The Hidden Pearl

img27

Nyanyikanlah aku senandung sendu
Agar rindu kan menemukan jalannya
Meski desir angin menghapus jejaknya

===

Tidak ada yang menyangka bahwa turnamen Sekolah Venroth yang ke tiga puluh tujuh akan berubah menjadi mimpi buruk.

Sebut saja kecelakaan. Seandainya cuaca buruk di hari pertama turnamen sudah dapat diprediksi, kecelakaan yang membuat Garda terluka parah tidak akan terjadi dan turnamen dapat berlanjut dari hari ke hari seperti biasa.

Tidak ada kesibukan di antara wajah-wajah antusias yang biasanya terlihat saat turnamen. Atau gelombang semangat yang terasa di seantero sekolah Venroth. Yang ada hanyalah kesibukan di tengah kecemasan dan kekhawatiran. Adapun golongan yang paling sibuk tentunya tim penyembuh berikut guru-guru bidang ramuan dan pengobatan serta murid-murid yang secara sukarela bergabung dalam tim penyembuh.

Para murid yang tergabung dalam tim tersebut tentu tahu apa saja yang harus mereka lakukan. Satu kali rapat kilat saja dan mereka langsung bergerak sedemikian gesitnya. Mereka juga tahu tumbuh-tumbuhan apa saja yang harus dikumpulkan untuk diramu, ramuan apa saja yang harus digunakan, dan lain sebagainya.

Luka yang mereka tangani kali ini termasuk yang terparah. Di samping fakta bahwa memang hampir selalu ada korban cedera di balik turnamen, belum pernah ada luka yang membutuhkan begitu banyak ramuan, penyembuh, dan sihir (mengingat luka dalam Garda membutuhkan sangat banyak ramuan sehingga disepakati penggunaan sihir sebagai biusnya).  Ditambah, baru kali ini ada seekor naga terluka di hari turnamen. Dan naga yang terluka itu bernama Garda.

Lanjut baca

Cureless

 

Jantungku nyaris terhenti ketika pandangan hewan itu mengarah padaku. Tepat ke arahku, mengunci gerak tubuhku. Aku menelan ludah, memastikan bidikan panahku tertuju ke suatu titik pada tubuh hewan itu…sebelum terlambat.

Menyadari sesuatu, rusa itu pun berlari secepat yang ia bisa sebelum akhirnya ambruk ke tanah dan seolah meronta-ronta memohon pertolongan.

Terlambat. Sebuah anak panah sudah tertancap dengan mantap di tubuhnya dan sebentar lagi ia akan menjadi santapan seseorang.

Seseorang. Bukan aku. Bukan anak panahku yang melukai tubuh rusa tersebut. Siapapun itu, ia memanah dari arah yang berlawanan denganku. Ah, seharusnya aku mengetahuinya dari awal. Tanpa kusadari kedua tanganku terkepal erat, terlalu berat rasanya bagiku untuk kembali kehilangan buruanku.

Aku pun mengangkat tasku dari tanah dengan marah, mengakibatkan beberapa koin dari dalam tasku terjatuh berceceran ke tanah.

Ah, sial! Aku bahkan harus sembunyi-sembunyi untuk mengambil semua koinku yang terjatuh agar tidak diketahui si pencuri buruanku itu. Ada sekitar empat koin milikku yang menggelinding dan untungnya aku dapat mengambil koin-koin itu sebelum benda berharga milikku tersebut menggelinding lebih jauh.

Setelah memasukkan koin-koinku ke dalam tas secara hati-hati aku akhirnya memutuskan untuk tetap bersembunyi di balik semak-semak sambil terus bergerak menjauhi tempat sialan ini.

“Apa ini koin milik…mu?” tanya sebuah suara yang kurasa berasal dari arah belakang. Tak salah lagi. Pemilik suara itu pasti si pencuri buruanku itu!

Adalah sebuah kebodohan bila aku membalikkan badan dan lebih memedulikan koin satu penn yang kini berada di tangan gadis itu. Daripada membayangkan apa yang akan terjadi bila gadis itu melihatku, lebih baik aku pergi. Sekarang.

“Hei, tunggu!” cegahnya. Kupercepat pergerakan kedua kakiku tanpa menghiraukannya.

Suara gadis itu masih terdengar lebih jelas. “Hei! Tunggu! Jangan pergi!” serunya.

Pergilah! Jangan pedulikan aku dan makan saja buruanmu sana! Aku berteriak dalam hati.

“Hei! Aku ingin bicara denganmu!” teriaknya lagi.

