Review Novel London: Angel

Data Novel London: Angel bisa dilihat di sini.

 

Rating di Goodreads: 3,8/5.

Rating dari saya: 4,5 dari 5 bintang.

 

Ulasan:

Ini pertama kalinya saya membaca karya kak Windry.

Novel London

Aaaaand here is my review.

Mungkin, bagi yang lain, novel ini mengisahkan tentang cinta dan petualangan. Namun, bagi saya, novel ini justru tentang keajaiban dan kedewasaan. Selebihnya, barulah mengenai cinta dan petualangan. Kenapa saya berpendapat demikian? Keunikan novel London ini adalah elemen realistic fiction berbau romance yang dipadukan dengan sedikit kepercayaan mengenai malaikat yang hadir ketika hujan turun. Itulah kenapa novel ini memiliki subjudul: Angel. Sungguh kombinasi yang sangat baik. Saya malah sempat mengira, novel ini ditulis oleh seorang laki-laki. Hehehe. Penggunaan sudut pandang orang pertama dari protagonis bernama Gilang. Karakter Gilang cukup kuat, begitu juga karakter tokoh-tokoh lainnya. Saya juga suka pemilihan nama tokoh ‘Ning’ karena sangat Indonesia dan manis sekali. Salut! Elemen-elemen di cerita ini begitu saling mengisi satu sama lain.

Saya juga baru mengerti mengenai kata ‘hibuk’. Sempat mengira itu typo, tapi ternyata dalam KBBI hibuk bisa berarti sibuk. Hmmm. Sebuah ilmu baru yang cukup menggugah juga. Ah, semoga saya suatu saat bisa menginjakkan kaki di London dan menemukan keajaiban-keajaiban di sana (meski bukan dalam konteks malaikat, karena keajaiban dapat berupa apa saja wkwkwk)~

Mungkin seharusnya saya ‘melahap’ novel kak Windry yang lainnya supaya saya bisa banyak belajar menulis novel dari kak Windry. Heheheheeeee.

Ah, reading this novel really makes me think:

I don’t need love. I need miracles.

 

 

 

Keterangan:

Ulasan saya di Goodreads ada di sini.  Tanggal publish ulasan ini disesuaikan dengan tanggal ulasan saya di Goodreads.

Terima kasih.

 

 

Advertisements

Review Novel Sudut Mati

Data Novel Sudut Mati bisa dilihat di sini.

 

Ulasan:

Rating di Goodreads 3,96/5. Dari saya? Pastinya 5/5!

Hmmm. Penulisnya kece. Editornya kece. Ceritanya?

Seperti yang pernah saya ulas di sini, novel ini termasuk bacaan ngeri-ngeri sedap. Sudut Mati karya Tsugaeda mengangkat genre thriller dan tema korporasi yang dikemas secara cerdas tanpa mengurangi nilai-nilai berbau Indonesia—permen jahe, Bahasa Jawa, bahkan sampai paranormal.

Sudut Mati karya Tsugaeda

Hal-hal yang sangat saya sukai dalam novel ini:
> Banyak tokoh dengan karakter abu-abu
> Nuansa kelam yang amat kental
> Unsur character driven yang kuat
> Beberapa plot twist begitu ‘nendang’
> Manifestasi Teno xD
> Titan, Titan, Titan :3
> Saya membaca novel ini hanya sekali duduk! (Hanya saja, memang butuh waktu yang lama buat saya untuk mengulasnya. My bad habit. Hiks)

Sebenarnya, ada satu pertanyaan yang masih terpikir oleh saya. Apakah Teno itu memang tidak bisa merasakan sakit secara fisik? Hmmm. Tebakan saya sih, begitu. Mungkin Teno punya semacam penyakit CIPA atau sejenisnya, gitu.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
Sejauh ini, kutipan favoritku adalah:

“I’m going to release the Kraken.” – hlm. 131

 

“Kenapa hari ini keparat-keparat dalam hidupku berkumpul di tempat yang sama?” – hlm. 249.

Terima kasih kepada bang Tsugaeda yang telah menulis novel thriller epik ini. Mungkin setelah ini saya harus membaca ‘Rencana Besar’. Saya juga sangat beruntung karena bisa mendapatkan novel ini dalam acara BBW. RAWR!

 

 

Keterangan:

Ulasan saya di Goodreads ada di sini.  Tanggal publish ulasan ini disesuaikan dengan tanggal ulasan saya di Goodreads.

Terima kasih.

