Aku dan Surga Buku

 

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata ‘surga buku’? Taman bacaan? Toko buku? Perpustakaan? Tentu saja surga buku dapat berarti ketiga hal tersebut, tetapi terkait tulisan ini surga buku yang dimaksud adalah perpustakaan. Nah. Sebelum aku menjelaskan perpustakaan mana yang kumaksud, aku akan mengulas sedikit mengenai diriku sendiri. Sedikiiit saja, ya?

Tahun 2007 lalu adalah awal aku menginjak bangku SMA. Iya. Aku tahu itu sudah cukup lama. Haha. Iya iya, itu berarti aku sudah cukup tua sekarang. Ehm. Mari kembali ke topik. Singkat kata, ketika itu aku tergolong sebagai tipe siswi yang introvert. Super introvert sih tidak, tetapi aku memang lebih sering menghabiskan waktu sendiri atau berdua dengan teman sebangkuku. Kegiatan yang kulakukan ketika sendirian ya kalau tidak mendengarkan musik, aku mencoret-coret atau menggambar di buku tulis (lagipula dulu perangkat gawai belum hits seperti sekarang).

Saat aku menginjak kelas sebelas, kebiasaanku mulai berubah. Masih sebagai seorang introvert, aku mulai dikenalkan oleh novel-novel di perpustakaan sekolah oleh temanku yang merupakan novel addict. Selingan info saja, sejak SMP aku sudah mengenal novel sih, tapi waktu itu masih ogah move on dari cerita Harry Potter seri pertama hingga keempat haha. Kembali fokus ke laptop, eh, topik, selain membuatku ‘kecanduan’ membaca novel-novel di perpustakaan sekolahku, aku juga semakin dekat dengan mereka yang juga gemar membaca (hanya dengan mereka aku bisa ekstrovert). Ada banyak novel yang kami baca sekaligus kami diskusikan. Mulai dari novel Looking for Alibrandi karya Melina Marchetta (sumpah ini novel yang inspiratif sekaligus favoritku sampai detik ini!), Buku Seri Edgar & Ellen karya Charles Ogden, Harry Potter seri kelima hingga terakhir karya… yup! J.K. Rowling (pastinya), Sisterhood of The Travelling Pants karya Ann Brashares, Buku Chicken Soup for The Souls (kalau tidak salah yang teenage soul) karya Jack Canfield, dkk., Dua Belas Pendar Bintang karya Alexandra Leirissa Y, buku Kambing Jantan karya Raditya Dika, dan buku-buku lainnya (pokoknya cukup banyak).

Sudah ketebak kan hobi tambahanku itu? Ya. Membaca novel. Seandainya bisa, aku sangat ingin kembali lagi ke masa SMA hanya untuk ‘melahap’ semua novel-novel yang ada di perpustakaan sekolahku yang komplit, plit, plit (padahal di KBBI yang benar itu komplet, bukan komplit haha) itu. Pokoknya berkesan banget deh momen-momen ketika di perpustakaan SMA-ku itu. Sayangnya aku termasuk slow reader dan kadang suka regresi alias suka membaca berulang-ulang jadi ya aku tidak bisa membaca satu novel dalam waktu yang sangat singkat dan malah satu novel tipis saja bisa kuhabiskan dalam waktu empat hari (pada waktu itu loh ya) cukup lama, kan? Kalau sekarang sih, aku dapat membaca novel hanya dalam dua hari saja (kalau novelnya berbahasa Inggris empat hari sih hehe).

Selain sebagai teman, buku juga dapat berfungsi sebagai penghibur diri. Bayangkan, hanya dengan membaca buku/novel kita dapat berimajinasi dengan liar dan tak terbatas. Ide-ide dalam kepala kita tumbuh dan berkembang, terkadang dapat dijinakkan, terkadang tidak. Selain itu kita juga dapat berpikir lebih cepat, lho. Magic pokoknya. Kalau pengalaman pribadiku nih ya, banyak-banyak membaca novel itu meningkatkan konsentrasi dan juga kreativitas! Berhubung saya suka menulis, membaca (bukan hanya novel, tapi juga jenis buku lainnya seperti buku pengembangan diri The Secret atau buku motivasi Mimpi Sejuta Dolar) membantu kita menemukan kesukaan sekaligus passion kita. Banyak-banyaklah membaca, maka kalian akan menemukan kesukaan kalian. Banyak-banyaklah membaca, maka kalian akan membentuk jati diri kalian. Ingat ya, membentuk dan menemukan itu beda. Membaca setidaknya akan membuat kalian terbantu untuk membentuk jati diri.

