Lukisan Verzasca

Sono le tre e quindici,”[i] ucap pria paruh baya sembari menunjukkan jam tangannya.

Grazie. Buon giorno, signore![ii] kataku pamit sebelum membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar taksi dengan agak terburu-buru.

Sungguh dinamika cuaca yang menyebalkan. Dengan suhu 54°Fahrenheit seharusnya langit Ticino cukup berawan seperti hari-hari sebelumnya! Ah, untung saja aku membawa jas hujan sehingga aku dapat merasa sedikit lega.

Tapi…kapan lagi aku akan menikmati hujan di Kota Ticino? Aku tersenyum sendiri memikirkannya.

Inilah hal yang menarik dari Ticino. Selain kota ini adalah salah satu surga bagi para pecinta alam dan seniman sepertiku, Bahasa Italia yang memonopoli sebagian besar percakapan disini juga menjadi salah satu keunikan dari Ticino; awalnya aku membenci hal ini, namun hari ini aku banyak menggunakan bahasa tersebut.

Kuhentikan langkah sejenak setibanya di pertigaan St. Nicolao. Tanpa ragu-ragu aku memasuki sebuah bar dan langsung memesan white merlot pada bartender.

***

lebih lanjut

Advertisements