Review Novel Dunia Kafka

IMG_20170715_095033

Judul : Dunia Kafka

Penulis : Haruki Murakami

Penerbit : Alvabet

Penerjemah : Th. Dewi Wulansari

Rating on Goodreads : 4.13/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis :

Novel dengan dua plot berbeda namun saling terkait ini bercerita tentang dua tokoh yang berlainan dunia. Di satu sisi, novel ini menuturkan kisah Kafka Tamura, remaja yang kabur dari rumah untuk menghindari kutukan ayahnya serta untuk mencari ibu dan saudara perempuannya. Dalam petualangannya, ia menemukan tempat penampungan yang tenang di sebuah perpustakaan pribadi di Takamatsu, yang dikelola Nona Saeki yang tertutup dan penyendiri serta Oshima yang ramah dan cerdas. Kafka menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku, hingga suatu ketika polisi menginterogasinya terkait dengan kasus pembunuhan brutal.

Sisi lain novel ini berkisah tentang Satoru Nakata, lelaki tua yang—berkat kemampuan luar biasanya—bekerja paruh waktu sebagai penemu kucing hilang. Pada suatu kasus, demi seekor kucing, ia membunuh seorang lelaki misterius. Kasus ini membawanya hengkang jauh dari rumahnya dan berakhir di jalanan, hingga bertemanlah ia dengan sopir truk bernama Hoshino yang membawanya menuju kota tempat pelarian Kafka. Nakata dan Kafka berbeda dunia, namun di alam metafisik kisah keduanya terhubung—dan begitu pula yang terjadi dalam realitas sesungguhnya.

Dengan Oedipus complex sebagai bunga cerita, novel surealis ini menyuguhkan bacaan memukau ihwal identitas, cinta, tragedi, takdir, dan pergulatan hidup. Gagasannya eksploratif dan filosofis. Alur ceritanya berkelok-kelok dan penuh teka-teki. Gaya bahasa dan narasi dialognya ringan dan menghibur. Sebuah novel memikat dari penulis hebat yang patut Anda baca!

===

Luar biasa adalah kata yang tepat untuk novel ini. Dari tema kehidupan seputar cinta sampai krisis identitas, dieksplorasi secara mendalam. Saking mendalamnya, saya benar-benar merasa ingin sekali memeluk hampir semua tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh seperti Kafka Tamura, Satoru Nakata, Oshima, Saeki, Hoshino, hingga kucing-kucing (Mimi, Goma, Kawamura) memiliki permasalahan rumit dan pelik. Tak hanya itu. Permasalahan/konflik di antara mereka juga memiliki benang merah—tak hanya benang merah di alam metafisik, tetapi juga dalam realitas kehidupan mereka.

Pengembangan karakter atau character development juga patut diacungi jempol. Haruki Murakami selalu dapat menyuguhkan karakter-karakter memukau. Tiga dimensi, begitulah karakter fiksi seharusnya. Dimensi yang meliputi fisik, sosial, dan psikologis. Betapa masa lalu Kafka dan Nakata menimbulkan akibat yang sangat besar dalam kehidupan mereka. Begitu pula dengan Oshima.

Soal pandangan hidup, sejujurnya saya sangat menyukai pandangan hidup Nakata. Di satu sisi saya merasa sifat Nakata mirip dengan saya—fatalis atau terlalu pasrah. Sementara di sisi lain, ia bukan orang yang mau repot-repot berpikir negatif atau semacamnya. Lugu, namun di sisi lain … ah begitulah pokoknya. Bagi yang sudah membaca, pasti setidaknya kalian juga kagum pada Nakata.

Sebagai novel post-modern, alur bukanlah penggerak utama dalam cerita namun bukan berarti novel ini tidak memiliki alur. Masalahnya, dalam novel Dunia Kafka (atau ‘Kafka on The Shore’—versi Inggris) alur yang ada sangat berkelok-kelok. Ini poin plus juga. Satu lagi. Novel ini (anggap saja) fokus menjawab pertanyaan, ‘mengapa Nakata seperti ini?’, atau ‘mengapa Kafka memutuskan untuk pergi dari rumah?’, ‘mengapa Kafka melakukan ini?’ dan sederet pertanyaan ‘mengapa’ lainnya. Begitulah sifat novel post-modernCMIIW.

