A Lullaby

   
You came with no sound

I’ve been searching, nothing I found

Then you whisper my name, faintly that I could remember

Caught me off guard, out of consciousness

You sang me every night without getting me afraid
   

You brought me into my darkness dream

But I never care, I’m mesmerized from the start anyway

How could I resist your melodiously hypnotizing voice?

Please, come again

   
Then you sang me a lullaby again

Swept my fear away

Though I couldn’t see, but I believe that you were there with me

   
Now I know what I want

You’re all what I need

From now on, please don’t just come and sing

Bring me to your realm instead


-Shelly Fw, 8 August 2016- 

You can also read it on wattpad here:   https://www.wattpad.com/294976324-haunted-verses-paranormal-poems-a-lullaby

#poem #paranormalpoem #sorryfortheunperfectgrammar 

Cureless

 

Jantungku nyaris terhenti ketika pandangan hewan itu mengarah padaku. Tepat ke arahku, mengunci gerak tubuhku. Aku menelan ludah, memastikan bidikan panahku tertuju ke suatu titik pada tubuh hewan itu…sebelum terlambat.

Menyadari sesuatu, rusa itu pun berlari secepat yang ia bisa sebelum akhirnya ambruk ke tanah dan seolah meronta-ronta memohon pertolongan.

Terlambat. Sebuah anak panah sudah tertancap dengan mantap di tubuhnya dan sebentar lagi ia akan menjadi santapan seseorang.

Seseorang. Bukan aku. Bukan anak panahku yang melukai tubuh rusa tersebut. Siapapun itu, ia memanah dari arah yang berlawanan denganku. Ah, seharusnya aku mengetahuinya dari awal. Tanpa kusadari kedua tanganku terkepal erat, terlalu berat rasanya bagiku untuk kembali kehilangan buruanku.

Aku pun mengangkat tasku dari tanah dengan marah, mengakibatkan beberapa koin dari dalam tasku terjatuh berceceran ke tanah.

Ah, sial! Aku bahkan harus sembunyi-sembunyi untuk mengambil semua koinku yang terjatuh agar tidak diketahui si pencuri buruanku itu. Ada sekitar empat koin milikku yang menggelinding dan untungnya aku dapat mengambil koin-koin itu sebelum benda berharga milikku tersebut menggelinding lebih jauh.

Setelah memasukkan koin-koinku ke dalam tas secara hati-hati aku akhirnya memutuskan untuk tetap bersembunyi di balik semak-semak sambil terus bergerak menjauhi tempat sialan ini.

“Apa ini koin milik…mu?” tanya sebuah suara yang kurasa berasal dari arah belakang. Tak salah lagi. Pemilik suara itu pasti si pencuri buruanku itu!

Adalah sebuah kebodohan bila aku membalikkan badan dan lebih memedulikan koin satu penn yang kini berada di tangan gadis itu. Daripada membayangkan apa yang akan terjadi bila gadis itu melihatku, lebih baik aku pergi. Sekarang.

“Hei, tunggu!” cegahnya. Kupercepat pergerakan kedua kakiku tanpa menghiraukannya.

Suara gadis itu masih terdengar lebih jelas. “Hei! Tunggu! Jangan pergi!” serunya.

Pergilah! Jangan pedulikan aku dan makan saja buruanmu sana! Aku berteriak dalam hati.

“Hei! Aku ingin bicara denganmu!” teriaknya lagi.

Aku benar-benar tidak mengerti kenapa gadis itu memaksaku untuk mengambil koinku itu. Dia sinting atau apa? Aneh sekali. Lagipula apa urusannya denganku? Kenapa dia bahkan memilih untuk meninggalkan buruannya dan bersikeras—

Tubuhku hanya bisa bergeming begitu sebuah anak panah menancap sekitar setengah senti dari telinga kiriku.

Yang benar saja! Ia bahkan sengaja memanah sebuah pohon di dekatku untuk dapat menghentikanku. Ha. Kurasa dia ingin menantangku untuk adu kemampuan memanah.

Aku bergeming selama dua kedipan mata. Menyadari keberadaan gadis itu semakin mendekat, aku akhirnya membalikkan badan dengan terpaksa.

Tidak sedekat yang kukira. Gadis itu memang masih jauh dari tempatku berdiri namun aku dapat menilai pergerakan tubuh gadis itu.

Aneh. Ini sungguh aneh. Dalam perkiraanku, gadis ini akan berteriak ketakutan dan berlari menjauh setelah melihat wajahku. Setidaknya seperti itulah reaksi orang-orang lainnya yang melihat wajahku atau bahkan penampilanku.

Tidak seperti gadis ini. Ia lain. Ia tidak berlari ketakutan ataupun berteriak begitu melihat wajahku. Sebaliknya, ia justru tampak ingin membicarakan sesuatu padaku. Sesuatu yang sama sekali tidak bisa kutebak.

Kedua matanya sewarna kayu basah. Rambutnya yang dibiarkan tergerai begitu sewarna dengan bunga mawar hitam. Kulitnya yang hanya terbuka di sekitar mata dan tangannya sewarna dengan zaitun.