Review Novel Dark Matter

Data Novel Dark Matter dapat dilihat di sini

Dark Matter karya Blake Crouch

Rating Goodreads : 4,1/5

Rating dari saya : 5/5

 

Mengawali tahun 2018 dengan membaca Dark Matter ternyata memang dapat mengembalikan mood saya untuk kembali membaca. Goodbye, reading slump! (waving cheerfully)

Menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga, novel ini membawa kita menyelami pikiran dan suasana hati Jason Dessen serta mengetahui segenap perubahan yang terjadi setelah suatu insiden menimpanya di Kamis malam ketika ia meninggalkan rumah. Di sisi lain, Kamis malam adalah waktu spesial Jason untuk menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarganya yaitu Daniela dan anak mereka, Charlie.

Unsur thriller di cerita ini begitu kental sejak bab pertama. Buat kalian penggemar cerita thriller dan fiksi ilmiah, novel ini sangat saya rekomendasikan. Ada pembahasan teori-teori seperti teori mekanika kuantum, strings theory dan sebagainya, tapi untuk saya yang tidak lagi mendalami ilmu fisika sejak kuliah, buku ini tetap bisa dinikmati. Gaya bahasa yang disajikan ringan dan mengalir serta terjemahannya oke, jadi jangan khawatir novel ini akan terlalu berat untuk dicerna. Okesip.

Saya juga harus bilang ini adalah novel yang cerdas. Jason Dessen saja cerdas, apalagi penulisnya, kan? Konsep dunia paralel serta unsur romance, belum lagi konflik batin yang dialami tokoh utama begitu saling melengkapi. Keterkaitan antara judul dan isi cerita pun saya rasa tidak perlu dipertanyakan lagi.

Soal bagian favorit, hmmm ini agak susah, sih. Ada ketegangan tersendiri di setiap bab cerita ini. Yang paling membuatku merinding sebenarnya bab pertama dan betapa Jason yang mulai disorientasi di dunia paralel kedua membuat saya juga seolah disorientasi (nggak lebay, kok wkwkwk). Seiring saya mengikuri alur, saya mencoba menebak ini itu, sedikit yang tepat, kebanyakan meleset xD.

Ada satu kutipan favorit saya:

“Menakutkan ketika kau memikirkan bahwa setiap hal yang kita pikirkan, semua pilihan yang bisa kita buat, akan bercabang ke dunia baru. Setelah pertandingan bisbol kita hari ini, kita pergi ke Navy Pier, lalu makan malam, ‘kan? Tapi, itu hanyalah satu versi dari apa yang terjadi. Dalam realitas berbeda, alih-alih ke dermaga, kita pergi menonton simfoni. Di realitas lainnya, kita tinggal di rumah. Dalam dunia lain, kita mengalami kecelakaan fatal di Lakeshore Drive dan tidak berhasil bertahan hidup.” – hlm. 165

Gambaran cerita Dark Matter seperti ini: bayangkan saja ketika kamu menjalani hidup seperti biasa, tiba-tiba kamu terdampar di kehidupan lain di mana kamu hidup dengan pilihan-pilihan yang sangat berbeda di kehidupan aslimu. Begitu kau tersadar, dirimu versi lain (yang berasal dari dunia yang lain) mencoba hidup di tengah kehidupan aslimu, berada di tengah-tengah orang yang kamu cintai dan menggantikan posisimu. Lalu, saat kamu berusaha untuk kembali ke dunia aslimu, kamu tahu ternyata ada belasan, puluhan, bahkan sangat banyak dirimu versi lain yang bersaing untuk menggantikan posisimu, apa pun caranya.

Coba kita lihat lagi penggalan sinopsisnya:

Apa kau bahagia dengan hidupmu?
Pernahkah kau bertanya-tanya bagaimana jika seandainya kau mengambil pilihan yang berbeda?

Jeng jeng jeng jreeeeng! Saya beneran salut deh sama Blake Crouch karena nilai filosofi di tengah cerita sci-fi menjadikan novel ini sangat unik, cerdas, sekaligus keren! Fix, ini adalah sebuah masterpice.

Sekian review dari saya~

 

 

Keterangan:

Ulasan saya di Goodreads ada di sini.  Tanggal publish ulasan ini disesuaikan dengan tanggal ulasan saya di Goodreads.

Terima kasih.

