Review Novel Dunia Kafka

IMG_20170715_095033

Judul : Dunia Kafka

Penulis : Haruki Murakami

Penerbit : Alvabet

Penerjemah : Th. Dewi Wulansari

Rating on Goodreads : 4.13/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis :

Novel dengan dua plot berbeda namun saling terkait ini bercerita tentang dua tokoh yang berlainan dunia. Di satu sisi, novel ini menuturkan kisah Kafka Tamura, remaja yang kabur dari rumah untuk menghindari kutukan ayahnya serta untuk mencari ibu dan saudara perempuannya. Dalam petualangannya, ia menemukan tempat penampungan yang tenang di sebuah perpustakaan pribadi di Takamatsu, yang dikelola Nona Saeki yang tertutup dan penyendiri serta Oshima yang ramah dan cerdas. Kafka menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku, hingga suatu ketika polisi menginterogasinya terkait dengan kasus pembunuhan brutal.

Sisi lain novel ini berkisah tentang Satoru Nakata, lelaki tua yang—berkat kemampuan luar biasanya—bekerja paruh waktu sebagai penemu kucing hilang. Pada suatu kasus, demi seekor kucing, ia membunuh seorang lelaki misterius. Kasus ini membawanya hengkang jauh dari rumahnya dan berakhir di jalanan, hingga bertemanlah ia dengan sopir truk bernama Hoshino yang membawanya menuju kota tempat pelarian Kafka. Nakata dan Kafka berbeda dunia, namun di alam metafisik kisah keduanya terhubung—dan begitu pula yang terjadi dalam realitas sesungguhnya.

Dengan Oedipus complex sebagai bunga cerita, novel surealis ini menyuguhkan bacaan memukau ihwal identitas, cinta, tragedi, takdir, dan pergulatan hidup. Gagasannya eksploratif dan filosofis. Alur ceritanya berkelok-kelok dan penuh teka-teki. Gaya bahasa dan narasi dialognya ringan dan menghibur. Sebuah novel memikat dari penulis hebat yang patut Anda baca!

===

Luar biasa adalah kata yang tepat untuk novel ini. Dari tema kehidupan seputar cinta sampai krisis identitas, dieksplorasi secara mendalam. Saking mendalamnya, saya benar-benar merasa ingin sekali memeluk hampir semua tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh seperti Kafka Tamura, Satoru Nakata, Oshima, Saeki, Hoshino, hingga kucing-kucing (Mimi, Goma, Kawamura) memiliki permasalahan rumit dan pelik. Tak hanya itu. Permasalahan/konflik di antara mereka juga memiliki benang merah—tak hanya benang merah di alam metafisik, tetapi juga dalam realitas kehidupan mereka.

Pengembangan karakter atau character development juga patut diacungi jempol. Haruki Murakami selalu dapat menyuguhkan karakter-karakter memukau. Tiga dimensi, begitulah karakter fiksi seharusnya. Dimensi yang meliputi fisik, sosial, dan psikologis. Betapa masa lalu Kafka dan Nakata menimbulkan akibat yang sangat besar dalam kehidupan mereka. Begitu pula dengan Oshima.

Soal pandangan hidup, sejujurnya saya sangat menyukai pandangan hidup Nakata. Di satu sisi saya merasa sifat Nakata mirip dengan saya—fatalis atau terlalu pasrah. Sementara di sisi lain, ia bukan orang yang mau repot-repot berpikir negatif atau semacamnya. Lugu, namun di sisi lain … ah begitulah pokoknya. Bagi yang sudah membaca, pasti setidaknya kalian juga kagum pada Nakata.

Sebagai novel post-modern, alur bukanlah penggerak utama dalam cerita namun bukan berarti novel ini tidak memiliki alur. Masalahnya, dalam novel Dunia Kafka (atau ‘Kafka on The Shore’—versi Inggris) alur yang ada sangat berkelok-kelok. Ini poin plus juga. Satu lagi. Novel ini (anggap saja) fokus menjawab pertanyaan, ‘mengapa Nakata seperti ini?’, atau ‘mengapa Kafka memutuskan untuk pergi dari rumah?’, ‘mengapa Kafka melakukan ini?’ dan sederet pertanyaan ‘mengapa’ lainnya. Begitulah sifat novel post-modernCMIIW.

