Lacur Waktu

IMG_20170704_205507_711ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤ

ㅤ ㅤㅤ
/1/
Pada para pelacur waktu
Yang kerap melacurkan diri pada detik, menit, maupun jam yang karam
Adakah kefanaan mengusikmu?
Atau memakan waktu dengan lacur-lacur fana adalah kegemaranmu?
Sayang
Waktu tidak semurah itu ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
/2/
Dosa apa yang mengiringi kejalanganmu?
Bukankah kau terlahir dari ayah perjuangan dan rahim ibu kenangan?
apakah inangmu yang memberikan lantas membiarkan?
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu bahkan abad bukan (sebatas) uang.
Otak diatik fanatik oleh halhal nyentrik.
Bukan goda yang bersalah
Bukan dada yang berdebar resah
namun kita–lacurlacur sang pelacur–hanya tidak memiliki jeda untuk dibuat celah. ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤ
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
Acap kali beri musabab takkan sungkan mengambil dan lari
Derap, ambil lalu memuai menjadi mesin pemuas goda yang terampil.
Ya sudahlah.
Kamu-aku, sayang … tak mengenal sudah bukan?
Ya cukuplah,
cukup sudah buat ku tersedan
Hal murah memang menjelma ronta yang serta merta
Tidak payahlah dua kauizinkan dalam hasrat yang mengerat tepat
Anggap saja fana yang keseringan ialah imbuhan dalam lahap yang tak terlelap
Semogakan saja bahwa kita ialah sisipan akan dahaga yang terjaga.
Bukan penghalang santun pada ujung bundar yang tertambun
Pun tak perlu kau meminta ampun,
Pelacur harus tetap ada agar hasrat ini terus mengalun. ㅤㅤ ㅤ

ㅤ ㅤㅤ
2017: al-gattās ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
/1/ Shelly Fw
/2/ -Dea(th) ㅤ

 

Advertisements

Debu Prinsip Garuda : Ditiup Angin Singgung

image

Bangsa ini terlalu munafik
Bawa agama menuju politik
Biar kelihatan lebih cantik

Bangsa ini terlalu munafik
Bawa strata antar genetik
Bahkan Pancasila pun dicekik

Bangsa ini terlalu munafik
Bunuh kami tanpa sidik
Biarkan kami saling selidik

Bangsa ini terlalu picik
Negara lain maju sirik
Tunjukkan prestasi sendiri pelik

Bangsa ini terlalu picik
Nanti urusan uang cerdik
Tapi lihat pengemis, jijik

Bangsa ini terlalu picik
Nusantara hanya tinggal titik
Tanpa suara lain menggelitik

~àrs & Shelly Fw~

“Bangsa ini bangsa kami
  Negeri ini Negeri kami
  Tanah ini tanah kami

Tapi mengapa nyatanya;
Gerak-gerik kami jadi sempit
Dibatasi mental yang melit
Entah pemimpin, atau rakyat-sendiri
Sedikit-sedikit selalu berkelit

Lima sila seharusnya dialit
Agar kokohnya serupa arit
Tepis semua prinsip rumit
Agar ta’ cuma merdeka di pinggir parit
Tapi dari pintu gerbang yang saling apit.”

(pictart : https://mobile.twitter.com/PatriotGaruda1/media/grid?idx=0)

Wahai Puan

Puan, dunia ini luas
Kau dapat menunaikan satu per satu kewajiban namun kau lebih memilih ‘tuk mengemban semua itu secara bersamaan, sendirian

Puan, jalan hidupmu masih panjang
Kau lebih memilih untuk tak peduli; bekerja keras seolah tanpa henti

Puan, kau tak sendirian
Ada banyak telinga yang ‘kan mendengar keluh kesahmu, tapi bibirmu tetap bungkam

Puan, ada banyak hak yang bisa kau raih
Prioritasmu tetaplah orang-orang terkasih

Kau sangat luar biasa, Puan
Tak heran dunia membutuhkan sosokmu
Pun malaikat yang mencatat segala usahamu
Kelak, kau akan mendapat lebih dari yang pantas kau dapatkan, Puan


Wahai para penerus Kartini di masa kini dan nanti
Ingatlah selalu; habis gelap terbitlah terang

-Shelly Fw, 210417-

(Terima kasih atas saranmu untuk puisi ini, Adeana 😘)

image

Nyawa dan Karya

Ada nyawa yang hilang

Lenyap dan terbuang

Begitu saja dilupakan

Bahkan tanpa ada yang mengenang

 

 

Ada nyawa yang hilang

Namun sosoknya akan selalu dikenang

Sederhananya, dulu ia pejuang

Dalam serangkaian seni kata yang gemilang

 

 

Aku ingin hidup kekal, Tuan

Nyawaku mungkin tak begitu berharga

Tapi mungkin karyaku akan menjadi adikarya

Karena itulah aku menulis sepenuh jiwa

 

 

Aku ingin hidup abadi, Tuan

Karena nyawa berharga sudah biasa

Namun karya yang berharga amatlah luar biasa

Kalaupun nyawaku hilang, setidaknya karyaku masih dapat bersinar, Tuan

 

 

-Shelly Fw, 3 Agustus 2016-