Aku benar-benar tidak mengerti kenapa gadis itu memaksaku untuk mengambil koinku itu. Dia sinting atau apa? Aneh sekali. Lagipula apa urusannya denganku? Kenapa dia bahkan memilih untuk meninggalkan buruannya dan bersikeras—

Tubuhku hanya bisa bergeming begitu sebuah anak panah menancap sekitar setengah senti dari telinga kiriku.

Yang benar saja! Ia bahkan sengaja memanah sebuah pohon di dekatku untuk dapat menghentikanku. Ha. Kurasa dia ingin menantangku untuk adu kemampuan memanah.

Aku bergeming selama dua kedipan mata. Menyadari keberadaan gadis itu semakin mendekat, aku akhirnya membalikkan badan dengan terpaksa.

Tidak sedekat yang kukira. Gadis itu memang masih jauh dari tempatku berdiri namun aku dapat menilai pergerakan tubuh gadis itu.

Aneh. Ini sungguh aneh. Dalam perkiraanku, gadis ini akan berteriak ketakutan dan berlari menjauh setelah melihat wajahku. Setidaknya seperti itulah reaksi orang-orang lainnya yang melihat wajahku atau bahkan penampilanku.

Tidak seperti gadis ini. Ia lain. Ia tidak berlari ketakutan ataupun berteriak begitu melihat wajahku. Sebaliknya, ia justru tampak ingin membicarakan sesuatu padaku. Sesuatu yang sama sekali tidak bisa kutebak.

Kedua matanya sewarna kayu basah. Rambutnya yang dibiarkan tergerai begitu sewarna dengan bunga mawar hitam. Kulitnya yang hanya terbuka di sekitar mata dan tangannya sewarna dengan zaitun.

Aku juga tidak mengerti kenapa ia menutupi hampir seluruh kulit tubuhnya seperti itu. Hal itu tampak wajar bila ia berpenampilan buruk rupa sepertiku namun rasanya amatlah ganjil bila gadis di hadapanku ini berpakaian tertutup terutama di siang bolong seperti ini.

Siapa sebenarnya gadis ini?

“Ini koinmu.” katanya sambil menyerahkan koin milikku.

Harus kuakui aku terkejut sendiri mendapati gadis ini yang tidak merasa jijik bersentuhan denganku.

“Jadi…” aku berdeham untuk bicara dengan jelas dan menutupi keterkejutanku. “Kau memanggilku bukan hanya untuk mengembalikan koinku, kan?”

Gadis itu menggelengkan kepala dengan singkat. “Aku perlu bicara denganmu.”

Aku hanya bisa mengerutkan keningku.

“Kurasa aku butuh teman untuk menghabiskan buruanku.” Gadis itu kemudian berlalu meninggalkanku, mengisyaratkanku untuk mengikutinya.

Siang itu aku benar-benar makan enak. Makan hasil buruan orang lain memang merupakan kenikmatan yang takkan pernah kulupakan.

“Enak!” ucapku sebelum melahap daging rusa panggang terakhir. “Ini daging terlezat yang pernah kumakan!”

“Syukurlah.” ucap gadis itu. “Makan saja sebanyak yang kau mau.” Gadis itu kemudian memotongkan bagian kaki rusa panggang yang cukup besar untukku.

“Makan saja. Aku sudah kenyang.”

Bahkan perut dan lidahku tak sanggup untuk menolak tawaran itu.

Aku kemudian menyadari sesuatu. “Hei.Aku tidak melihat kau makan.” Dan aku juga tidak melihat kau melepas cadarmu ketika makan, tambahku dalam hati.

Gadis itu hanya memusatkan pandangannya pada sisa-sisa lidah api yang memancarkan cahaya berwarna kuning menyala di antara kayu-kayu. “Kau makan terlalu cepat.”

Aku nyengir. Sudah ditawari makan enak, diberi makan jatah lebih pula. Apa gunanya menolak?

Jadi aku pun menikmati santapanku itu. Awalnya aku sempat curiga dengan perilakunya yang kelewat ramah ini tanpa bisa mengusir anggapan bahwa ia pasti menginginkan sesuatu dariku namun rasanya konyol bila aku meyakini anggapan tersebut. Apa yang gadis ini butuhkan dari seorang pemuda yang buruk rupa sepertiku? Betapa konyolnya anggapan itu.

“Jadi…apa yang akan kita bicarakan?”

Gadis itu menghela nafas sejenak sebelum berkata, “Kutukan.”

Aku nyaris tersedak. Untungnya kegiatan makanku sudah selesai jadi aku tak perlu khawatir akan bereaksi secara berlebihan.

