Ulasan Film Arrival

MV5BMTExMzU0ODcxNDheQTJeQWpwZ15BbWU4MDE1OTI4MzAy._V1_UX182_CR0,0,182,268_AL_

ARRIVAL || 2016 || Drama-mystery-thriller-science fiction|| Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitaker, etc || Based on the story titled ‘Story of your life’ by Ted Chiang

Poin IMDB : 7.9/10

Poin dari saya: 10/10

“You did something remarkable.

Something not even my superior has done

You changed my mind.” – Arrival

Saya menonton film ini tanpa ekspektasi apa pun. Seorang teman merekomendasikan film Arrival pada saya, lalu saya tertarik. Titik.

Singkatnya, Arrival mengisahkan seorang ahli linguistik bernama Louise (Amy Adams) yang direkrut oleh pihak militer untuk berkomunikasi dengan alien yang datang ke bumi.

Kedatangan alien itu ditandai dengan 12 buah spacecraft yang berbentuk seperti kapsul raksasa, tersebar di beberapa titik di planet bumi—salah satunya di kawasan Montana. Kedatangan yang begitu tiba-tiba dan tanpa jejak, membuat nyaris seluruh umat manusia menjadi gempar.

Bersama Ian (Jeremy Renner), Louise berusaha untuk memahami sekaligus berkomunikasi dengan alien yang disebut dengan ‘heptapod’ (makhluk asing itu memang memiliki tujuh tungkai). Heptapod ini besar, tinggi, hitam, keduanya dinamakan Abbott dan Costello (Costello bertubuh besar, sedangkan tubuh Abbott lebih kurus).

Awalnya, komunikasi kedua pihak dilakukan secara verbal. Menerjemahkannya ke bahasa manusia membutuhkan waktu yang cukup lama dan sulit minta ampun, sampai akhirnya Louise memiliki ide untuk melakukan komunikasi melalui tulisan.

Ya. Heptapod bisa menulis. Bedanya, mereka tidak membutuhkan alat untuk melakukan itu. Bahasa mereka lebih mirip simbol, tetapi tetap saja bagaimana pun juga harus dapat dimengerti oleh manusia.

Keseruan dimulai. Bahasa alien pun diterjemahkan ke bahasa manusia (meski membutuhkan waktu berminggu-minggu) dengan tujuan manusia bisa mengetahui tujuan para heptapod datang ke bumi. Apakah mereka datang sebagai musuh atau bukan? Apakah mereka akan menyerang?

Film ini tidak hanya fokus kepada interaksi manusia dan para heptapod. Kehidupan Louise yang berupa kepingan-kepingan ingatan seringkali hadir dalam benak wanita itu. Perlahan, kita sebagai penonton akan semakin mengetahui sejauh apa keterkaitan antara kehidupan Louise dengan para heptapod. Hubungan antara Hannah, Louise, heptapod, dan seluruh dunia memiliki benang merah yang sangat halus dan tidak terduga. Apa tujuan para heptapod datang dan lain sebagainya, semakin jelas seiring semua teka-teki yang kian terungkap. Kata ‘senjata’ yang dimaksud para heptapod bahkan tidak seperti yang manusia perkirakan.

Tidak. Saya tidak akan memberi spoiler di sini. Kalau Anda membutuhkan bocoran film ini, silakan mengunjungi ulasan yang lain.

Saya akan membahas film ini dari sudut pandang saya sendiri. Begini. Tidak semua film bagus dapat mengubah pola pikir saya. Arrival, yang digarap oleh tim Denis Villeneuve secara epik dan apik, mampu menggetarkan hati saya dan menginspirasi saya dalam banyak hal. Ini sungguh film yang patut diapresiasi. Belum lagi, ternyata cerita ini diadaptasi dari sebuah cerita berjudul ‘Story of Your Life’ karya Ted Chiang. Wah, sebuah cerita pendek diadaptasi ke dalam film secara memukau? Fiksi ilmiah berpadu dengan misteri, thriller, dan filosofi secara seimbang? Ya. Arrival-lah jawabannya.

