Quick Review Novel : Lelaki Harimau

23012658

Judul : Lelaki Harimau (English version: Man Tiger)

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 172 halaman

 

Bulan Juni lalu, saya iseng ikut giveaway di blog-nya kak Henny. Hadiahnya berupa voucher untuk beli buku di SCOOP. Eh, alhamdulillah saya menang xD langsung deh saya eksekusi untuk beli novel Lelaki Harimau hehehe. Terima kasih ka Henny, terima kasih juga SCOOP :* 

Review novel ini juga udah saya post di Goodreads di sini. Seperti biasa, rasanya ada yang kurang aja kalau review itu gak disebarkan di blog saya. 

 Jadi, ini review saya (sama dengan review saya di GR, sih)

Harimau itu putih serupa angsa, ganas sebengis ajak. – hlm. 39

Saya ingat perkataan teman saya. Katanya, suatu novel dapat dikatakan bagus bila berhasil membuat pembacanya mengumpat-umpat. Maksudnya mengumpat karena saking keren dan bagusnya, ya. Dan memang ini novel memang membuat saya mengumpat-umpat bahkan sejak saya membaca sinopsis novel ini. Ada beberapa bagian yang paling saya suka, terutama bagian Margio dan harimaunya, lalu kelahiran Marian.

Dan ini,

“Lihatlah, Komar.” gumam Mario, “Wajahnya terkutuk sangat bahagia.” – 152

Satu lagi, yaitu penyampaian cerita yang smooth. Baru kali ini saya menemukan cerita tanpa separator (maksud saya, hanya ada pemenggalan tiap bab dan selebihnya adalah narasi yang berkesinambungan). Mana tiap babnya bisa sampai berpuluh-puluh halaman pula. Good job buat penulisnya.

Ulasan Novel Salah Asuhan dan Berbagai Nilai yang Tak Pernah Padam

 

 

Salah_Asuhan

 

Judul : Salah Asuhan

Karya : Abdoel Moeis

Penerbit : Balai Pustaka

ISBN : 979-407-064-5

Bahasa : Indonesia

Tahun Terbit : 1928

DESKRIPSI :

Salah Asuhan terbit pertama kali di Balai Pustaka tahun 1928. Secara tematik, novel ini tak lagi mempermasalahkan adat kolot yang tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi coba mengangkat tema pernikahan antarbangsa yang menimbulkan banyak persoalan.

REVIEW:

Ada berbagai hal yang membuat saya terpanggil untuk membaca dan memahami isi novel Salah Asuhan karya almarhum Abdoel Moeis ini. Pertama, karena dari segi usia saya cukup memadai untuk mencerna dan mengerti substansi novel ini (mengingat banyaknya kandungan unsur sastra berbau Melayu sekaligus juga diselingi istilah-istilah Belanda). Kedua, tema yang diusung yaitu tentang pernikahan antarbangsa dirasakan dapat memprovokasi nilai-nilai yang pada masa itu dirasakan bernuansa nilai-nilai adat yang kolot. Ketiga, adanya konflik persepsi individu yang bermuatan aspek psikologis dari figur yang diperankan para tokohnya. Apabila saya berkesempatan membaca buku ini semasih SMP atau SMA, mungkin saya nggak mudeng atau bahkan repotnya lagi malah bisa langsung mengantuk ketika berusaha membacanya. Haha.

Novel ini memiliki paragraf pembuka yang sederhana, mencerminkan situasi serta realita yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, dan memikat.

Tempat bermain tenis, yang dilindungi oleh pohon-pohon ketapang sekitarnya, masih sunyi. Cahaya matahari yang diteduhkan oleh daun-daun di tempat bermain itu, masih keras, karena dewasa itu baru pukul tengah lima petang hari.

Pada bab pertama pembaca akan langsung dikenalkan pada tokoh Hanafi dan Corrie de Busse yang tengah bercakap-cakap di bawah pohon serta membawa pembaca pada situasi bernuansa romantika namun juga mengandung problematika.