“Oh. Mungkin maksudmu adalah kutukanku.”Aku mengoreksi.

“Tidak, bukan.”

“Apa?”

Hal yang selanjutnya terjadi sama sekali di luar perkiraanku. Ia membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya, memperlihatkan sesuatu yang sedari tadi ia tutupi.

Ada sorot kesedihan dalam matanya. Bibirnya yang semerah delima melengkung muram, begitu pula dengan suaranya yang tidak selugas sebelumnya. Murung.

Agaknya sekarang aku mengerti mengapa gadis ini menutupi sebagian wajahnya dan berpakaian serba tertutup.

Dia adalah gadis tercantik yang pernah kutemui. Tatapannya laksana perairan tenang namun menghanyutkan. Hidungnya bak pahatan, tidak terlalu mancung ataupun cekung. Selain pipinya yang merona alami, bagian yang paling menarik perhatianku adalah bibir merah alami miliknya yang tipis sempurna. Sungguh jelmaan kesempurnaan. Anggun dan menawan.

Aku tidak tahu berapa lama aku menatapnya dengan penuh kagum. Aku hanya bisa merundukkan kepala karena malu begitu ia kembali memakai cadar hitamnya, menyadarkanku kembali ke kenyataan.

Kenyataan. Setidaknya ini memang bukan mimpi. Degupan jantungku yang masih berpacu begitu cepat menambah keyakinanku bahwa semua ini memang bukanlah mimpi. Gadis istimewa yang ada di hadapanku adalah nyata meski menurutku ia terlalu sempurna untuk ukuran manusia.

Jadi itulah alasannya. Alasan ia menutupi sebagian wajahnya. Melindungi diri. Melindungi kecantikannya yang…

Lagi, aku terhanyut dalam pikiranku sendiri hingga akhirnya suara muram gadis itu menyatakan sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Sesuatu tentang kecantikannya yang baru saja ia tunjukkan padaku.

“Karena aku juga dikutuk sepertimu.”

===

Continue reading “Cureless”

Cerita Sang Ayah

“Ayah, akankah kita melihat matahari terbit lagi?”


“Tentu. Ayah janji kali ini kita bisa melihatnya lebih lama,” 


———————————

“Nah. Sekarang bukalah kedua matamu.” ucap sang ayah pada anaknya.

Sedetik kemudian terdengar helaan nafas; keheningan yang sarat akan kekaguman, lebih tepatnya. Tak lebih dari itu. 

Di hadapan mereka, langit tampak jelita. Fenomena khas ufuk timur terlukis disana. Lengkap dengan bias warna lembayung jingga sang mentari. Seakan langit menunjukkan keelokannya. 

“Cantik sekali,” ucap si bungsu penuh kagum.

“Ya. Dan ayah tidak keberatan bila kau ingin mengamati sedikit lebih lama,” 

“Benarkah?”

“Tentu. Apapun untuk hari ulang tahunmu, Nak.” 

“Asyiiiiiiiik,” kedua kaki mungil si bungsu memantul-mantul ringan di atas dahan yang ia pijak. 

“Hahaha..tapi kau harus ingat, kita harus segera kembali menuju sarang,”

“Baik, ayah.” 

Menit-menit berlalu. Pagi menjelang. Cahaya kemerahan berganti menjadi kekuningan; ini berarti mereka harus segera pergi ke sarang dan menunggu hingga matahari tenggelam seperti biasa. 

Perjalanan mereka menuju sarang tidaklah terlalu jauh. Di atas warna-warni tanaman berbunga yang dikelilingi rerumputan liar dan pepohonan yang rimbun, mereka terbang melewati beberapa hewan lain seperti serangga, burung-burung, dan bahkan hewan-hewan ternak seperti ayam dan sapi. Sesekali si bungsu juga memerhatikan beberapa manusia dari kejauhan yang mengawali hari mereka.

Si bungsu menelan ludah. Ada sesuatu yang janggal yang perlu ia bicarakan dengan ayahnya namun ia memilih untuk melanjutkan mengepakkan sayap, kembali ke tempat gelap bersama yang lain. 

Sesampainya mereka di sarang, setelah mendarat di tempat yang manusia kenal dengan sebutan langit-langit gua, si bungsu berkata, “Ayah, aku ingin nanti ayah bercerita lagi.”

Sang ayah tertawa ringan. “Hari belum akan berganti setelah kita bangun nanti. Tentu. Cerita apa yang ingin kau dengar, Nak?” 