Jujur, saya sampai menangis nonton film ini. Mungkin, seandainya saya membaca Story of Your Life, saya akan menangis juga.

Alasan saya sangat merekomendasikan film Arrival:

  • Dapat dinikmati nyaris semua kalangan penonton. Bisa dijadikan sebagai tontonan keluarga, misalnya.
  • Melalui film ini, banyak hal yang bisa menjadi bahan renungan.
  • Perkembangan alur dan konfliknya cukup mudah dicerna.
  • Kebanyakan orang yang menonton film ini sempat keliru menilai alur cerita yang maju-mundur, termasuk saya.
  • Karakterisasi serta konflik batin para tokoh sangat terasa.
  • BACKSOUND YANG MEREPRESENTASIKAN PIKIRAN DAN PERASAAN LOUSE DENGAN SANGAT BAIK (capslock jebol hahahahaaaa).
  • Aftertaste dari makna film ini, pastinya.
  • Ada hint di hampir setiap scene. Kalau bisa jangan lengah saat menonton wkwkwk.
  • Eksekusi cerita sangat brilian.
  • Komponen character driven lebih kental daripada plot driven.
  • Yang pasti, acting para pemeran amat sangat NATURAL.

Nah. Kalau kalian sudah menonton filmnya dan mau berbagi, yuk, mari~

Advertisements

Review Novel London: Angel

Data Novel London: Angel bisa dilihat di sini.

 

Rating di Goodreads: 3,8/5.

Rating dari saya: 4,5 dari 5 bintang.

 

Ulasan:

Ini pertama kalinya saya membaca karya kak Windry.

Novel London

Aaaaand here is my review.

Mungkin, bagi yang lain, novel ini mengisahkan tentang cinta dan petualangan. Namun, bagi saya, novel ini justru tentang keajaiban dan kedewasaan. Selebihnya, barulah mengenai cinta dan petualangan. Kenapa saya berpendapat demikian? Keunikan novel London ini adalah elemen realistic fiction berbau romance yang dipadukan dengan sedikit kepercayaan mengenai malaikat yang hadir ketika hujan turun. Itulah kenapa novel ini memiliki subjudul: Angel. Sungguh kombinasi yang sangat baik. Saya malah sempat mengira, novel ini ditulis oleh seorang laki-laki. Hehehe. Penggunaan sudut pandang orang pertama dari protagonis bernama Gilang. Karakter Gilang cukup kuat, begitu juga karakter tokoh-tokoh lainnya. Saya juga suka pemilihan nama tokoh ‘Ning’ karena sangat Indonesia dan manis sekali. Salut! Elemen-elemen di cerita ini begitu saling mengisi satu sama lain.

Saya juga baru mengerti mengenai kata ‘hibuk’. Sempat mengira itu typo, tapi ternyata dalam KBBI hibuk bisa berarti sibuk. Hmmm. Sebuah ilmu baru yang cukup menggugah juga. Ah, semoga saya suatu saat bisa menginjakkan kaki di London dan menemukan keajaiban-keajaiban di sana (meski bukan dalam konteks malaikat, karena keajaiban dapat berupa apa saja wkwkwk)~

Mungkin seharusnya saya ‘melahap’ novel kak Windry yang lainnya supaya saya bisa banyak belajar menulis novel dari kak Windry. Heheheheeeee.

Ah, reading this novel really makes me think:

I don’t need love. I need miracles.

 

 

 

Keterangan:

Ulasan saya di Goodreads ada di sini.  Tanggal publish ulasan ini disesuaikan dengan tanggal ulasan saya di Goodreads.

Terima kasih.

 

 

Review Novel Sudut Mati

Data Novel Sudut Mati bisa dilihat di sini.