 

 

Review Novel Dunia Kafka

IMG_20170715_095033

Judul : Dunia Kafka

Penulis : Haruki Murakami

Penerbit : Alvabet

Penerjemah : Th. Dewi Wulansari

Rating on Goodreads : 4.13/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis :

Novel dengan dua plot berbeda namun saling terkait ini bercerita tentang dua tokoh yang berlainan dunia. Di satu sisi, novel ini menuturkan kisah Kafka Tamura, remaja yang kabur dari rumah untuk menghindari kutukan ayahnya serta untuk mencari ibu dan saudara perempuannya. Dalam petualangannya, ia menemukan tempat penampungan yang tenang di sebuah perpustakaan pribadi di Takamatsu, yang dikelola Nona Saeki yang tertutup dan penyendiri serta Oshima yang ramah dan cerdas. Kafka menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku, hingga suatu ketika polisi menginterogasinya terkait dengan kasus pembunuhan brutal.

Sisi lain novel ini berkisah tentang Satoru Nakata, lelaki tua yang—berkat kemampuan luar biasanya—bekerja paruh waktu sebagai penemu kucing hilang. Pada suatu kasus, demi seekor kucing, ia membunuh seorang lelaki misterius. Kasus ini membawanya hengkang jauh dari rumahnya dan berakhir di jalanan, hingga bertemanlah ia dengan sopir truk bernama Hoshino yang membawanya menuju kota tempat pelarian Kafka. Nakata dan Kafka berbeda dunia, namun di alam metafisik kisah keduanya terhubung—dan begitu pula yang terjadi dalam realitas sesungguhnya.

Dengan Oedipus complex sebagai bunga cerita, novel surealis ini menyuguhkan bacaan memukau ihwal identitas, cinta, tragedi, takdir, dan pergulatan hidup. Gagasannya eksploratif dan filosofis. Alur ceritanya berkelok-kelok dan penuh teka-teki. Gaya bahasa dan narasi dialognya ringan dan menghibur. Sebuah novel memikat dari penulis hebat yang patut Anda baca!

===

Luar biasa adalah kata yang tepat untuk novel ini. Dari tema kehidupan seputar cinta sampai krisis identitas, dieksplorasi secara mendalam. Saking mendalamnya, saya benar-benar merasa ingin sekali memeluk hampir semua tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh seperti Kafka Tamura, Satoru Nakata, Oshima, Saeki, Hoshino, hingga kucing-kucing (Mimi, Goma, Kawamura) memiliki permasalahan rumit dan pelik. Tak hanya itu. Permasalahan/konflik di antara mereka juga memiliki benang merah—tak hanya benang merah di alam metafisik, tetapi juga dalam realitas kehidupan mereka.

Pengembangan karakter atau character development juga patut diacungi jempol. Haruki Murakami selalu dapat menyuguhkan karakter-karakter memukau. Tiga dimensi, begitulah karakter fiksi seharusnya. Dimensi yang meliputi fisik, sosial, dan psikologis. Betapa masa lalu Kafka dan Nakata menimbulkan akibat yang sangat besar dalam kehidupan mereka. Begitu pula dengan Oshima.

Soal pandangan hidup, sejujurnya saya sangat menyukai pandangan hidup Nakata. Di satu sisi saya merasa sifat Nakata mirip dengan saya—fatalis atau terlalu pasrah. Sementara di sisi lain, ia bukan orang yang mau repot-repot berpikir negatif atau semacamnya. Lugu, namun di sisi lain … ah begitulah pokoknya. Bagi yang sudah membaca, pasti setidaknya kalian juga kagum pada Nakata.

Sebagai novel post-modern, alur bukanlah penggerak utama dalam cerita namun bukan berarti novel ini tidak memiliki alur. Masalahnya, dalam novel Dunia Kafka (atau ‘Kafka on The Shore’—versi Inggris) alur yang ada sangat berkelok-kelok. Ini poin plus juga. Satu lagi. Novel ini (anggap saja) fokus menjawab pertanyaan, ‘mengapa Nakata seperti ini?’, atau ‘mengapa Kafka memutuskan untuk pergi dari rumah?’, ‘mengapa Kafka melakukan ini?’ dan sederet pertanyaan ‘mengapa’ lainnya. Begitulah sifat novel post-modernCMIIW.

Cerita ini juga cerdas. Dari teori Chekov’s Gun, T.S. Elliot, pendapat Aristoteles, oedipus complex, sampai Kisah Genji menjadi bumbu penyedap cerita. Teori yang paling saya suka? Teori mengenai alam bawah sadar dari Carl Jung, tentunya. Tak heran novel ini juga memiliki unsur surealisyang kental. Bukan hanya disajikan, konsep surealis bahkan ‘hidup’ dan memberi warna tersendiri.

