Ulasan Film Arrival

MV5BMTExMzU0ODcxNDheQTJeQWpwZ15BbWU4MDE1OTI4MzAy._V1_UX182_CR0,0,182,268_AL_

ARRIVAL || 2016 || Drama-mystery-thriller-science fiction|| Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitaker, etc || Based on the story titled ‘Story of your life’ by Ted Chiang

Poin IMDB : 7.9/10

Poin dari saya: 10/10

“You did something remarkable.

Something not even my superior has done

You changed my mind.” – Arrival

Saya menonton film ini tanpa ekspektasi apa pun. Seorang teman merekomendasikan film Arrival pada saya, lalu saya tertarik. Titik.

Singkatnya, Arrival mengisahkan seorang ahli linguistik bernama Louise (Amy Adams) yang direkrut oleh pihak militer untuk berkomunikasi dengan alien yang datang ke bumi.

Kedatangan alien itu ditandai dengan 12 buah spacecraft yang berbentuk seperti kapsul raksasa, tersebar di beberapa titik di planet bumi—salah satunya di kawasan Montana. Kedatangan yang begitu tiba-tiba dan tanpa jejak, membuat nyaris seluruh umat manusia menjadi gempar.

Bersama Ian (Jeremy Renner), Louise berusaha untuk memahami sekaligus berkomunikasi dengan alien yang disebut dengan ‘heptapod’ (makhluk asing itu memang memiliki tujuh tungkai). Heptapod ini besar, tinggi, hitam, keduanya dinamakan Abbott dan Costello (Costello bertubuh besar, sedangkan tubuh Abbott lebih kurus).

Awalnya, komunikasi kedua pihak dilakukan secara verbal. Menerjemahkannya ke bahasa manusia membutuhkan waktu yang cukup lama dan sulit minta ampun, sampai akhirnya Louise memiliki ide untuk melakukan komunikasi melalui tulisan.

Ya. Heptapod bisa menulis. Bedanya, mereka tidak membutuhkan alat untuk melakukan itu. Bahasa mereka lebih mirip simbol, tetapi tetap saja bagaimana pun juga harus dapat dimengerti oleh manusia.

Keseruan dimulai. Bahasa alien pun diterjemahkan ke bahasa manusia (meski membutuhkan waktu berminggu-minggu) dengan tujuan manusia bisa mengetahui tujuan para heptapod datang ke bumi. Apakah mereka datang sebagai musuh atau bukan? Apakah mereka akan menyerang?

Film ini tidak hanya fokus kepada interaksi manusia dan para heptapod. Kehidupan Louise yang berupa kepingan-kepingan ingatan seringkali hadir dalam benak wanita itu. Perlahan, kita sebagai penonton akan semakin mengetahui sejauh apa keterkaitan antara kehidupan Louise dengan para heptapod. Hubungan antara Hannah, Louise, heptapod, dan seluruh dunia memiliki benang merah yang sangat halus dan tidak terduga. Apa tujuan para heptapod datang dan lain sebagainya, semakin jelas seiring semua teka-teki yang kian terungkap. Kata ‘senjata’ yang dimaksud para heptapod bahkan tidak seperti yang manusia perkirakan.

Tidak. Saya tidak akan memberi spoiler di sini. Kalau Anda membutuhkan bocoran film ini, silakan mengunjungi ulasan yang lain.

Saya akan membahas film ini dari sudut pandang saya sendiri. Begini. Tidak semua film bagus dapat mengubah pola pikir saya. Arrival, yang digarap oleh tim Denis Villeneuve secara epik dan apik, mampu menggetarkan hati saya dan menginspirasi saya dalam banyak hal. Ini sungguh film yang patut diapresiasi. Belum lagi, ternyata cerita ini diadaptasi dari sebuah cerita berjudul ‘Story of Your Life’ karya Ted Chiang. Wah, sebuah cerita pendek diadaptasi ke dalam film secara memukau? Fiksi ilmiah berpadu dengan misteri, thriller, dan filosofi secara seimbang? Ya. Arrival-lah jawabannya.