Aku juga tidak mengerti kenapa ia menutupi hampir seluruh kulit tubuhnya seperti itu. Hal itu tampak wajar bila ia berpenampilan buruk rupa sepertiku namun rasanya amatlah ganjil bila gadis di hadapanku ini berpakaian tertutup terutama di siang bolong seperti ini.

Siapa sebenarnya gadis ini?

“Ini koinmu.” katanya sambil menyerahkan koin milikku.

Harus kuakui aku terkejut sendiri mendapati gadis ini yang tidak merasa jijik bersentuhan denganku.

“Jadi…” aku berdeham untuk bicara dengan jelas dan menutupi keterkejutanku. “Kau memanggilku bukan hanya untuk mengembalikan koinku, kan?”

Gadis itu menggelengkan kepala dengan singkat. “Aku perlu bicara denganmu.”

Aku hanya bisa mengerutkan keningku.

“Kurasa aku butuh teman untuk menghabiskan buruanku.” Gadis itu kemudian berlalu meninggalkanku, mengisyaratkanku untuk mengikutinya.

Siang itu aku benar-benar makan enak. Makan hasil buruan orang lain memang merupakan kenikmatan yang takkan pernah kulupakan.

“Enak!” ucapku sebelum melahap daging rusa panggang terakhir. “Ini daging terlezat yang pernah kumakan!”

“Syukurlah.” ucap gadis itu. “Makan saja sebanyak yang kau mau.” Gadis itu kemudian memotongkan bagian kaki rusa panggang yang cukup besar untukku.

“Makan saja. Aku sudah kenyang.”

Bahkan perut dan lidahku tak sanggup untuk menolak tawaran itu.

Aku kemudian menyadari sesuatu. “Hei.Aku tidak melihat kau makan.” Dan aku juga tidak melihat kau melepas cadarmu ketika makan, tambahku dalam hati.

Gadis itu hanya memusatkan pandangannya pada sisa-sisa lidah api yang memancarkan cahaya berwarna kuning menyala di antara kayu-kayu. “Kau makan terlalu cepat.”

Aku nyengir. Sudah ditawari makan enak, diberi makan jatah lebih pula. Apa gunanya menolak?

Jadi aku pun menikmati santapanku itu. Awalnya aku sempat curiga dengan perilakunya yang kelewat ramah ini tanpa bisa mengusir anggapan bahwa ia pasti menginginkan sesuatu dariku namun rasanya konyol bila aku meyakini anggapan tersebut. Apa yang gadis ini butuhkan dari seorang pemuda yang buruk rupa sepertiku? Betapa konyolnya anggapan itu.

“Jadi…apa yang akan kita bicarakan?”

Gadis itu menghela nafas sejenak sebelum berkata, “Kutukan.”

Aku nyaris tersedak. Untungnya kegiatan makanku sudah selesai jadi aku tak perlu khawatir akan bereaksi secara berlebihan.

“Oh. Mungkin maksudmu adalah kutukanku.”Aku mengoreksi.

“Tidak, bukan.”

“Apa?”

Hal yang selanjutnya terjadi sama sekali di luar perkiraanku. Ia membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya, memperlihatkan sesuatu yang sedari tadi ia tutupi.

Ada sorot kesedihan dalam matanya. Bibirnya yang semerah delima melengkung muram, begitu pula dengan suaranya yang tidak selugas sebelumnya. Murung.

Agaknya sekarang aku mengerti mengapa gadis ini menutupi sebagian wajahnya dan berpakaian serba tertutup.

Dia adalah gadis tercantik yang pernah kutemui. Tatapannya laksana perairan tenang namun menghanyutkan. Hidungnya bak pahatan, tidak terlalu mancung ataupun cekung. Selain pipinya yang merona alami, bagian yang paling menarik perhatianku adalah bibir merah alami miliknya yang tipis sempurna. Sungguh jelmaan kesempurnaan. Anggun dan menawan.

Aku tidak tahu berapa lama aku menatapnya dengan penuh kagum. Aku hanya bisa merundukkan kepala karena malu begitu ia kembali memakai cadar hitamnya, menyadarkanku kembali ke kenyataan.

Kenyataan. Setidaknya ini memang bukan mimpi. Degupan jantungku yang masih berpacu begitu cepat menambah keyakinanku bahwa semua ini memang bukanlah mimpi. Gadis istimewa yang ada di hadapanku adalah nyata meski menurutku ia terlalu sempurna untuk ukuran manusia.

Jadi itulah alasannya. Alasan ia menutupi sebagian wajahnya. Melindungi diri. Melindungi kecantikannya yang…

Lagi, aku terhanyut dalam pikiranku sendiri hingga akhirnya suara muram gadis itu menyatakan sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Sesuatu tentang kecantikannya yang baru saja ia tunjukkan padaku.

“Karena aku juga dikutuk sepertimu.”

===

Continue reading “Cureless”