 

Ulasan:

Rating di Goodreads 3,96/5. Dari saya? Pastinya 5/5!

Hmmm. Penulisnya kece. Editornya kece. Ceritanya?

Seperti yang pernah saya ulas di sini, novel ini termasuk bacaan ngeri-ngeri sedap. Sudut Mati karya Tsugaeda mengangkat genre thriller dan tema korporasi yang dikemas secara cerdas tanpa mengurangi nilai-nilai berbau Indonesia—permen jahe, Bahasa Jawa, bahkan sampai paranormal.

Sudut Mati karya Tsugaeda

Hal-hal yang sangat saya sukai dalam novel ini:
> Banyak tokoh dengan karakter abu-abu
> Nuansa kelam yang amat kental
> Unsur character driven yang kuat
> Beberapa plot twist begitu ‘nendang’
> Manifestasi Teno xD
> Titan, Titan, Titan :3
> Saya membaca novel ini hanya sekali duduk! (Hanya saja, memang butuh waktu yang lama buat saya untuk mengulasnya. My bad habit. Hiks)

Sebenarnya, ada satu pertanyaan yang masih terpikir oleh saya. Apakah Teno itu memang tidak bisa merasakan sakit secara fisik? Hmmm. Tebakan saya sih, begitu. Mungkin Teno punya semacam penyakit CIPA atau sejenisnya, gitu.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
Sejauh ini, kutipan favoritku adalah:

“I’m going to release the Kraken.” – hlm. 131

 

“Kenapa hari ini keparat-keparat dalam hidupku berkumpul di tempat yang sama?” – hlm. 249.

Terima kasih kepada bang Tsugaeda yang telah menulis novel thriller epik ini. Mungkin setelah ini saya harus membaca ‘Rencana Besar’. Saya juga sangat beruntung karena bisa mendapatkan novel ini dalam acara BBW. RAWR!

 

 

Keterangan:

Ulasan saya di Goodreads ada di sini.  Tanggal publish ulasan ini disesuaikan dengan tanggal ulasan saya di Goodreads.

Terima kasih.

Ulasan Novel Stardust

Screenshot_2018-06-07-10-05-05-931

Stardust || Neil Gaiman || Gramedia Pustaka Utama || 256 halaman || Fantasy-romance || Terjemahan

Poin Goodreads : 4.8/5
Poin dari saya : 5/5

Setelah jatuh hati pada The Sleeper and The Spindle (ulasan bisa dibaca di sini) sekarang saya jatuh hati pada Stardust. Neil Gaiman selalu menghasilkan karya yang memukau.

Seperti halnya The Sleeper and The Spindle, dongeng ala pengarang satu ini juga termasuk dongeng yang cocok dibaca orang dewasa. Lagipula, bukan Neil Gaiman namanya kalau tidak mendobrak pakem dongeng-manis-dan-sederhana. Di cerita ini ada beberapa hal yang sangat menarik. Kompleksitas karakter dan konflik-nya berkembang dengan epik, tokoh utama wanita yang tidak begitu anggun (malah berjalan dengan pincang, suka memaki xD), dan akhir cerita yang tidak mudah ditebak. Cara beliau meramu itu semua sangat elegan, menurut saya. All hail Neil Gaiman!

Hmmm. Ada satu kutipan yang lucu.

Tristran Thorn
Tristran Thorn
Tak tahu mengapa dia dilahirkan
Dan sumpah konyol ia ucapkan
Celana dan jaket dan kemeja terkoyakkan
Jadi dia duduk di sini memilukan
-hlm. 102

Hahahaha. Semua kekonyolan Tristran Thorn sebagai remaja labil bahkan tergali dengan baik.

