleh sihirmu dan binatang-binatang tengikmu itu? Tempatmu bukan lagi di sini. Pergi!” Ia menggerakkan tangannya sebagai penegasan guna mengusir Bustam. Pemuda bercodet itu menunduk, tapi matanya masih menatap semua orang di situ.

“Kepala desa kalian dan juga para pria ini adalah penipu. Mereka tega mempertaruhkan nyawa seorang anak dengan mengatasnamakan kepentingan desa.” Rahang pemuda itu mengeras. “Sungguh kepentingan yang keliru. Kalian semua,” pandangannya membalas tatapan semua anak muda di sana, “sudah dibohongi. Camkan itu.”

Si lelaki tua beranjak maju, tapi sang kepala desa menahannya.

Bustam mengalihkan pandangannya pada Wirma. “Aku memang tak punya tempat di sini, tapi semua pemuda-pemudi di desa ini harus tahu kebenarannya.”

Tak ada waktu untuk menyanggah. Bustam bergegas membalikkan badan untuk membawa tas kantong dan langsung menunggangi kuda putih miliknya. Kuda itu seketika berderap dan kerumunan orang terburu-buru menyingkir untuk memberi jalan. Meninggalkan para pemuda, tetua, dan wanita dengan pikiran mereka masing-masing.

Bustam terus memacu Sega keluar dari desa dan menyusuri jalan yang sejak dulu sudah sangat ia kenali. Hari mulai beranjak malam. Pikirannya berpacu seiring angin yang menerpa wajah. Bustam teringat bagaimana ia hanyut terbawa aliran sungai sangat jauh dengan tubuh penuh luka, hingga dirinya sampai di muara di kaki bukit. Ia ditemukan penduduk kampung dekat sana. Orang-orang di sana begitu baik; merawat dan memberinya pakaian, suling, serta caping hasil kerajinan sendiri secara cuma-cuma. Setelah Bustam bisa hidup mandiri, ia selalu dihantui masa lalu dan menunggu waktu yang tepat agar bisa kembali ke desa. Kini, ia sudah melakukannya. Semakin jauh dari desa itu, seiring rumput dan pepohonan yang semakin rimbun dan beraneka warna, Bustam merasakan kemarahan di dadanya perlahan surut.

Saat hari benar-benar telah gelap, ia tiba di perbatasan di mana warna lumut tepian sungai mulai berubah bercahaya, tepi hutan luar. Bustam turun dari punggung Sega, menambatkan kuda kesayangannya ke sebuah batang pohon, lalu membiarkan Sega merumput. Ia membuka tas kantong, dan kawan-kawan kecilnya pun berkumpul di dekat Bustam. Teo dan Wali hinggap di bahunya. Dibelainya kepala Cipa dan Leta.

“Kalian tunggulah di sini. Aku janji tidak akan lama dan tidak akan meninggalkan kalian.” Kawan-kawannya mulai protes, tapi Bustam berhasil menenangkan mereka semua. Betapa ia berharap para kawannya tidak menyadari keraguan yang tersirat dalam janjinya. Pemuda itu mengambil sebuah lentera minyak yang tergantung di pelana Sega, menyalakannya dengan korek api, lalu mulai melangkah memasuki area hutan luar. Sendirian.

Bustam berjalan dengan tenang dan perlahan. Sinar redup lentera menyinari jalan di depannya. Gemericik air sungai membuatnya kembali teringat peristiwa ketika ia masih kecil dulu. Pemuda itu bergidik ketika mengingat perasaan takut saat ia terombang-ambing di antara sulur. Ia mengerahkan segenap keberanian. Setelah lahan landai berumput yang terbuka dengan pepohonan rapat di kedua sisi, di ujung sana ada pohon keramat. Ia kemudian menyempatkan diri untuk menggantungkan lenteranya pada salah satu cabang pohon terdekat dengan hati-hati sebelum kembali berjalan. Setiap langkah Bustam tempuh dengan khidmat, hingga jarak yang ia rasa cukup aman.