Jujur, saya sampai menangis nonton film ini. Mungkin, seandainya saya membaca Story of Your Life, saya akan menangis juga.

Alasan saya sangat merekomendasikan film Arrival:

  • Dapat dinikmati nyaris semua kalangan penonton. Bisa dijadikan sebagai tontonan keluarga, misalnya.
  • Melalui film ini, banyak hal yang bisa menjadi bahan renungan.
  • Perkembangan alur dan konfliknya cukup mudah dicerna.
  • Kebanyakan orang yang menonton film ini sempat keliru menilai alur cerita yang maju-mundur, termasuk saya.
  • Karakterisasi serta konflik batin para tokoh sangat terasa.
  • BACKSOUND YANG MEREPRESENTASIKAN PIKIRAN DAN PERASAAN LOUSE DENGAN SANGAT BAIK (capslock jebol hahahahaaaa).
  • Aftertaste dari makna film ini, pastinya.
  • Ada hint di hampir setiap scene. Kalau bisa jangan lengah saat menonton wkwkwk.
  • Eksekusi cerita sangat brilian.
  • Komponen character driven lebih kental daripada plot driven.
  • Yang pasti, acting para pemeran amat sangat NATURAL.

Nah. Kalau kalian sudah menonton filmnya dan mau berbagi, yuk, mari~

Advertisements

Ulasan Novel Stardust

Screenshot_2018-06-07-10-05-05-931

Stardust || Neil Gaiman || Gramedia Pustaka Utama || 256 halaman || Fantasy-romance || Terjemahan

Poin Goodreads : 4.8/5
Poin dari saya : 5/5

Setelah jatuh hati pada The Sleeper and The Spindle (ulasan bisa dibaca di sini) sekarang saya jatuh hati pada Stardust. Neil Gaiman selalu menghasilkan karya yang memukau.

Seperti halnya The Sleeper and The Spindle, dongeng ala pengarang satu ini juga termasuk dongeng yang cocok dibaca orang dewasa. Lagipula, bukan Neil Gaiman namanya kalau tidak mendobrak pakem dongeng-manis-dan-sederhana. Di cerita ini ada beberapa hal yang sangat menarik. Kompleksitas karakter dan konflik-nya berkembang dengan epik, tokoh utama wanita yang tidak begitu anggun (malah berjalan dengan pincang, suka memaki xD), dan akhir cerita yang tidak mudah ditebak. Cara beliau meramu itu semua sangat elegan, menurut saya. All hail Neil Gaiman!

Hmmm. Ada satu kutipan yang lucu.

Tristran Thorn
Tristran Thorn
Tak tahu mengapa dia dilahirkan
Dan sumpah konyol ia ucapkan
Celana dan jaket dan kemeja terkoyakkan
Jadi dia duduk di sini memilukan
-hlm. 102

Hahahaha. Semua kekonyolan Tristran Thorn sebagai remaja labil bahkan tergali dengan baik.

Oh, soal adaptasi film yang diangkat dari novel ini. Di satu sisi, film Stardust cukup menghibur dengan komedi segar dan memiliki bagian klimaks yang lebih ‘menggigit’ daripada novel itu sendiri. Karakterisasi tokoh-tokoh dalam film juga dieksplorasi dengan baik, tetapi tetap saja baik novel dan film Stardust bagi saya keduanya unggul dalam cara yang berbeda. Tidak masalah mau membaca novelnya dulu atau menonton filmnya dulu. Saya kebetulan nonton filmnya sebelum membaca novelnya, sih.

Kalau untuk terjemahan saya rasa nggak ada masalah. Cukup luwes dan bisa dinikmati.

Sekian.

Catatan: Tanggal postingan ini disesuaikan dengan ulasan saya di goodreads di sini.