“Bila di dalam segala buatan, kita harus bertanya lebih dahulu kepada orang lain, apakah timbangan atas perbuatan itu, meskipun perbuatan itu tidak mengganggu kesenangannya, niscaya akan menjadi berat kehidupan manusia, Corrie.” – Hanafi

”Itu benar, Han! Tapi pada segala pekerjaan ada batasnya. Maka adalah pekerjaan atau perbuatan yang luar biasa, yang tiada galib dilakukan orang, sedang pekerjaan yang disangka tidak mengganggu kesenangan orang lain itu pun boleh jadi akan melanggar peri kesopanan.”- Corrie

Dari cuplikan ini sudah bisa terlihat bahwa baik Hanafi maupun Corrie termasuk dalam tipe orang yang begitu pragmatis. Tak heran hal ini membuat karakter tokoh Hanafi dan Corrie terlibat persahabatan secara akrab sejak kecil sekaligus menjadikan mereka menemukan kesesuaian (klik) satu sama lain. Terlebih, pendidikan ala Eropa yang diperoleh Hanafi selama ia di Betawi memudahkan Hanafi untuk bergaul dengan orang-orang Belanda, termasuk gadis keturunan Indonesia-Belanda, Corrie de Busse.

Perjalanan romantika mereka awalnya memang berjalan mulus namun dalam proses selanjutnya menemui beberapa bibit-bibit yang dapat menimbulkan konflik yang cukup kompleks. Jalan cerita selanjutnya memunculkan tokoh ibu dari Hanafi (Mariam) yang bersikeras untuk menjodohkannya dengan Rapiah, anak dari kakak kandung Mariam. Dari dialog di bawah ini, dapat kita tangkap bahwa Hanafi kurang setuju dengan gagasan ibunya itu. Itulah titik di mana saya sebagai pembaca merasa konflik mulai terasa ‘hidup’.

"Rapiah memang bersifat sabar. Asal engkau tidak menyia-nyiakan, sekadar engkau harik dan bengisi saja, tentu ia takkan menghilangkan sabarnya, Hanafi! Sebutir intan yang belum digosok sudah Ibu sediakan untukmu, baiklah engkau percaya pada ibumu." - Mariam

”Ah, ya, Bu, sudah berapa kali saya berkata, bahwa saya kaku berhadapan dengan orang-orang serupa itu. Tidak tentu saja apa yang akan dituturkan.” - Hanafi

Selanjutnya dari alur cerita mulai muncul suatu dinamika yang menjadikan berbagai kemungkinan kelanjutan sikap Hanafi dalam menghadapi perjodohan dengan Rapiah. Dalam situasi ini Hanafi dihadapkan pada situasi yang dilematis. Di satu sisi ia tidak merasa cocok dipasangkan dengan sesama golongan bumiputra, di sisi lain terdapat kewajiban menyangkut hubungan baik dengan keluarga Rapiah yang telah berjasa menyekolahkan dan menanggung kehidupan Hanafi selama ia menempuh pendidikan ala Eropa di Betawi. Belum lagi perihal adat Minangkabau yang mana menghendaki si laki-laki menerima si perempuan, bukan sebaliknya. Adapun pertimbangan Hanafi yang lain yaitu Corrie yang baru saja meningalkan Hanafi di Solok menuju Betawi bersama sang ayah.

Meskipun alur cerita dari novel ini dirasakan cukup berliku dan terkesan lambat, hal ini dikarenakan dalam situasi yang kritis seringkali dimunculkan hal-hal di luar dugaan sehingga menjadikan kondisi semakin pelik namun itu menjadi dinamika dan kekuatan karakter setiap tokoh. Berdasarkan hal tersebut saya pribadi cukup dapat menikmati Salah Asuhan sebagai karya yang layak untuk dibaca karena mengandung unsur-unsur emosional para tokohnya yang tentu hal tersebut dapat memberikan bobot begitu kuat atas kualitas suatu karya sastra.

Cerita ini secara keseluruhan banyak diwarnai dengan rangkaian dialog yang nampaknya cukup dapat memberikan warna tersendiri bagi alur cerita. Karena dengan demikian bisa dimunculkan perjalanan konflik psikologis para tokoh sehingga dominasi dialog dengan kejelian sang penulis bisa menjadi andalan untuk menggiring persepsi para pembaca. Dengan demikian saya pribadi tidak mempermasalahkan kuantitas dialog yang dimunculkan, karena dari kuantitas dialog yang cukup banyak sudah cukup untuk memberi kualitas tersendiri untuk karakter para tokoh. Dari sekian banyak dialog, saya pribadi memberikan apresiasi khusus pada isi dialog antara Hanafi dengan ibunya. Mengapa demikian? Karena dialog tersebut menunjukkan bahwa Hanafi pada dasarnya menghargai dan menyayangi ibunya, Mariam.

 

lanjut baca