Oh, soal adaptasi film yang diangkat dari novel ini. Di satu sisi, film Stardust cukup menghibur dengan komedi segar dan memiliki bagian klimaks yang lebih ‘menggigit’ daripada novel itu sendiri. Karakterisasi tokoh-tokoh dalam film juga dieksplorasi dengan baik, tetapi tetap saja baik novel dan film Stardust bagi saya keduanya unggul dalam cara yang berbeda. Tidak masalah mau membaca novelnya dulu atau menonton filmnya dulu. Saya kebetulan nonton filmnya sebelum membaca novelnya, sih.

Kalau untuk terjemahan saya rasa nggak ada masalah. Cukup luwes dan bisa dinikmati.

Sekian.

Catatan: Tanggal postingan ini disesuaikan dengan ulasan saya di goodreads di sini.

Review Novel Dark Matter

Data Novel Dark Matter dapat dilihat di sini

Dark Matter karya Blake Crouch

Rating Goodreads : 4,1/5

Rating dari saya : 5/5

 

Mengawali tahun 2018 dengan membaca Dark Matter ternyata memang dapat mengembalikan mood saya untuk kembali membaca. Goodbye, reading slump! (waving cheerfully)

Menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga, novel ini membawa kita menyelami pikiran dan suasana hati Jason Dessen serta mengetahui segenap perubahan yang terjadi setelah suatu insiden menimpanya di Kamis malam ketika ia meninggalkan rumah. Di sisi lain, Kamis malam adalah waktu spesial Jason untuk menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarganya yaitu Daniela dan anak mereka, Charlie.

Unsur thriller di cerita ini begitu kental sejak bab pertama. Buat kalian penggemar cerita thriller dan fiksi ilmiah, novel ini sangat saya rekomendasikan. Ada pembahasan teori-teori seperti teori mekanika kuantum, strings theory dan sebagainya, tapi untuk saya yang tidak lagi mendalami ilmu fisika sejak kuliah, buku ini tetap bisa dinikmati. Gaya bahasa yang disajikan ringan dan mengalir serta terjemahannya oke, jadi jangan khawatir novel ini akan terlalu berat untuk dicerna. Okesip.

Saya juga harus bilang ini adalah novel yang cerdas. Jason Dessen saja cerdas, apalagi penulisnya, kan? Konsep dunia paralel serta unsur romance, belum lagi konflik batin yang dialami tokoh utama begitu saling melengkapi. Keterkaitan antara judul dan isi cerita pun saya rasa tidak perlu dipertanyakan lagi.

Soal bagian favorit, hmmm ini agak susah, sih. Ada ketegangan tersendiri di setiap bab cerita ini. Yang paling membuatku merinding sebenarnya bab pertama dan betapa Jason yang mulai disorientasi di dunia paralel kedua membuat saya juga seolah disorientasi (nggak lebay, kok wkwkwk). Seiring saya mengikuri alur, saya mencoba menebak ini itu, sedikit yang tepat, kebanyakan meleset xD.

Ada satu kutipan favorit saya:

“Menakutkan ketika kau memikirkan bahwa setiap hal yang kita pikirkan, semua pilihan yang bisa kita buat, akan bercabang ke dunia baru. Setelah pertandingan bisbol kita hari ini, kita pergi ke Navy Pier, lalu makan malam, ‘kan? Tapi, itu hanyalah satu versi dari apa yang terjadi. Dalam realitas berbeda, alih-alih ke dermaga, kita pergi menonton simfoni. Di realitas lainnya, kita tinggal di rumah. Dalam dunia lain, kita mengalami kecelakaan fatal di Lakeshore Drive dan tidak berhasil bertahan hidup.” – hlm. 165

Gambaran cerita Dark Matter seperti ini: bayangkan saja ketika kamu menjalani hidup seperti biasa, tiba-tiba kamu terdampar di kehidupan lain di mana kamu hidup dengan pilihan-pilihan yang sangat berbeda di kehidupan aslimu. Begitu kau tersadar, dirimu versi lain (yang berasal dari dunia yang lain) mencoba hidup di tengah kehidupan aslimu, berada di tengah-tengah orang yang kamu cintai dan menggantikan posisimu. Lalu, saat kamu berusaha untuk kembali ke dunia aslimu, kamu tahu ternyata ada belasan, puluhan, bahkan sangat banyak dirimu versi lain yang bersaing untuk menggantikan posisimu, apa pun caranya.