Review Novel Dunia Kafka

IMG_20170715_095033

Judul : Dunia Kafka

Penulis : Haruki Murakami

Penerbit : Alvabet

Penerjemah : Th. Dewi Wulansari

Rating on Goodreads : 4.13/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis :

Novel dengan dua plot berbeda namun saling terkait ini bercerita tentang dua tokoh yang berlainan dunia. Di satu sisi, novel ini menuturkan kisah Kafka Tamura, remaja yang kabur dari rumah untuk menghindari kutukan ayahnya serta untuk mencari ibu dan saudara perempuannya. Dalam petualangannya, ia menemukan tempat penampungan yang tenang di sebuah perpustakaan pribadi di Takamatsu, yang dikelola Nona Saeki yang tertutup dan penyendiri serta Oshima yang ramah dan cerdas. Kafka menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku, hingga suatu ketika polisi menginterogasinya terkait dengan kasus pembunuhan brutal.

Sisi lain novel ini berkisah tentang Satoru Nakata, lelaki tua yang—berkat kemampuan luar biasanya—bekerja paruh waktu sebagai penemu kucing hilang. Pada suatu kasus, demi seekor kucing, ia membunuh seorang lelaki misterius. Kasus ini membawanya hengkang jauh dari rumahnya dan berakhir di jalanan, hingga bertemanlah ia dengan sopir truk bernama Hoshino yang membawanya menuju kota tempat pelarian Kafka. Nakata dan Kafka berbeda dunia, namun di alam metafisik kisah keduanya terhubung—dan begitu pula yang terjadi dalam realitas sesungguhnya.

Dengan Oedipus complex sebagai bunga cerita, novel surealis ini menyuguhkan bacaan memukau ihwal identitas, cinta, tragedi, takdir, dan pergulatan hidup. Gagasannya eksploratif dan filosofis. Alur ceritanya berkelok-kelok dan penuh teka-teki. Gaya bahasa dan narasi dialognya ringan dan menghibur. Sebuah novel memikat dari penulis hebat yang patut Anda baca!

===

Luar biasa adalah kata yang tepat untuk novel ini. Dari tema kehidupan seputar cinta sampai krisis identitas, dieksplorasi secara mendalam. Saking mendalamnya, saya benar-benar merasa ingin sekali memeluk hampir semua tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh seperti Kafka Tamura, Satoru Nakata, Oshima, Saeki, Hoshino, hingga kucing-kucing (Mimi, Goma, Kawamura) memiliki permasalahan rumit dan pelik. Tak hanya itu. Permasalahan/konflik di antara mereka juga memiliki benang merah—tak hanya benang merah di alam metafisik, tetapi juga dalam realitas kehidupan mereka.

Pengembangan karakter atau character development juga patut diacungi jempol. Haruki Murakami selalu dapat menyuguhkan karakter-karakter memukau. Tiga dimensi, begitulah karakter fiksi seharusnya. Dimensi yang meliputi fisik, sosial, dan psikologis. Betapa masa lalu Kafka dan Nakata menimbulkan akibat yang sangat besar dalam kehidupan mereka. Begitu pula dengan Oshima.

Soal pandangan hidup, sejujurnya saya sangat menyukai pandangan hidup Nakata. Di satu sisi saya merasa sifat Nakata mirip dengan saya—fatalis atau terlalu pasrah. Sementara di sisi lain, ia bukan orang yang mau repot-repot berpikir negatif atau semacamnya. Lugu, namun di sisi lain … ah begitulah pokoknya. Bagi yang sudah membaca, pasti setidaknya kalian juga kagum pada Nakata.

Sebagai novel post-modern, alur bukanlah penggerak utama dalam cerita namun bukan berarti novel ini tidak memiliki alur. Masalahnya, dalam novel Dunia Kafka (atau ‘Kafka on The Shore’—versi Inggris) alur yang ada sangat berkelok-kelok. Ini poin plus juga. Satu lagi. Novel ini (anggap saja) fokus menjawab pertanyaan, ‘mengapa Nakata seperti ini?’, atau ‘mengapa Kafka memutuskan untuk pergi dari rumah?’, ‘mengapa Kafka melakukan ini?’ dan sederet pertanyaan ‘mengapa’ lainnya. Begitulah sifat novel post-modernCMIIW.