Cerita ini juga cerdas. Dari teori Chekov’s Gun, T.S. Elliot, pendapat Aristoteles, oedipus complex, sampai Kisah Genji menjadi bumbu penyedap cerita. Teori yang paling saya suka? Teori mengenai alam bawah sadar dari Carl Jung, tentunya. Tak heran novel ini juga memiliki unsur surealisyang kental. Bukan hanya disajikan, konsep surealis bahkan ‘hidup’ dan memberi warna tersendiri.

Terakhir, oleh karena saya membaca karya ini versi terjemahan, rasanya perlu saya ulas sedikit. Satu kata saja kok untuk terjemahannya—bagus. Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada Fe Ryrows yang telah meminjamkan novel ini! ❤

Sebagai penutup, inilah kutipan-kutipan favorit saya:

“Maafkan saya, saya tidak pandai,”
hlm. 239

 

Kata-kata tanpa huruf
Berdiri dalam bayang-bayang pintu ….
Jari-jari gadis yang tenggelam
Mencari pintu masuk ….
Di luar jendela banyak prajurit,
Meneguhkan diri untuk gugur ….

Petikan lirik lagu ‘Kafka di Tepi Pantai’

 

“Kekuatan yang saya cari bukanlah kekuatan di mana kita menang atau kalah. Saya tidak ingin membangun tembok yang akan mencegah kekuatan yang datang dari luar. Yang saya inginkan, kekuatan yang dapat menyerap kekuatan dari luar, untuk menghadapi kekuatan dari luar itu sendiri. Kekuatan untuk mengatasi berbagai hal dengan tenang—ketidakadilan, ketidakberuntungan, kesedihan, kesalahan, kesalahpahaman.”
hlm. 42.

 

“Kebetulan saya suka orang aneh. Orang-orang yang kelihatan normal dan menjalani hidup yang normal—mereka adalah orang-orang yang harus Anda waspadai.”
hlm. 239

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.

Advertisements

Review Novel Landline

download

Judul : Landline

Penulis :  Rainbow Rowell

Penerbit : Spring

Penerjemah : Airien Kusumawardani

Rating on Goodreads : 3.55/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis :

JIKA KAU PUNYA KESEMPATAN KEDUA UNTUK CINTA, APA KAU AKAN MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG SAMA?

Sebagai mesin waktu, sebuah telepon ajaib tidak terlalu berguna.

Penulis acara TV Georgie McCool tidak bisa benar-benar mengunjungi masa lalu–satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya meneleponnya, dan berharap masa lalunya menjawab.

Dan berharap pria iitu menjawab.

Karena begitu Georgie sadar ia memiliki telepon ajaib yang bisa menghubungi masa lalu, ia hanya ingin memulihkan hubungannya dengan sang suami, Neal.

Mungkin Georgie bisa memperbaiki berbagai hal di masa lalu mereka yang sepertinya sudah tidak bisa diperbaiki di masa sekarang. Mungkin telepon konyol ini memberi Georgie kesempatan untuk mengulang semua dari awal lagi….

Apa Georgie ingin mengulang semua dari awal?

===

[Apa kau memang mencintaiku, Georgie?]
“Lebih dari apa pun,” jawab Georgie.
hlm. 114

 

“Kalau aku tidak punya akal,” kata Georgie, “bagaimana mungkin aku bisa membuatmu melakukan hampir semua yang kuinginkan.”
[Kau tidak membuat-ku melakukan apa-apa. Aku melakukannya begitu saja. Karena aku mencintaimu.]
hlm. 120

Kutipan dialog di atas adalah percakapan telepon antara Neal (dialog Neal diapit tanda kurung siku) dengan istrinya, Georgie. Ah, tunggu. Rasanya ada yang keliru. Benarkah seperti itu? Karena nyatanya, Neal yang menjawab telepon Georgie adalah Neal lima belas tahun lalu, semasih Georgie dan Neal berpacaran.

Dan telepon yang membuat hal itu mungkin adalah sebuah telepon tua berwarna kuning.