Beberapa hal yang ingin kutekankan melalui postingan ini adalah:

  1. Manfaatkanlah surga buku di sekitar kalian. Baik itu taman bacaan, toko buku, atau perpustakaan terdekat kalian. ‘Lahaplah’ buku sebanyak-banyaknya. Buku adalah jendela dunia, kawan. Apalagi sekarang bulan Ramadan jadi sambil ngabuburit bisa menghabiskan waktu di surga buku! Hehe
  2. Hindari regresi atau kebiasaan membaca berulang-ulang seperti saya. Kalau memang ada yang tidak dimengerti silakan tanya teman atau cari tahu di kamus atau KBBI.
  3. Tidak ada kata terlambat untuk mulai membaca buku.
  4. Hargai karya anak bangsa. Jangan kayak saya yang dulunya di perpustakaan hanya lebih suka melahap buku/novel yang bukan karya anak bangsa. Serius saya menyesal, lho. Apalagi sekarang cukup banyak variasi genre buku/novel karya anak bangsa seperti horor, komedi, thriller, dan lain sebagainya.
  5. Jangan takut takkan memiliki teman hanya karena kamu kutu buku/kutu novel (?) Justru dengan sering-sering berkecimpung di surga buku, kamu mungkin akan bertemu dengan mereka yang memiliki hobi sama denganmu dan bahkan dapat membentuk komunitas membaca dan lain sebagainya. Seru, kan?

 Nah. Sekian pemaparan dariku. Oya. Satu lagi. Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.

 

Semoga bermanfaat, ya 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Supernatural vs Paranormal

Pasti kalian pernah mendengar kata ‘supernatural’ maupun kata ‘paranormal’ kan? Oya, Supernatural yang saya maksud di sini bukan judul tv series yang dibintangi si tamvan Jensen Ackles, ya, (haha) tapi mengenai genre cerita fiksi. Bisa cerita dalam film ataupun novel. Nah, di sini akan dibahas mengenai perbedaan spesifik di antara kedua genre tersebut.

Pertama, genre supernatural. Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata supernatural? Perlu kita catat dulu bahwa dalam kata tersebut terdapat kata natural. Sebut saja misalnya manusia atau serigala. Nah, unsur supernatural ini muncul ketika bentuk natural ini menjadi sesuatu yang ‘lebih’ atau super seperti vampir, werewolf, dsb. Bisa juga bentuk natural ini merupakan benda mati seperti lemari, dan bentuk supernaturalnya yaitu cerita Lemari Pemakan Rambut karya Muhamad Rivai. Penasaran? Silakan baca di Wattpad. Haha.

Kedua, genre paranormal. Kalau kalian membayangkan seorang peramal begitu mendengar paranormal, kalian tidak salah. Paranormal adalah sesuatu di luar normal dan seringkali dihubung-hubungkan dengan kekuatan mistis. Sebenarnya paranormal lebih luas dari itu, lho. Seseorang yang memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain, seorang indigo, atau kemampuan telekinesis termasuk ke dalam kategori paranormal. Cerita Dinar vs Si Kembar (ehem sekalian promosi xD) dan cerita Touché karya Windhy Puspitadewi adalah contoh cerita dengan genre ini.

Sudah terlihat jelas perbedaannya? Mari kita bedah sebuah cerita. Apa ya, hm, Twilight Saga! Genre apa yang dominan dalam cerita itu? Pasti ada yang berpikir fantasi, supernatural, maupun paranormal. Nah. Yang mana yang tepat?

Edward Cullen yang merupakan seorang vampir adalah bentuk dari unsur supernatural itu sendiri. Kan, bentuk naturalnya manusia. Begitu pula dengan Jacob Black, sang werewolf kece gak ketulungan yang mana bentuk naturalnya adalah yah, antara manusia dan serigala. Terus, kemampuan Edward untuk membaca pikiran orang lain? Kemampuan Alice melihat masa depan? Termasuk genre paranormal juga, dong? Jawabannya adalah ya. Cerita Twilight Saga mengandung genre supernatural sekaligus paranormal. Hanya saja, dalam cerita Twilight Saga kedua genre tersebut berupa sub-genre karena genre utamanya adalah romance… atau fantasi? Wateper lah haha. Jadi rasanya kurang tepat kalau Twilight Saga lebih condong ke genre supernatural aja atau paranormal aja.