Cerita ini juga cerdas. Dari teori Chekov’s Gun, T.S. Elliot, pendapat Aristoteles, oedipus complex, sampai Kisah Genji menjadi bumbu penyedap cerita. Teori yang paling saya suka? Teori mengenai alam bawah sadar dari Carl Jung, tentunya. Tak heran novel ini juga memiliki unsur surealisyang kental. Bukan hanya disajikan, konsep surealis bahkan ‘hidup’ dan memberi warna tersendiri.

Terakhir, oleh karena saya membaca karya ini versi terjemahan, rasanya perlu saya ulas sedikit. Satu kata saja kok untuk terjemahannya—bagus. Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada Fe Ryrows yang telah meminjamkan novel ini! ❤

Sebagai penutup, inilah kutipan-kutipan favorit saya:

“Maafkan saya, saya tidak pandai,”
hlm. 239

 

Kata-kata tanpa huruf
Berdiri dalam bayang-bayang pintu ….
Jari-jari gadis yang tenggelam
Mencari pintu masuk ….
Di luar jendela banyak prajurit,
Meneguhkan diri untuk gugur ….

Petikan lirik lagu ‘Kafka di Tepi Pantai’

 

“Kekuatan yang saya cari bukanlah kekuatan di mana kita menang atau kalah. Saya tidak ingin membangun tembok yang akan mencegah kekuatan yang datang dari luar. Yang saya inginkan, kekuatan yang dapat menyerap kekuatan dari luar, untuk menghadapi kekuatan dari luar itu sendiri. Kekuatan untuk mengatasi berbagai hal dengan tenang—ketidakadilan, ketidakberuntungan, kesedihan, kesalahan, kesalahpahaman.”
hlm. 42.

 

“Kebetulan saya suka orang aneh. Orang-orang yang kelihatan normal dan menjalani hidup yang normal—mereka adalah orang-orang yang harus Anda waspadai.”
hlm. 239

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.

Review Novel Landline

download

Judul : Landline

Penulis :  Rainbow Rowell

Penerbit : Spring

Penerjemah : Airien Kusumawardani

Rating on Goodreads : 3.55/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis :

JIKA KAU PUNYA KESEMPATAN KEDUA UNTUK CINTA, APA KAU AKAN MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG SAMA?

Sebagai mesin waktu, sebuah telepon ajaib tidak terlalu berguna.

Penulis acara TV Georgie McCool tidak bisa benar-benar mengunjungi masa lalu–satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya meneleponnya, dan berharap masa lalunya menjawab.

Dan berharap pria iitu menjawab.

Karena begitu Georgie sadar ia memiliki telepon ajaib yang bisa menghubungi masa lalu, ia hanya ingin memulihkan hubungannya dengan sang suami, Neal.

Mungkin Georgie bisa memperbaiki berbagai hal di masa lalu mereka yang sepertinya sudah tidak bisa diperbaiki di masa sekarang. Mungkin telepon konyol ini memberi Georgie kesempatan untuk mengulang semua dari awal lagi….

Apa Georgie ingin mengulang semua dari awal?

===

[Apa kau memang mencintaiku, Georgie?]
“Lebih dari apa pun,” jawab Georgie.
hlm. 114

 

“Kalau aku tidak punya akal,” kata Georgie, “bagaimana mungkin aku bisa membuatmu melakukan hampir semua yang kuinginkan.”
[Kau tidak membuat-ku melakukan apa-apa. Aku melakukannya begitu saja. Karena aku mencintaimu.]
hlm. 120

Kutipan dialog di atas adalah percakapan telepon antara Neal (dialog Neal diapit tanda kurung siku) dengan istrinya, Georgie. Ah, tunggu. Rasanya ada yang keliru. Benarkah seperti itu? Karena nyatanya, Neal yang menjawab telepon Georgie adalah Neal lima belas tahun lalu, semasih Georgie dan Neal berpacaran.