Rasanya memang ajaib dan saya rasa Rainbow Rowell telah mengemas serta meramu cerita ini dengan amat sangat baik. Bahasa terjemahannya juga oke, nggak ada masalah sama sekali. Kalau biasanya saya ‘lelah’ dan ‘gerah’ membaca novel yang melulu membahas cinta, cinta, dan cinta, kali ini justru saya dibuat melting dan terkagum-kagum. Manis dan heartwarming.

Georgie adalah penulis, sedangkan Neal adalah komikus. And I just found out that:
love + creativity = WONDERFUL INFINITE PERFECT LOVE

Dan bagian favorit saya adalah ketika Neal dan Georgie hendak tidur, lalu Georgie mendapat ide namun ia tidak menemukan kertas. Akhirnya, Neal membantu Georgie untuk mengingat ide itu dan menuliskannya untuk Georgie. ASDFGHJKL. Salut pokoknya sama penulis satu ini. Hehe. Selain karakter Neal dan Georgie terbangun dengan apik dan baik, saya juga jatuh cinta dengan Seth yang cantik dan wittyhehe.

Sudut pandang yang diambil pun menarik, yaitu sudut pandang orang ketiga terbatas-subjektif. Hmmm. CMIIW.

5/5 untuk novel ini. Meskipun nggak dijelaskan lebih lanjut tentang asal usul tentang ‘telepon ajaib’ itu namun saya rasa ini sudah lebih dari cukup. Pesan moral dalam cerita ini sangat simpel namun juga worth it, yaitu untuk menghargai setiap waktu yang kita miliki dengan orang-orang terkasih. Secara keseluruhan, cerita ini lebih baik dari harapan saya. Kisah cinta yang sangat manis-tanpa-membuat-diabetes.

Sekian. Tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk kak Wahyu dan Penerbit Spring atas kesempatan giveaway novel ini dan juga atas kesempatan menang buat saya. Alhamdulillah. Hehe.

Review Shelly Fw bisa dilihat di sini.

Review of The Catcher in the Rye

5107

Title : The Catcher in the Rye

Writer :  J.D. Salinger

Publisher :  Back Bay Books

Rating on Goodreads : 3.79/5

Rating from Shelly Fw : 5/5

Synopsis : The hero-narrator of The Catcher in the Rye is an ancient child of sixteen, a native New Yorker named Holden Caulfield. Through circumstances that tend to preclude adult, secondhand description, he leaves his prep school in Pennsylvania and goes underground in New York City for three days. The boy himself is at once too simple and too complex for us to make any final comment about him or his story. Perhaps the safest thing we can say about Holden is that he was born in the world not just strongly attracted to beauty but, almost, hopelessly impaled on it. There are many voices in this novel: children’s voices, adult voices, underground voices-but Holden’s voice is the most eloquent of all. Transcending his own vernacular, yet remaining marvelously faithful to it, he issues a perfectly articulated cry of mixed pain and pleasure. However, like most lovers and clowns and poets of the higher orders, he keeps most of the pain to, and for, himself. The pleasure he gives away, or sets aside, with all his heart. It is there for the reader who can handle it to keep.

J.D. Salinger’s classic novel of teenage angst and rebellion was first published in 1951. The novel was included on Time‘s 2005 list of the 100 best English-language novels written since 1923. It was named by Modern Library and its readers as one of the 100 best English-language novels of the 20th century. It has been frequently challenged in the court for its liberal use of profanity and portrayal of sexuality and in the 1950’s and 60’s it was the novel that every teenage boy wants to read.

===

There is nothing that I could NOT appreciate from The Catcher in the Rye. I got totally absorbed in this book, you could say that. As a bildungsroman novel, this one went far beyond my expectations!

The conflict was Man vs Self. Holden Caulfield against his ignorance and insecurity (you’d figure that out ’til you read the last page, by the way). Holden is unique. He is the iconic of a rebellion, yet he never really does fatal thing or whatsoever. He is a pacifist as hell, and even his roommate (Stardlater) had hit him, fractured him, Holden’d just rather let it go even though it’s always about losing. Always. Oh, poor Holden.

