Nyawa dan Karya

Ada nyawa yang hilang

Lenyap dan terbuang

Begitu saja dilupakan

Bahkan tanpa ada yang mengenang

 

 

Ada nyawa yang hilang

Namun sosoknya akan selalu dikenang

Sederhananya, dulu ia pejuang

Dalam serangkaian seni kata yang gemilang

 

 

Aku ingin hidup kekal, Tuan

Nyawaku mungkin tak begitu berharga

Tapi mungkin karyaku akan menjadi adikarya

Karena itulah aku menulis sepenuh jiwa

 

 

Aku ingin hidup abadi, Tuan

Karena nyawa berharga sudah biasa

Namun karya yang berharga amatlah luar biasa

Kalaupun nyawaku hilang, setidaknya karyaku masih dapat bersinar, Tuan

 

 

-Shelly Fw, 3 Agustus 2016-

DUA JIWA

Dua kepribadian

Dua jiwa

Satu raga

Itulah adanya

 

Kadang saling bercengkerama

Kadang saling berlawanan

 

Meragu

Bimbang

Riang

 

Keduanya terbiasa dengan sedemikian rupa

Sanggupkah aku menjaga keduanya?

 

Bidadari

Bidadara

 

Inilah aku; pemilik dua jiwa

-Shelly Fw, 9 November 2016-

Pesan Sang Bintang

Rapuh meradang

Mematahkan sendi-sendi harapan

Hancur tanpa meninggalkan bayang

Kering kerontang; bersemu hitam

 

Kala kepala menengadah ke langit, bahkan sinar bintang-bintang berpaling

Seakan enggan mendengar cerita lagi, enggan mencecap luka hati

Tapi itulah cinta; dapat menjelma dalam kebahagiaan pun dalam kepiluan

 

“Tetap saja,” gumam sang bintang

“Kau wanita, manusia. Aku bukan. Harapanmu baiknya kau jaga.

“Kau tak seperti diriku yang selalu memiliki harapan yang sama.”

 

Berjaga-jagalah!

Pada wanita yang berduka; terlalu buta ‘tuk menjaga harapan demi cinta.

seperti itulah pesan bintang kepada mentari senja hampir tenggelam lenyap, atau kepada besoknya; kala fajar mereka, kembali panas amarah dari pagi hingga sorenya bersama kebodohan semenit barusan.

– – –

Ada terhimpit, terjepit, mengapit, satu titik, namun tak ingin indentik, hanya serakah dengan ego sendiri. Tak penting orang lain, saat ini aku bodoh karena terlalu mencintai.

-28 November 2016, Marshall & Shelly Fw a.k.a esfladys-

Sajak #1 

(1)

Ringan, seringan udara

Di sini hangat, membuai asa

Kututup mata, cahaya itu tetap ada

Adakah sang penjaga? Aku ingin ia tetap di sana

 

(2)

Rasa kantuk menjemput, mungkin hingga fajar nanti

Semuanya samar, kecuali jalan menuju mimpi

Menggantikan rasa lelah yang tak terbagi

Padanya, aku berserah diri

berserah diri

 

(3)

Ringan, seringan awan

Penyelamat datang, belum terlalu malam

Bersinar dalam tentram, seterang cahaya bulan

Jika di ujung sana ada jalan, bolehkah aku menyebutnya sebagai harapan? 

[Sajak-sajak dalam cerita Dinar vs Si Kembar]

=Shelly Fw, 2015=

Pejuang Harapan

Geram

Bersarang

Tak kunjung hilang

Menguasai bahkan dalam diam

 

Lebam

Menghitam

Bukan dalam raga

Melainkan menggerogoti jiwa

 

Hitam tak selalu hitam

Putih tak selalu putih

Yang stagnan tak pernah kekal

Sadarkah kau, luapan itu dapat kau kendalikan?

 

Bukan, itu bukan halangan

Kau masih bisa tersenyum, sayang

Tunjukkanlah pada dunia bahwa kau adalah pejuang harapan

 

Selaraskan hati dan pikiran

Karena hidupmu terlalu berharga untuk dikuasai perasaan
-Shelly Fw, 28 Desember 2016-

Belum Ada

Aku dipenuhi kesukaan

Kadang ketika orang lain menderita

Kadang ketika tersandung puji-pujian

Dan sering terlena dalam sanjungan sambil mengintip-ngintip

Akulah kesukaan yang ceria; tanpa sesiapa aku “suka”
Tanpa peduli aku,

Bersemayam beribu pesan

Satu-persatu mereka telan

Diksi demi diksi berhamburan

Itulah caraku mengabadikan isi pikiran
Seperti kawanan camar mencuri kabar

dari udara, bersembunyi karena badai

menitipkan pesan lewat pola, bak serdadu tanpa komandan

merias udara tanda kiamat
…aku “persetan”

Tuan-puan dengar atau tidak

aku terbang demi para mata

yang siap dan berjaga-jaga

demi hidup, yang tak mendengar akan tuli,

tak melihat akan buta,

tak percaya akan mati

dan yang tak peduli kan bersemayam di neraka

temannya api,

mentari ketujuh; terbakar tanpa ampun juga tak berujung ruang-waktu

-18 November 2016, Shelly Fw a.k.a eslfadys & Marshall-

(engkau telinga: hendaklah mendengar)