Dan telepon yang membuat hal itu mungkin adalah sebuah telepon tua berwarna kuning.

Rasanya memang ajaib dan saya rasa Rainbow Rowell telah mengemas serta meramu cerita ini dengan amat sangat baik. Bahasa terjemahannya juga oke, nggak ada masalah sama sekali. Kalau biasanya saya ‘lelah’ dan ‘gerah’ membaca novel yang melulu membahas cinta, cinta, dan cinta, kali ini justru saya dibuat melting dan terkagum-kagum. Manis dan heartwarming.

Georgie adalah penulis, sedangkan Neal adalah komikus. And I just found out that:
love + creativity = WONDERFUL INFINITE PERFECT LOVE

Dan bagian favorit saya adalah ketika Neal dan Georgie hendak tidur, lalu Georgie mendapat ide namun ia tidak menemukan kertas. Akhirnya, Neal membantu Georgie untuk mengingat ide itu dan menuliskannya untuk Georgie. ASDFGHJKL. Salut pokoknya sama penulis satu ini. Hehe. Selain karakter Neal dan Georgie terbangun dengan apik dan baik, saya juga jatuh cinta dengan Seth yang cantik dan wittyhehe.

Sudut pandang yang diambil pun menarik, yaitu sudut pandang orang ketiga terbatas-subjektif. Hmmm. CMIIW.

5/5 untuk novel ini. Meskipun nggak dijelaskan lebih lanjut tentang asal usul tentang ‘telepon ajaib’ itu namun saya rasa ini sudah lebih dari cukup. Pesan moral dalam cerita ini sangat simpel namun juga worth it, yaitu untuk menghargai setiap waktu yang kita miliki dengan orang-orang terkasih. Secara keseluruhan, cerita ini lebih baik dari harapan saya. Kisah cinta yang sangat manis-tanpa-membuat-diabetes.

Sekian. Tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk kak Wahyu dan Penerbit Spring atas kesempatan giveaway novel ini dan juga atas kesempatan menang buat saya. Alhamdulillah. Hehe.

Review Shelly Fw bisa dilihat di sini.

Review of The Catcher in the Rye

5107

Title : The Catcher in the Rye

Writer :  J.D. Salinger

Publisher :  Back Bay Books

Rating on Goodreads : 3.79/5

Rating from Shelly Fw : 5/5

Synopsis : The hero-narrator of The Catcher in the Rye is an ancient child of sixteen, a native New Yorker named Holden Caulfield. Through circumstances that tend to preclude adult, secondhand description, he leaves his prep school in Pennsylvania and goes underground in New York City for three days. The boy himself is at once too simple and too complex for us to make any final comment about him or his story. Perhaps the safest thing we can say about Holden is that he was born in the world not just strongly attracted to beauty but, almost, hopelessly impaled on it. There are many voices in this novel: children’s voices, adult voices, underground voices-but Holden’s voice is the most eloquent of all. Transcending his own vernacular, yet remaining marvelously faithful to it, he issues a perfectly articulated cry of mixed pain and pleasure. However, like most lovers and clowns and poets of the higher orders, he keeps most of the pain to, and for, himself. The pleasure he gives away, or sets aside, with all his heart. It is there for the reader who can handle it to keep.

J.D. Salinger’s classic novel of teenage angst and rebellion was first published in 1951. The novel was included on Time‘s 2005 list of the 100 best English-language novels written since 1923. It was named by Modern Library and its readers as one of the 100 best English-language novels of the 20th century. It has been frequently challenged in the court for its liberal use of profanity and portrayal of sexuality and in the 1950’s and 60’s it was the novel that every teenage boy wants to read.