Terakhir, oleh karena saya membaca karya ini versi terjemahan, rasanya perlu saya ulas sedikit. Satu kata saja kok untuk terjemahannya—bagus. Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada Fe Ryrows yang telah meminjamkan novel ini! ❤

Sebagai penutup, inilah kutipan-kutipan favorit saya:

“Maafkan saya, saya tidak pandai,”
hlm. 239

 

Kata-kata tanpa huruf
Berdiri dalam bayang-bayang pintu ….
Jari-jari gadis yang tenggelam
Mencari pintu masuk ….
Di luar jendela banyak prajurit,
Meneguhkan diri untuk gugur ….

Petikan lirik lagu ‘Kafka di Tepi Pantai’

 

“Kekuatan yang saya cari bukanlah kekuatan di mana kita menang atau kalah. Saya tidak ingin membangun tembok yang akan mencegah kekuatan yang datang dari luar. Yang saya inginkan, kekuatan yang dapat menyerap kekuatan dari luar, untuk menghadapi kekuatan dari luar itu sendiri. Kekuatan untuk mengatasi berbagai hal dengan tenang—ketidakadilan, ketidakberuntungan, kesedihan, kesalahan, kesalahpahaman.”
hlm. 42.

 

“Kebetulan saya suka orang aneh. Orang-orang yang kelihatan normal dan menjalani hidup yang normal—mereka adalah orang-orang yang harus Anda waspadai.”
hlm. 239

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.

Review Novel Landline

download

Judul : Landline

Penulis :  Rainbow Rowell

Penerbit : Spring

Penerjemah : Airien Kusumawardani

Rating on Goodreads : 3.55/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis :

JIKA KAU PUNYA KESEMPATAN KEDUA UNTUK CINTA, APA KAU AKAN MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG SAMA?

Sebagai mesin waktu, sebuah telepon ajaib tidak terlalu berguna.

Penulis acara TV Georgie McCool tidak bisa benar-benar mengunjungi masa lalu–satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya meneleponnya, dan berharap masa lalunya menjawab.

Dan berharap pria iitu menjawab.

Karena begitu Georgie sadar ia memiliki telepon ajaib yang bisa menghubungi masa lalu, ia hanya ingin memulihkan hubungannya dengan sang suami, Neal.

Mungkin Georgie bisa memperbaiki berbagai hal di masa lalu mereka yang sepertinya sudah tidak bisa diperbaiki di masa sekarang. Mungkin telepon konyol ini memberi Georgie kesempatan untuk mengulang semua dari awal lagi….

Apa Georgie ingin mengulang semua dari awal?

===

[Apa kau memang mencintaiku, Georgie?]
“Lebih dari apa pun,” jawab Georgie.
hlm. 114

 

“Kalau aku tidak punya akal,” kata Georgie, “bagaimana mungkin aku bisa membuatmu melakukan hampir semua yang kuinginkan.”
[Kau tidak membuat-ku melakukan apa-apa. Aku melakukannya begitu saja. Karena aku mencintaimu.]
hlm. 120

Kutipan dialog di atas adalah percakapan telepon antara Neal (dialog Neal diapit tanda kurung siku) dengan istrinya, Georgie. Ah, tunggu. Rasanya ada yang keliru. Benarkah seperti itu? Karena nyatanya, Neal yang menjawab telepon Georgie adalah Neal lima belas tahun lalu, semasih Georgie dan Neal berpacaran.

Dan telepon yang membuat hal itu mungkin adalah sebuah telepon tua berwarna kuning.

Rasanya memang ajaib dan saya rasa Rainbow Rowell telah mengemas serta meramu cerita ini dengan amat sangat baik. Bahasa terjemahannya juga oke, nggak ada masalah sama sekali. Kalau biasanya saya ‘lelah’ dan ‘gerah’ membaca novel yang melulu membahas cinta, cinta, dan cinta, kali ini justru saya dibuat melting dan terkagum-kagum. Manis dan heartwarming.

Georgie adalah penulis, sedangkan Neal adalah komikus. And I just found out that:
love + creativity = WONDERFUL INFINITE PERFECT LOVE

Dan bagian favorit saya adalah ketika Neal dan Georgie hendak tidur, lalu Georgie mendapat ide namun ia tidak menemukan kertas. Akhirnya, Neal membantu Georgie untuk mengingat ide itu dan menuliskannya untuk Georgie. ASDFGHJKL. Salut pokoknya sama penulis satu ini. Hehe. Selain karakter Neal dan Georgie terbangun dengan apik dan baik, saya juga jatuh cinta dengan Seth yang cantik dan wittyhehe.