“Pohon tua,” ucap Bustam mantap pada pohon di hadapannya. “Ini aku Bustam, anak dari Sadirah.”

Mata pemuda itu menunduk sekaligus mengawasi akar pohon tua yang berada dalam jarak pandangnya dan terkena cahaya lentera. Aman. Tidak ada sulur yang bergerak. Seperti biasa akar, ranting, batang, dan dedaunan pohon tua tampak tenang dan kuat.

Angin tiba-tiba berembus pelan, membawa aroma rumput basah dan dedaunan kering. Bustam tidak dapat menebak asalnya angin itu, yang nyatanya berasal dari pohon. Hanya beberapa detik. Angin lalu berhenti, menyisakan hening.

Bustam putra Sadirah ….

Mendadak Bustam merasakan sebuah kesadaran yang begitu agung memasuki benak, seiring suara itu terdengar di kepala. Pemuda itu merasa bulu kuduknya meremang, ketika ia sadar bahwa untuk pertama kali, Sang Pohon Tua tengah berbicara padanya. Pemuda itu berlutut lalu beringsut mendekati pohon di hadapannya. Kedua telapak tangannya bersatu di hadapan kepala.

Benak sang pohon terasa ganjil, tapi Bustam bisa merasakan suatu kegembiraan. Suara itu juga amat jauh dari kesan mengancam. Seperti seseorang yang bahagia bertemu kembali dengan teman lama. Tanpa berkata-kata, Bustam berusaha menyampaikan maksud kedatangannya pada Sang Pohon Tua. Ia merasakan kilas balik adegan kebakaran itu berputar kembali di benaknya; sang pohon telah melihat semua. Suara gaib itu bergaung lagi dalam kepala Bustam.

Kesalahpahaman telah diluruskan dan akhirnya kau kembali. Sudah cukup kau berurusan dengan para manusia yang membohongimu. Andai saja bau tembakau tidak menyulut kemarahanku saat itu, kesalahpahaman tak perlu terjadi.

Setetes air mata penuh kelegaan mengalir di pipi Bustam yang masih memejamkan mata. Beban yang amat berat telah terangkat. Hatinya tak pernah terasa seringan sekarang.

Hutan ini milikmu, Bustam putra Sadirah. Kemarilah dan manfaatkan segala yang ada di sini, titah Sang Pohon Tua.

Tenggelam dalam haru, pemuda itu berdiri mendekat, membelai batang kasar sang pohon sebelum merentangkan tangan untuk memeluk entitas agung itu. Tubuh pohon tua jauh lebih besar dari pelukan lengannya. Ia menempelkan pipinya yang berbekas luka ke sana, merasa bahagia luar biasa. Sebuah kekuatan mahabesar terasa menyelubungi dirinya—sang pohon menyalurkan energi padanya sebagai ritual penanda Bustam menjadi penjaga hutan—Jagawana bagi hutan luar. Ia merasakan pipi dan sekujur tubuhnya semakin hangat oleh energi hutan.

Ketika aliran energi itu berhenti, Bustam membuka mata dan mengusap air mata di wajah. Ia terkejut mendapati bekas luka panjang di pipinya telah sembuh, hilang sama sekali. Semua sudah selesai. Akhirnya.

Setelah menyelesaikan urusannya dengan pohon tua, Bustam mengajak Sega, Teo, Wali, Kora, Cipa dan Leta untuk tinggal bersama di dalam hutan luar. Sesekali ia pergi ke kampung di kaki bukit untuk menjual ramuan obat atau membantu penduduk mengobati mereka yang sakit sebagai bentuk balas budi.

Bustam tak pernah lagi menginjakkan kaki di desa yang penuh kebohongan itu. Ia telah berhasil meletakkan masa lalunya di belakang, memaafkan, serta merelakan. Sejak saat itu hutan luar tampak lebih asri dan aman, karena kembalinya sang penjaga hutan. Hewan-hewan kesayangannya pun mendapatkan teman. Kebohongan telah berubah menjadi kebahagiaan.

TAMAT

 

 

Catatan: Cerita ini telah dipublikasi pula di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s