===

There is nothing that I could NOT appreciate from The Catcher in the Rye. I got totally absorbed in this book, you could say that. As a bildungsroman novel, this one went far beyond my expectations!

The conflict was Man vs Self. Holden Caulfield against his ignorance and insecurity (you’d figure that out ’til you read the last page, by the way). Holden is unique. He is the iconic of a rebellion, yet he never really does fatal thing or whatsoever. He is a pacifist as hell, and even his roommate (Stardlater) had hit him, fractured him, Holden’d just rather let it go even though it’s always about losing. Always. Oh, poor Holden.

I’d only been in about two fights in my life, and I lost both of them. I’m not too tough. I’m a pacifist, if you want to know the truth.

Dialogs are pretty less than narratives, but I could still enjoy it. Like DF said, it has the first-person smartass narrative so no wonder that Holden has a great sense of humor.

I was surrounded by jerks. I’m not kidding.

 

“What the hellya reading?” he said.

“Goddam book.”

I found myself laughing so hard at many parts, but the ending got my eyes sweating. Ok, I meant I was crying. There. I admit it. The ending was unpredictable and really touchy for me. Oh, wait. Where I have been all this times? I kind of feel pity for myself ’cause I read this novel just now. THIS YEAR, Shelly? Really? Poor me. Hahah.

Oh, and the last thing. My most favorite quote:

Everybody goes through phases and all, don’t they?

My favorite part? When Holden asks about the ducks in the Central Park Lagoon xD He really is worried about the ducks xD I never tought he really meant it lol

Well, last but not least, let me say thank you to DF and Dhirafor this amazing book recommendation. I also wanna say thanks to my Buddy Read, Marina. Guys, you all rooooooooooooock!

 

You can also read my review on Goodreads here.

Review Novel Purple Eyes

29860681

Judul : Purple Eyes

Penulis :  Prisca Primasari

Penerbit : Inari

Rating on Goodreads : 4.13/5

Rating dari Shelly Fw : 5/5

Sinopsis:

“Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

===

“Mereka memandangi saya karena saya tampan,” kata Hades tenang. “Bukan karena saya aneh.” – hlm. 16

Oke. Jadi novel ini menceritakan tentang Dewa Kematian bernama Hades dan asistennya, Lyre, yang turun ke bumi demi menunaikan sebuah tugas terkait peristiwa pembunuhan berantai dengan sebuah ciri khusus yaitu menyisakan korban-korban tanpa organ lever. Dan untuk menyelesaikan tugas mereka, orang yang harus mereka temui lebih dulu adalah Ivarr.

Nah. Quote di atas itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh Hades di hari pertama ia dan Lyre turun ke bumi.

Duh. Beneran, deh. Karakter dewa Hades di novel PE ini bikin geregetan. Sekaligus memorable juga sih, karena memang pada dasarnya semua karakter tokoh ciptaan Kak Prisca selalu seperti itu. Ditambah peran Lyre (yang menggunakan nama ‘Solveig’ selama ia berada di bumi) serta Ivarr Amundsen, novel ini sukses menarik simpati saya sebagai pembaca.

Pembaca yang lain mungkin sangat menyayangkan karena novel ini begitu tipis, tapi saya tidak. ‘Ramuan’ ala Kak Prisca ini justru patut diapresiasi karena meski ceritanya nggak memakan banyak halaman, tapi tetap padat konflik dan asik diikuti.

Oya. Soal konflik, ini tipe konflik man vs fate. Lyre yang perlahan-lahan jatuh cinta dengan Ivarr terhalang oleh takdir bahwa Lyre tidak lagi hidup sebagai manusia, sedangkan Ivarr adalah manusia. Keduanya jelas berbeda.

Lalu, bagaimana eksekusi cerita ini?