Si bungsu berpikir sejenak. Ia tampak tidak yakin ingin memberi jawaban apa. 

“Cerita tentang serangga tersesat! Oh, tunggu. Cerita tentang manusia pemburu ular berbisa kalau tidak salah kemarin belum selesai, kan Yah?” timpal kelelawar lain.

Si bungsu berkata dengan kesal. “Kemarin kau tidur lebih cepat, Kak. Lagipula hari ini hari ulang tahunku jadi aku bebas ingin diceritakan tentang apa saja.”

“Baiklah.” Si sulung mengalah. “Tapi aku boleh ikut mendengar ceritanya juga, kan?” godanya. 

Sang ayah hanya menatap si bungsu seolah memberi kesempatan baginya untuk menjawab. 

“Tentu saja. Aku hanya ingin mendengar cerita tentang kelelawar malang.”

“Kelelawar malang?” tanya si sulung heran. “Cerita tentang kelelawar yang menyelinap keluar di siang bolong sehingga akhirnya sayapnya terbakar itu? Itu kan cerita kuno!”

“Aku tahu. Hanya saja kali ini ceritanya dihubungkan dengan…cerita serangga yang tersesat! Bagaimana, yah? Bisa kan?”

Sang ayah tertawa pelan. “Tentu. Mau sekalian dihubungkan dengan kisah tanaman teratai?” 

“Wah, boleh, boleeeeh!” seru si bungsu riang yang kemudian disusul dengan suara protes dan gerutu dari beberapa kelelawar lain yang terganggu tidurnya. Ia lantas meminta maaf. 

Si sulung kemudian berbisik, “Ugh. Lebih baik aku memangsa serangga di tepi danau bersama ibu saja nanti malam,” kemudian ia berlalu dan bergelantung persis di samping ibunya yang sudah tampak tertidur.

“Ayah?” bisik si bungsu tak lama kemudian, setelah ia dan sang ayah bergelantung berdampingan. Dari langit-langit samar-samar terlihat cahaya buram memasuki dasar gua. 

“Ya?” balas ayahnya berbisik.

“Sebenarnya aku ingin…”

“Katakan saja pada Ayah, Nak. Pertanyaan, keinginan, apapun itu.” 

Si bungsu merasa sedikit lega sekarang. Ia pun berbisik. “Ayah, adakah kisah yang menjelaskan alasan kelelelawar tidak bisa keluar pada siang hari? Atau semacam…asal-usul yang menjadikan kita makhluk malam?” bisiknya.

Si bungsu berdusta di hadapan si sulung, sang ayah mengerti. Mengajukan pertanyaan sekaligus keinginan, tentu tidaklah masalah. Ia bahkan mengakui bahwa si bungsu lebih cerdas dibanding si sulung meski di sisi lain kelebihan si sulung yaitu lebih gesit dan peka dibanding si bungsu. Namun ia tak pernah dibuat sekaget ini. Ia bahkan langsung membuka kedua matanya lebar-lebar begitu mendengar pernyataan anaknya.

Tapi justru sifat inilah yang sang ayah kagumi dari makhluk jantan satu ini. “Tentu saja ada, Nak.”

“Benarkah? Apa judul ceritanya, Yah?” tanya si bungsu, tak lupa merendahkan suaranya.

“Kelelawar dan matahari” jawab sang ayah.

***
lebih lanjut

Lukisan Verzasca

Sono le tre e quindici,”[i] ucap pria paruh baya sembari menunjukkan jam tangannya.

Grazie. Buon giorno, signore![ii] kataku pamit sebelum membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar taksi dengan agak terburu-buru.

Sungguh dinamika cuaca yang menyebalkan. Dengan suhu 54°Fahrenheit seharusnya langit Ticino cukup berawan seperti hari-hari sebelumnya! Ah, untung saja aku membawa jas hujan sehingga aku dapat merasa sedikit lega.

Tapi…kapan lagi aku akan menikmati hujan di Kota Ticino? Aku tersenyum sendiri memikirkannya.

Inilah hal yang menarik dari Ticino. Selain kota ini adalah salah satu surga bagi para pecinta alam dan seniman sepertiku, Bahasa Italia yang memonopoli sebagian besar percakapan disini juga menjadi salah satu keunikan dari Ticino; awalnya aku membenci hal ini, namun hari ini aku banyak menggunakan bahasa tersebut.

Kuhentikan langkah sejenak setibanya di pertigaan St. Nicolao. Tanpa ragu-ragu aku memasuki sebuah bar dan langsung memesan white merlot pada bartender.

***

lebih lanjut