I’d only been in about two fights in my life, and I lost both of them. I’m not too tough. I’m a pacifist, if you want to know the truth.

Dialogs are pretty less than narratives, but I could still enjoy it. Like DF said, it has the first-person smartass narrative so no wonder that Holden has a great sense of humor.

I was surrounded by jerks. I’m not kidding.

 

“What the hellya reading?” he said.

“Goddam book.”

I found myself laughing so hard at many parts, but the ending got my eyes sweating. Ok, I meant I was crying. There. I admit it. The ending was unpredictable and really touchy for me. Oh, wait. Where I have been all this times? I kind of feel pity for myself ’cause I read this novel just now. THIS YEAR, Shelly? Really? Poor me. Hahah.

Oh, and the last thing. My most favorite quote:

Everybody goes through phases and all, don’t they?

My favorite part? When Holden asks about the ducks in the Central Park Lagoon xD He really is worried about the ducks xD I never tought he really meant it lol

Well, last but not least, let me say thank you to DF and Dhirafor this amazing book recommendation. I also wanna say thanks to my Buddy Read, Marina. Guys, you all rooooooooooooock!

 

You can also read my review on Goodreads here.

Review Novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

29068175

Judul : Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

Penulis : Suarcani

Penerbit : Jendela O’ Publishing House

Rating on Goodreads : 3.92/5

Rating dari Shelly Fw : 4.5/5

Sinopsis : Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan.
Tapi kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku.
Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk kemudian kembali meremukkanku dalam ketakutan.
Aku butuh jalan, butuh mata kompasku. Apakah kamu bisa membantuku menemukannya?
Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.

===

Apa artinya kebebasan ini jika pada akhirnya aku kembali dipenjara oleh ketakutan? – hlm. 14

Dari kutipan di atas, bisa kita ambil pemahaman bahwa konflik dominan dalam cerita ini adalah Man vs Self. Dikisahkan Ravit yang baru saja bebas dari penjara berjuang melawan kenangan buruk sekaligus ketakutannya sendiri. Berbagai cara ia lakukan, termasuk juga berpetualang.

Ravit bukan hanya mengalami petualangan lahir, tapi juga petualangan batin. Saya sebagai pembaca juga seolah benar-benar mengalami kedua petualangan tersebut dan rasanya sayang kalau membaca cerita ini tanpa membuka pikiran dan hati (ini serius). Penuh renungan, penuh hal yang bisa dipetik maknanya.

Karakter Uci sebagai tour guide sekaligus rekan Ravit juga terbangun dengan baik. Cukup dewasa dan tegas. Satu hal yang paling saya suka, Uci ini sangat bijak. Inilah kutipan dari dialog Uci:

“Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dicari jawabannya. Kadang, jawaban itu akan muncul sendiri jika waktunya tepat.” – hlm. 87

 

“Masa lalu, tidak perlu kita bawa hingga mati, Ravit.” hlm. 180

Oya. Riset cerita ini juga tampaknya memang nggak main-main. Penggambaran latar, budaya, serta atmosfer Bali begitu kental dan memukau. Begitu dekat dengan kegiatan sehari-hari. Boleh dong saya bilang ini semacam realistic fiction? Cerita ini pun tidak hanya memiliki sisi gelap, tapi juga sisi terang, sisi suci, sisi abu-abu, dan sebagainya. Diksi yang ringan juga dapat dengan mudah dicerna. Nggak akan nyesel deh, bacanya hehe. Sulit juga menentukan bagian favorit cerita saya dalam novel ini karena semua bagiannya memiliki makna masing-masing dan berkesan di hati saya sebagai pembaca. Hehe. Untuk peringkat, saya beri 4,5/5 🙂

Terima kasih sudah menulis novel yang amat berkesan ini, kak Suarcani 🙂 :*

 

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.

Review Novel Gadis Penenun Mimpi & Pria yang Melipat Kertas Terbang

29941171

Judul : Gadis Penenun Mimpi & Pria yang Melipat Kertas Terbang

Penulis :  Gina Gabrielle

Penerbit : Inner Child Crowdfund Publisher

Rating on Goodreads : 4.1/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis : Sebuah dongeng bagi kamu, yang sudah cukup dewasa untuk kembali bermimpi.