Kita akan dihadapkan pada misteri, teka-teki, pahit-getir, kelam-suram, serta bumbu manis dalam interaksi Lyre dan Ivarr. Tugas Lyre semakin sulit ketika Ivarr merasa nyaman dengan Lyre. Ada yang begitu unik di antara mereka berdua. Yaitu ketika Lyre memakaikan mantel pada Ivarr dan puisi yang Lyre tulis tentang Ivarr. Dan. Puisinya. Sangat. Indah. >,<

Ternyata oh ternyata. JENG JENG JREEENG … Seni dalam mengambiljudul Purple Eyes diangkat dari elemen cerita, di mana … uhuk, kasih tahu nggak ya? –ketawa jail- pokoknya ‘Puple Eyes’ ini menggambarkan fisik Ivarr gitu loh. Ada satu elemen lain, tapi baiknya itu jadi kejutan buat yang belum baca PE ehehehehe.

Memang ada banyak kejutan di PE, terutama bagian ending. Bagian itu juga yang membuat saya menitikkan air mata (serius). Kalau soal latarsaya rasa nggak ada masalah. Karya Kak Prisca selalu all out bahkan dalam menulis latar Norwegia. Salut!

Omong-omong, bagian favoritku adalah ketika Ivarr membalas surat Lyre. Perasaanku campur aduk di situ. Kalau kamu?

 

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.

Review Novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

29068175

Judul : Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

Penulis : Suarcani

Penerbit : Jendela O’ Publishing House

Rating on Goodreads : 3.92/5

Rating dari Shelly Fw : 4.5/5

Sinopsis : Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan.
Tapi kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku.
Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk kemudian kembali meremukkanku dalam ketakutan.
Aku butuh jalan, butuh mata kompasku. Apakah kamu bisa membantuku menemukannya?
Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.

===

Apa artinya kebebasan ini jika pada akhirnya aku kembali dipenjara oleh ketakutan? – hlm. 14

Dari kutipan di atas, bisa kita ambil pemahaman bahwa konflik dominan dalam cerita ini adalah Man vs Self. Dikisahkan Ravit yang baru saja bebas dari penjara berjuang melawan kenangan buruk sekaligus ketakutannya sendiri. Berbagai cara ia lakukan, termasuk juga berpetualang.

Ravit bukan hanya mengalami petualangan lahir, tapi juga petualangan batin. Saya sebagai pembaca juga seolah benar-benar mengalami kedua petualangan tersebut dan rasanya sayang kalau membaca cerita ini tanpa membuka pikiran dan hati (ini serius). Penuh renungan, penuh hal yang bisa dipetik maknanya.

Karakter Uci sebagai tour guide sekaligus rekan Ravit juga terbangun dengan baik. Cukup dewasa dan tegas. Satu hal yang paling saya suka, Uci ini sangat bijak. Inilah kutipan dari dialog Uci:

“Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dicari jawabannya. Kadang, jawaban itu akan muncul sendiri jika waktunya tepat.” – hlm. 87

 

“Masa lalu, tidak perlu kita bawa hingga mati, Ravit.” hlm. 180

Oya. Riset cerita ini juga tampaknya memang nggak main-main. Penggambaran latar, budaya, serta atmosfer Bali begitu kental dan memukau. Begitu dekat dengan kegiatan sehari-hari. Boleh dong saya bilang ini semacam realistic fiction? Cerita ini pun tidak hanya memiliki sisi gelap, tapi juga sisi terang, sisi suci, sisi abu-abu, dan sebagainya. Diksi yang ringan juga dapat dengan mudah dicerna. Nggak akan nyesel deh, bacanya hehe. Sulit juga menentukan bagian favorit cerita saya dalam novel ini karena semua bagiannya memiliki makna masing-masing dan berkesan di hati saya sebagai pembaca. Hehe. Untuk peringkat, saya beri 4,5/5 🙂

Terima kasih sudah menulis novel yang amat berkesan ini, kak Suarcani 🙂 :*

 

Review Shelly Fw di Goodreads bisa dilihat di sini.