Coba kita lihat lagi penggalan sinopsisnya:

Apa kau bahagia dengan hidupmu?
Pernahkah kau bertanya-tanya bagaimana jika seandainya kau mengambil pilihan yang berbeda?

Jeng jeng jeng jreeeeng! Saya beneran salut deh sama Blake Crouch karena nilai filosofi di tengah cerita sci-fi menjadikan novel ini sangat unik, cerdas, sekaligus keren! Fix, ini adalah sebuah masterpice.

Sekian review dari saya~

 

 

Keterangan:

Ulasan saya di Goodreads ada di sini.  Tanggal publish ulasan ini disesuaikan dengan tanggal ulasan saya di Goodreads.

Terima kasih.

 

 

Ulasan Novel Sang Putri dan Sang Pemintal

 

 

Screenshot_2017-12-20-14-01-16-502

Judul  Novel             : Sang Putri dan Sang Pemintal

Nama Penulis           : Neil Gaiman

Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit             : 2017

Jumlah Halaman      : 72 hlm.

Rating Goodreads      : 3,9/5

Rating dari saya         : 5/5

Sinopsis:

Si penyihir jahat merasa terpinggirkan, seribu tahun silam. Maka dia mengutuk si putri raja cilik. Saat usianya 18 tahun, jari sang putri akan tertusuk dan sang putri akan tertidur selamanya. Sampai si pangeran tampan berkuda putih datang menyelamatkannya dan membangunkannya dari tidur abadi.

Tetapi tidak ada yang menunggu kedatangan pangeran tampan di sini. Sebab ini versi cerita Neil Gaiman, dan kata Neil Gaiman, “Kalian tidak butuh pangeran untuk menyelamatkan kalian. Saya tidak begitu suka cerita-cerita yang wanita-wanitanya diselamatkan pria.”

 

Screenshot_2017-12-20-14-02-20-543

Dikisahkan sebuah wabah menyerang di sekitar kerajaan sang ratu. Wabah tersebut dimulai dari sang putri yang terkena kutukan dari penyihir jahat. Seharusnya, sang putri mati. Tapi peri lain—peri baik—mengubah kutukan itu menjadi tidur. Tidur karena sihir.

Bukan hanya sang putri. Orang-orang di istana—dari bangsawan sampai para pelayan—juga tertidur. Mendengar kabar itu, ketiga kurcaci ragu. Tidak ada yang perlu ditakutkan tentang tidur, pikir mereka. Sampai akhirnya, mereka melihat sendiri orang-orang yang sebelumnya terjaga kini mematung dan memejamkan mata. Ketiga kurcaci pun lantas memberi tahu sang ratu.

Di kerajaan sang ratu, orang-orang masih beraktivitas demi menyiapkan acara pernikahan sang ratu dan tunangannya. Sayangnya, menurut kabar, wabah itu akan segera sampai ke istana sang ratu dalam waktu dekat.

Karena itulah, sang ratu memutuskan untuk pergi secepatnya dari sana bersama para kurcaci itu. Mereka pergi ke istana tempat sang putri tertidur. Ke tempat yang dipenuhi duri-duri semak mawar di sekeliling istana. Ke tempat di mana kuda-kuda bahkan tertidur sehingga sang ratu dan para kurcaci harus meneruskan perjalanan tanpa menunggang kuda.

Sang ratu tidak tertidur, hanya mengantuk. Begitu pula dengan para kurcaci. Tidak aneh kenapa mereka tidak terkena wabah. Para kurcaci memiliki kemampuan sihir dan wabah tidur itu juga terjadi berkat sihir. Kekebalan yang ada pada diri mereka tak perlu dipertanyakan lagi.