***

“Konon katanya, pada suatu tidur, kau bisa sampai ke suatu tempat yang disebut Ujung Pelangi. Di sana ada seorang gadis dengan wajah tertutup cadar yang akan menenunkan Mimpi untukmu…”

Seorang pria dengan Hati luka melihat kertas terbang dalam Mimpinya. Ia mengikuti arah kertas tersebut terbang, dan sampai ke Lembah Es. Ia menyangka Hatinya akan sembuh, namun ternyata Lembah Es hanyalah tempat untuk mendinginkan Hati.

Di lain tempat, tanpa ia ketahui, langit memar. Dunia terancam hancur, dan pria itulah yang dipilih untuk menyelamatkannya.

Tapi, karena tidak sanggup lagi menanggung sakit, ia memutuskan untuk selama-lamanya membekukan Hati di Lembah Es.

Lalu langit pun retak, dan hendak runtuh.

***

Diiringi dengan sajak-sajak yang menghangatkan Hati, kisah ini akan membawamu dalam perjalanan untuk menjadi sembuh—dan mengubah dunia, entah bagaimana caranya.

===

Mari menyelinap ke dalam pekatnya tinta, masuk menyelinap jauh ke bawah kesadaran manusia. Biarkan jiwamu yang melihat dan mendengar. Aku jamin, segalanya akan segera menjadi berbeda begitu kau melewati gerbang ini.
Satu, dua, tiga, empat.
Bahannya sudah lengkap. Mimpimu sudah bisa ditenun.
Empat, tiga, dua, satu.
Mari bermimpi bersamaku.
– Hlm.2

Katakanlah saya terlalu perfeksionis, tapi saya memang sempat bingung untuk mengulas novel ini. Rasanya belum cukup bila novel ini dikatakan ‘bagus’ saja atau ‘keren’ saja.

Atau mungkin sebenarnya ini bukan novel. Ini adalah masterpiece. Adikarya.

Dan pembuat kisah ini bukanlah penulis. Sama sekali bukan. Saya yakin itu. Pembuat novel ini adalah pendongeng. Mau tahu kenapa saya berkata demikian? Baca saja novelnya 🙂

… Oke. Bercanda. Tidak semua penulis adalah pendongeng, kawan. Kalau kalian membaca novel ini, kalian akan teringat dengan karya C.S Lewis. Oya, jangan salah. Meskipun cerita ini berbau dongeng, diksi yang digunakan justru cukup ringan. Asal membaca dengan hati dan pikiran yang tenang bin tenteram, pasti bisa mengikuti jalan ceritanya, kok. Hehe. Novel ini bukan hanya untuk dinikmati, tapi untuk direnungi. Kita akan diajak berimajinasi dan ‘berpetualang’. Tak hanya cerita, terdapat juga syair-syair magical yang estetis dan bermakna.

Bintang memancarkan kehangatan.
sinarnya lebih terang dalam kegelapan.
Cinta memancarkan kehangatan.
kuatnya lebih besar dari kegelapan.
– Hlm. 130

Novel ini sangat unik. Saking uniknya, teknik kepenulisan yang dipakai juga gak kalah canggih. Kalau kalian pernah dengar anthropomorphism, teknik tersebut digunakan di sini. Tokoh-tokoh yang berperan dalam novel ini—sebut saja Pangeran Landak, Putri Boneka, serta Kura-Kura Pengelana—adalah tokoh non-human yang memiliki sifat asli manusia. Teknik ini mengingatkan saya pada buku Alice in Wonderland.

Canggih, kan? Belum cukup sampai di situ, ada banyak sub-plots yang akan mengaduk-aduk pikiran dan perasaan pembaca. Saya katakan begitu karena setiap karakter memiliki kisah tersendiri, plot tersendiri. Di luar itu, semua karakter sangat matang. Salut! Soal karakter favorit, saya sangat suka Kol. Ibri :3

Plot utama cerita ini … saya beneran nggak nyangka. Bahkan si Gadis Penenun Mimpi memiliki kisah yang rumit juga! Duh, ini penulis, eh pendongeng, beneran nggak main-main bikin ceritanya. Apalagi ending-nya. Kalau nggak salah novel ini dikonsep selama sekira enam tahun hmmm… Wajar saja, sih. Menulis dongeng memang nggak seringan menulis buku harian (ya iyalah, Shell).