Sudut pandang yang diambil pun menarik, yaitu sudut pandang orang ketiga terbatas-subjektif. Hmmm. CMIIW.

5/5 untuk novel ini. Meskipun nggak dijelaskan lebih lanjut tentang asal usul tentang ‘telepon ajaib’ itu namun saya rasa ini sudah lebih dari cukup. Pesan moral dalam cerita ini sangat simpel namun juga worth it, yaitu untuk menghargai setiap waktu yang kita miliki dengan orang-orang terkasih. Secara keseluruhan, cerita ini lebih baik dari harapan saya. Kisah cinta yang sangat manis-tanpa-membuat-diabetes.

Sekian. Tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk kak Wahyu dan Penerbit Spring atas kesempatan giveaway novel ini dan juga atas kesempatan menang buat saya. Alhamdulillah. Hehe.

Review Shelly Fw bisa dilihat di sini.

Review of The Catcher in the Rye

5107

Title : The Catcher in the Rye

Writer :  J.D. Salinger

Publisher :  Back Bay Books

Rating on Goodreads : 3.79/5

Rating from Shelly Fw : 5/5

Synopsis : The hero-narrator of The Catcher in the Rye is an ancient child of sixteen, a native New Yorker named Holden Caulfield. Through circumstances that tend to preclude adult, secondhand description, he leaves his prep school in Pennsylvania and goes underground in New York City for three days. The boy himself is at once too simple and too complex for us to make any final comment about him or his story. Perhaps the safest thing we can say about Holden is that he was born in the world not just strongly attracted to beauty but, almost, hopelessly impaled on it. There are many voices in this novel: children’s voices, adult voices, underground voices-but Holden’s voice is the most eloquent of all. Transcending his own vernacular, yet remaining marvelously faithful to it, he issues a perfectly articulated cry of mixed pain and pleasure. However, like most lovers and clowns and poets of the higher orders, he keeps most of the pain to, and for, himself. The pleasure he gives away, or sets aside, with all his heart. It is there for the reader who can handle it to keep.

J.D. Salinger’s classic novel of teenage angst and rebellion was first published in 1951. The novel was included on Time‘s 2005 list of the 100 best English-language novels written since 1923. It was named by Modern Library and its readers as one of the 100 best English-language novels of the 20th century. It has been frequently challenged in the court for its liberal use of profanity and portrayal of sexuality and in the 1950’s and 60’s it was the novel that every teenage boy wants to read.

===

There is nothing that I could NOT appreciate from The Catcher in the Rye. I got totally absorbed in this book, you could say that. As a bildungsroman novel, this one went far beyond my expectations!

The conflict was Man vs Self. Holden Caulfield against his ignorance and insecurity (you’d figure that out ’til you read the last page, by the way). Holden is unique. He is the iconic of a rebellion, yet he never really does fatal thing or whatsoever. He is a pacifist as hell, and even his roommate (Stardlater) had hit him, fractured him, Holden’d just rather let it go even though it’s always about losing. Always. Oh, poor Holden.

I’d only been in about two fights in my life, and I lost both of them. I’m not too tough. I’m a pacifist, if you want to know the truth.

Dialogs are pretty less than narratives, but I could still enjoy it. Like DF said, it has the first-person smartass narrative so no wonder that Holden has a great sense of humor.

I was surrounded by jerks. I’m not kidding.

 

“What the hellya reading?” he said.

“Goddam book.”

I found myself laughing so hard at many parts, but the ending got my eyes sweating. Ok, I meant I was crying. There. I admit it. The ending was unpredictable and really touchy for me. Oh, wait. Where I have been all this times? I kind of feel pity for myself ’cause I read this novel just now. THIS YEAR, Shelly? Really? Poor me. Hahah.

Oh, and the last thing. My most favorite quote:

Everybody goes through phases and all, don’t they?

My favorite part? When Holden asks about the ducks in the Central Park Lagoon xD He really is worried about the ducks xD I never tought he really meant it lol

Well, last but not least, let me say thank you to DF and Dhirafor this amazing book recommendation. I also wanna say thanks to my Buddy Read, Marina. Guys, you all rooooooooooooock!

 

You can also read my review on Goodreads here.