Cerita ini juga cerdas. Dari teori Chekov’s Gun, T.S. Elliot, pendapat Aristoteles, oedipus complex, sampai Kisah Genji menjadi bumbu penyedap cerita. Teori yang paling saya suka? Teori mengenai alam bawah sadar dari Carl Jung, tentunya. Tak heran novel ini juga memiliki unsur surealisyang kental. Bukan hanya disajikan, konsep surealis bahkan ‘hidup’ dan memberi warna tersendiri.

Terakhir, oleh karena saya membaca karya ini versi terjemahan, rasanya perlu saya ulas sedikit. Satu kata saja kok untuk terjemahannya—bagus. Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada Fe Ryrows yang telah meminjamkan novel ini! ❤

Sebagai penutup, inilah kutipan-kutipan favorit saya:

“Maafkan saya, saya tidak pandai,”
hlm. 239

 

Kata-kata tanpa huruf
Berdiri dalam bayang-bayang pintu ….
Jari-jari gadis yang tenggelam
Mencari pintu masuk ….
Di luar jendela banyak prajurit,
Meneguhkan diri untuk gugur ….

Petikan lirik lagu ‘Kafka di Tepi Pantai’

 

“Kekuatan yang saya cari bukanlah kekuatan di mana kita menang atau kalah. Saya tidak ingin membangun tembok yang akan mencegah kekuatan yang datang dari luar. Yang saya inginkan, kekuatan yang dapat menyerap kekuatan dari luar, untuk menghadapi kekuatan dari luar itu sendiri. Kekuatan untuk mengatasi berbagai hal dengan tenang—ketidakadilan, ketidakberuntungan, kesedihan, kesalahan, kesalahpahaman.”
hlm. 42.

 

“Kebetulan saya suka orang aneh. Orang-orang yang kelihatan normal dan menjalani hidup yang normal—mereka adalah orang-orang yang harus Anda waspadai.”
hlm. 239

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.

Advertisements

Status Positif #29

IMG_20170629_204025_045

Setiap kreasi/karya pasti melalui sebuah proses. Umumnya diawali input (masukan) lalu memasuki tahap proses sebelum akhirnya menjadi output (hasil/kreasi). Dalam berkarya, input ini dapat berupa karya yang dinikmati (misalnya dilihat/dibaca/ditonton). Kemudian proses, maksudnya adalah perjalanan dari ide hingga pematangan ciptaan yang nantinya membuahkan hasil/output. Semua ini melibatkan pikiran, tenaga, dan segenap usaha untuk mewujudkan kreasi itu sendiri.
ㅤㅤ
Pernahkah kalian merasa, diri kalian terlalu banyak menerima input dan sangat sedikit menghasilkan output? Atau merasa memproduksi banyak kreasi namun masih merasa kekurangan dalam penciptaan tsb? Inilah kenapa sebaiknya input dan output kita harus seimbang. Banyak menikmati karya, banyak pula menghasilkan karya. Bukankah dengan banyak berkarya kita bisa mengasah kreativitas? Terlebih, hal tersebut merupakan tuntutan dalam zaman yang serba cepat dan canggih ini. Jadi, tunggu apa lagi? Mari berkreasi. Mari berkarya. Demi kemaslahatan kita semua. Sekian.
ㅤㅤ

Status Positif #26

IMG_20170626_221843_653

Sometimes, I just can’t help being angry at myself. It does happen thousand times. Always easier for me to hate myself than to hate others.
ㅤㅤ
But ….
ㅤㅤ
I keep one thing in my mind. Anger is a power. The power to make me change something or ignore something. At this point, ignorance is not a bliss. One another thing to remember? I should use it wisely. Anger can empower you, but it could also destroy you. Hope I won’t ever forget this. I really hope so. Ah. This is a selfreminder so I shouldn’t be worry about that. Right?
ㅤㅤ