Oke. Rasanya saya harus sudahi ulasan ini. Semangat terus buat kak Gina, ditunggu ya karya-karya selanjutnya! 🙂

 

Review dari Shelly Fw di Goodreads dapat dilihat di sini.

Review Novel Diary Of An Unpopularity

30641210

Judul : Diary Of An Unpopularity

Penulis : Nurina Zahrah ‘Crowdedrina’

Penerbit : Loveable

Rating on Goodreads : 3.19/5

Rating from Shelly Fw: 4.5/5

Sinopsis : Cameyla Atwood adalah gadis kikuk yang memiliki satu teman. Walau otaknya secemerlang Einsten, kehidupan sosialnya sama sekali tidak bisa masuk dalam kategori hebat. Ia kerap menjadi bahan penindasan dari teman-teman satu angkatan, senior, bahkan kakanya. Namun ia tidak pernah melawan. Ia tidak apa diperlakukan begitu selama bisa mengejar segala tujuan hidupnya, yaitu kuliah di Universitas Harvard dan menjadi peneliti.

Kehidupan Cameyla mendadak berubah ketika ia datang ke acara premiere film bergengsi di Amerika. Siapa sangka ia adalah bagian dari keluarga Atwood yang terkenal. Semua terkejut saat mengetahui fakta aktor Gary Atwood dan model Juliana Anderson memiliki anak selain Carter Atwood dan Carla Atwood. Terlebih, Carter, Carla, dan Cameyla berada dalam satu sekolah yang sama dengan status sosial yang jelas-jelas bertolak belakang.

===

 

ALL HAIL BILDUNGSROMAN NOVEL! YAY! 

Pertama-tama, terima kasih pada kak Dini Afiandri yang telah memberikan novel ini untuk saya (kebetulan ber-ttd jugak!) 😀 Walau saya sudah membacanya di Wattpad, tapi saya tetap ingin memiliki buku ini. Kenapa? KARENA INI ADALAH NOVEL BILDUNGSROMAN! Bisa dibilang, DOAU ini cukup sekelas dengan novel The Perks Of Being A Wallflower, kurasa. Hoho.

Kalau kalian bertanya ‘what the hell is bildungsroman?’ jangan bingung. Saya dengan baik hati (uhuk) akan memperjelas, kok. Genre ini sebelas dua belas dengan genre coming-of-age atau tentang pendewasaan diri sang protagonis. Saya tergila-gila dengan genre ini karena selain unik juga mengandung unsur psikologis.

Mari lihat sinopsis. Cameyla Atwood adalah seorang ‘nerd’ yang ternyata adalah anak dari aktor dan model terkenal, kan? Di sini sudah jelas bahwa konflik yang dominan adalah man vs fate. Manusia versus takdir. Cameyla yang tidak mau tampil di depan umum dan tetap berpenampilan seadanya menggunakan kacamata tebal adalah perwujudan dari konflik ini. Ditambah, Cameyla kemudian harus tampil di hadapan umum dan juga direkrut menjadi vokalis sebuah band terkenal. Nah.

Cerita ini patut diapresiasi, saudara-saudara. Bukan cuma langka, tetapi teknik show yang digunakan penulis ini benar-benar mujur dan tepat guna (halah bahasa gue). Mau latihan menulis dengan menggunakan teknik show? Mau latihan menulis menggunakan plot yang kompleks? Baca novel ini, deh. Siapa tahu bisa jadi referensi. Saking kuatnya elemen-elemen di cerita ini, saya sampai nggak habis pikir karena ternyata penulisnya tergolong masih muda (lebih muda dari saya), tapi skill menulisnya oke untuk ukuran novel debut si penulis ini. Beneran salut, deh.

Elemen karakter juga oke punya. Cameyla yang sarkas dan cuek punya selera humor yang bagus, lho. Jauuuuuh banget dari kesan menye-menye.