Yuk lanjut bahas cerita selanjutnya. iZombie! (Ini cerita favorit saya banget!) Lebih condong ke mana? Supernatural karena terdapat zombie (bentuk supernatural dari manusia) atau paranormal (karena Liv bisa menerawang atau mendapatkan vision)? Jawabannya sama seperti yang di atas. Unsur supernatural dan paranormal hanya terdapat dalam sub-genre, sementara genre utamanya adalah… ya! Crime!

Gimana? Mudahan bisa sedikit memperjelas, ya. Kalau ada pertanyaan silakan tanyakan saja. Oya, postingan ini terilhami dari (cielah)
http://ourbooksourvoice.blogspot.co.id/2013/04/supernatural-vs-paranormal.html

image

Semoga bermanfaat! 😀

LOMBA MENULIS NOVEL REMAJA ALL ABOUT TEEN’S LIFE (DL 29 Aug ’14)

Lomba dari Noura Books! ^,^ Are you keen to get involved? 😀

We love stories about teenagers …” ― John Green

Dear Writers,

Kehidupan remaja enggak pernah berhenti ngasih inspirasi, ya! Cerita persahabatan, impian, pengalaman baru, bahkan … cinta. Kamu suka nulis novel remaja? Pas banget, redaksi teen@nouraajak penulis Indonesia buat ikutan kompetisi ini.

Ayo terima tantangan kami dengan baca ketentuan berikut, ya:

lebih lanjut

Stop Dreaming, Start Planning and Doing

Stop-Planning-Start-Doing-and-Achieve-More

Yep…..ini menyangkut tentang resolusi tahun baru. Bukan slogan konser ato semacamnya xD

Bukan, bukan. Post ini tidak mengajak kalian untuk berhenti bermimpi sama sekali. Itu SAHAM (salah paham) namanya.

Mari ulangi membaca judul postingan ini: Stop Dreaming, Start Planning and Doing.

See?

Intinya adalah…bahwa mimpi hanya akan menjadi mimpi tanpa proses / usaha. Kalian punya tujuan? Beginilah kira-kira gambarannya:

Sebut saja kalian bertujuan Lulus Ujian Matematika. Sebelumnya, mari kita tempatkan hal tersebut sebagai mimpi.

Maka kalian targetkan jam-jam pada hari-hari yang akan kalian habiskan untuk mempelajari Matematika, bukan? Anggaplah hal itu sebagai perencanaan (plans).

Kalian melakukannya sesuai rencana? Melakukannya namun tidak persis seperti rencana? Tidak masalah. Setidaknya kalian melakukannya kan?

Rumus yang harus kita ingat simpelnya seperti ini:  Planning + Doing = Reach your dream!

Maka itulah judul post ini. Mengajak siapapun untuk mulai merencanakan dan bergerak. MENGAJAK! Yayayaya, better said than done. Saya sendiri masih perlu menanamkan ‘mantra’ ini pada diri saya. Jadi, yuk mari merealisasikan mimpi!

Sering juga kita mendengar ungkapan ‘Stop Dreaming Start Doing’ well, tidak salah sih. Tapi daripada target-target yang ingin dicapai keteteran atau kelupaan? Seperti mengangkat jemuran (oke itu terlalu simpel) ehem, misal nih, perlu ke kantor pos, terus ke super market di sekitar tempat itu, lalu ke atm. Nah, sebisa mungkin cantumkan rencana-rencana tersebut pada notes ponsel atau semacamnya. Bisa juga misalnya dalam satu hari kita harus mengerjakan suatu laporan proyek, lalu menelepon klien, dan menjemput adik lalu membeli peralatan dapur. Nah, gamau ‘kan kita jadi lupa jemput adik (ga mungkin juga sih setega atau selupa itu)  atau malah lupa menelepon klien, atau malah lupa beli peralatan dapur? Nah, itulah gunanya perencanaan. Hal sepele atau bukan, jangka pendek atau panjang.

Setidaknya itulah gunanya notes. Di ponsel atau buku saku. Terserah. Tetap saja, Tinta lebih ampuh dibanding otak dalam hal ini. Oya, otak di sini maksudnya memori.

Sekian postingan dari saya. Semoga bermanfaat!