Sihir. Putri yang tertidur. Kurcaci. Sampai sini, apakah kalian teringat suatu dongeng yang pernah ada? Kalau jawaban kalian adalah dongeng Putri Tidur dan Snow White, jawaban kalian benar. Cerita Neil Gaiman satu ini memadukan kedua dongeng tersebut tanpa memudarkan ciri khas dari beliau sendiri.

Berangkat dari premis ‘seseorang menyelamatkan sang putri yang tertidur’,  cerita ini dikemas dengan gaya bahasa yang ringan dan sederhana. Ditambah beberapa ilustrasi yang mumpuni dari Chris Riddell, cerita ini mudah dicerna oleh banyak kalangan.

 

 

 

Di satu sisi, buku dongeng berilustrasi mengingatkan saya pada buku anak. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali saya membaca dongeng seperti itu … mungkin belasan tahun yang lalu.

Tapi, jangan salah. Cerita Sang Putri dan Sang Pemintal TIDAK ditujukan untuk anak-anak. Bisa dilihat pada label di belakang buku ini yang bertuliskan ‘Novel Dewasa’.

 

Screenshot_2017-12-20-18-15-40-854

 

Kenapa demikian? Mari analisis satu per satu.

Pertama, unsur dark yang cukup kental. Hal tersebut bertolak belakang dengan cerita anak-anak yang biasanya ringan dan berbau keceriaan, kan? Nah. Tidak ada keceriaan di sini—yang ada kesuraman, kegelapan, dan sejenisnya. Bagi kaum dewasa pencinta cerita dark seperti saya pasti akan jatuh cinta dengan novel ini. Lalu muncul pertanyaan, ‘bagaimana dengan kaum remaja yang ingin membaca cerita ini?’ Jawaban saya sederhana saja. Kalau kalian terbiasa membaca cerita berbau kelam, kalian tidak akan kaget ketika membaca karya ini.

Kedua, karakter. Percayalah. Di cerita ini, TIDAK ADA karakter yang imut, menggemaskan, atau tipe karakter yang biasa dipuja oleh anak-anak. Karakter para tokoh utama di cerita ini unik dalam cara masing-masing, keren dalam caranya masing-masing. Si Ratu, contohnya. Ia begitu gigih melewati semua rintangan yang ada, tapi di sisi lain ia juga merasa cemas dan khawatir. Terlepas dari semua itu, saya paling suka karakter yang membuat saya sendiri tertipu … ups. Berhubung di akhir cerita ini ada twist yang sama sekali tidak terduga, mungkin saya sebaiknya membahas karakter sampai di sini saja. Hehe.

Ketiga, bagian akhir cerita. Sekali lagi, ini mengandung unsur kelam dan tetap saja berbau dewasa. Di sinilah Neil Gaiman unjuk gigi dengan menyuguhkan bagian akhir yang membuat siapa pun akan menggeleng-gelengkan kepala, termasuk saya. Pokoknya, bagian ini bagian yang paling khas dari sang penulis. Saya belum tahu bagaimana cerita beliau dalam karya yang lainnya, tapi menurut saya memang demikian adanya. Secara pribadi saya juga sangat setuju dengan ungkapan Neil Gaiman yang tertera di halaman belakang buku ini. “Kalian tidak butuh pangeran untuk menyelamatkan kalian. Saya tidak begitu suka cerita-cerita yang wanita-wanitanya diselamatkan pria.”

Sekian ulasan dari saya. Poin lima (5/5) dari saya untuk novel ini. Terima kasih.

 

Catatan : ulasan ini saya sertakan dalam sebuah lomba review, tapi gugur hahaha. Jadi  mohon maklum kalau saya baru mengunggah ulasan ini sekarang. Hehe.

 

 

-Shelly Fw, 20 Desember 2017-