Eh, tapi sepertinya keren juga kalau aku di red carpet dengan wajah masam. Kalau aku melakukannya pasti aku jadi orang pertama dengan wajah termasam dan masuk kategori ter-tidak-enak-di-foto ketika berjalan di red carpet.
Boleh juga dicoba. – hlm. 62

Karakter tokoh-tokoh lain juga nggak ada masalah. Selain Cam aku suka banget dengan Carter–tipe kakak idaman yang ganteng, perhatian dan baik hati. Tapi … kayaknya karakter Carter cenderung terlalu sempurna? xD Ah, tapi mungkin itu cuma perasaan saya aja lol.

Ada beberapa typo, aku lupa sih apa aja, tapi ya memang ada beberapa namun tidak fatal. Segi gaya bahasa oke oke aja, mengingat memang latar yang digunakan adalah Indonesia (especially Jakarta; The Metropolitan City) jadi wajar saja ada penggunaan bahasa dialog ‘gue-lo’. Banyak juga bagian yang menggunakan latar di Amrik sehingga disesuaikan dengan bahasa dialog yang baku ‘aku-kau’. Ada yang lucu sebenarnya, sewaktu Cameyla-Haris ngobrol di Amrik sekalipun, mereka tetap menggunakan dialog berbahasa Indonesia gaya ‘gue-lo’. Kind of using Bahasa as their private language, lah. Haha. Lucu banget mereka ❤

Soal cover? Saya bersyukur karena di cover DOAU TIDAK ADA embel-embel mega best seller atau apalah itu. HAHAHA. Soalnya sejauh ini, novel-novel yang lahir dari Wattpad dengan embel-embel tersebut justru overrated, sih. Ck.

Novel ini mengajarkan banyak hal, salah satunya:

“Hidup ini pilihan, Cam. Kalau ini pilihan kamu, berarti takdir akan mengikuti pilihamu itu. Jadi hadapi apa pun yang ada di depanmu. Jangan takut salah, karena kita belajar dari kesalahan,” kata Dave bijak. – hlm. 194

Ups. Ada typo dalam quote di atas wkwkwk. Oke. Mungkin sudah seharusnya saya akhiri ulasan ini, sebelum ngawur ke mana-mana. 4,5/5 for DOAU 🙂

 

Review Shelly Fw di Goodreads dapat dilihat di sini.

Review Novel Love Theft 1 & 2

Judul : Love Theft #1, Love Theft #2

Penulis :  Prisca Primasari

Rating Love Theft #1 on Goodreads : 3.85/5

Rating Love Theft #2 on Goodreads : 4.05/5

Rating Love Theft #1 dan #2 dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis Love Theft #1 :

Frea Rinata gadis yang sangat payah di kampus. Sementara teman-temannya sudah melangkah jauh ke depan, dia tetap saja berjalan di tempat, minim prestasi, dan dipandang sebelah mata. Benar-benar menyebalkan.

Untunglah, dia punya kehidupan kedua yang lebih menarik, yang melibatkan seorang pemuda bernama Liquor. Atau setidaknya, pemuda yang “dipanggil” Liquor. Frea nyaris tidak tahu apa-apa tentangnya, kecuali bahwa pemuda itu sangat menarik, memiliki profesi yang tidak biasa, dan penuh misteri. Namun, jauh di dalam hati, Frea jatuh cinta padanya, meskipun tidak pernah mengakuinya.

Sampai kapan Frea akan menyangkal perasaannya? Dan benarkah kehidupan keduanya semenarik yang dia pikirkan? Karena semakin lama, segala hal tentang Liquor semakin membuat dirinya frustrasi. Dan sangat khawatir.

 

Sinopsis Love Theft #2:

Permasalahan yang dihadapi Frea, Liquor, dan Night semakin rumit saja. Ketiganya harus membenahi kekeliruan yang mereka lakukan, sekaligus bertarung dengan perasaan masing-masing.

Di lain sisi, Frea semakin mengenal Liquor, sedikit demi sedikit. Dia memahami luka pemuda itu, mengetahui masa lalunya, juga terus berusaha mengobati hatinya.

Namun, tepat saat Frea menyadari betapa dia mencintai Liquor, sesuatu terjadi. Masalah baru yang luput dari perhitungannya.

===

Elegan.

Satu kata itu sayah rasa sudah cukup mewakili cerita Love Theft. Kalau di novel pertama lebih fokus pada unsur crime-action-misteri, di novel kedua ini cerita memiliki elemen tambahan romance yang cukup kuat. Bagaimana pun juga, bahkan sampai halaman terakhir buku ini, kesan elegan tetap tak pudar (halah). Maklum, LT ini adalah karya pertama kak Prisca yang sayah baca dan sayah sudah jatuh cinta dengan gaya kak Prisca dalam LT. Fix lah kak Prisca juga jago ‘mencuri’ hati pembaca xD

Plot-nya cukup kompleks. Sayah rasa novel ini bukan hanya menggunakan plot driven, tapi juga character-driven. Artinya, cerita nggak hanya berkembang dalam plot, tapi juga dalam karakter.

Karakter yang paling sayah suka adalah Night >,< (omg he’s so damn perfect) dan bagian Night yang paling sayah suka adalah ketika Night mencuri sekaligus mengendarai mobil Ferrari sambil dadah-dadah ke lautan manusia di sekitarnya HAHAHAHAHAHAHA. Bagian paling favorit itu waktu Night, Liquor, dan Frea mencuri dan kepergok oleh anak kecil, akhirnya Night membuka topeng dan bilang, “Kami peri kupu-kupu.” sambil mengeluarkan kupu-kupu putih dari mason jar. Lalu, sayah bisa membayangkan bagaimana ekspresi Liquor waktu membuka topeng dengan enggan karena disuruh oleh Night. HAHAHAHAHAHA di situ sayah ngakak.

Kalau momen Frea-Liquor, sayah suka adegan mereka berdua bertemu untuk yang pertama kalinya. Di situ Frea keren. Banget. Liquor juga, sih. Hehe.

Buat yang bertanya-tanya ada apa di balik kata ‘sayah’ di sini yaitu karena karakter Coco Kartikaningtyas (mudahan sayah nggak salah nulis nama ini) memang bicara dengan gaya yang demikian, yang mana kata ‘saya’ dia ucapkan ‘sayah’. Sebegitu kuatnya cerita LT memengaruhi sayah, ya? Tapi memang begini adanya. Sayah suka dengan semua karakter di LT, tbh. Dan karakter Coco ini unik, asik, sekaligus minta dicekik HAHAHAHA. Salut pokoknya buat character development semua tokoh dalam LT. Matang.

Ada sayah, ada labah-labah. Mungkin kata ‘labah-labah’ di sini sengaja dibuat seperti ini alih-alih menjadi ‘laba-laba’, tapi karena sayah udah menikmati cerita ini dari awal, hal ini nggak masalah buat sayah.

Gaya bahasa para tokoh dalam dialog menggunakan ‘saya-kamu’, tapi uniknya semua dialog nggak ada yang terkesan kaku. Justru keren, loh. Belum lagi unsur musikal yang seolah dapat sayah dengar melalui biola Frea dan piano Night. Tambah lengkap aja nih kualitas Love Theft.

Ah, Love Theft keren pokoknya. Oya, satu lagi. Ada momen gereget tentang Tarantula. Tarantula yang adalah seorang hacker ternyata sampai memasang cctv di mobilnya segala. Di situ sayah rasanya pengin bilang ke Tarantula, ‘kamu itu hacker apa pemburu hantu, Tar?’

Oke. Abaikan. Itu hanya pemikiran absurd sayah :v Di satu sisi, tokoh Tarantula sangat manis dan romantis huhuhuhu. Jadi pengin punya pacar macem Tarantulaaaa huaaa.

Selebihnya, ehem, mungkin tentang cover. Warna pink-nya menurutku menimbulkan kesan romance yang dominan, padahal kan nggak juga. Itu aja, sih. Hehe.

Sekian ulasan sayah. Oya, DITUNGGU BANGET LANJUTAN LOVE THEFT ALIAS LOVELY HEIST-NYA YA, KAK PRISCA ❤ 😀 😀 😀

 

Review Shelly Fw di Goodreads dapat dilihat di sini.