Smalltalk Prompt

Btw, aku hendak menyumbang postingan²ku sebagai prompt writing hehehe. Mungkin ada yang minat? Yang ini ga terbatas waktu dan bisa kapan aja diadopsi sih. Btw prompts dariku agak beda, karena bentuknya percakapan.

 ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ  ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ 

Foto di atas adalah contoh prompt ini. Bisa diadopsi sebagian atau seluruh percakapannya. Boleh juga dikembangkan dalam bentuk puisi, prosa, cerpen, novel, atau karya bentuk lainnya. Prompts ini bisa ditengok di https://www.storial.co/book/smalltalk atau cek tagar #smalltalkprompt di instagram

(jangan lupa gunakan tagar #smalltalkprompt kalau sudah mengadopsi prompts ini ya hehe). ㅤㅤ ㅤㅤ 

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ 

ㅤㅤ  ㅤㅤ ㅤㅤ • Apakah boleh kalau aku mengadopsi prompt ini bukan dalam bentuk percakapan? Dalam narasi, misalnya?

Boleh banget.

 ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ • Bagaimana kalau aku menggunakan prompt ini pada novel atau cerpen? 

Kalau dipublish secara daring atau online, silakan tambahkan tagar #smalltalkprompt tapi kalau tidak, ya tak apa. But if you don’t mind, let me know :3 atau boleh juga post judul ceritamu saja, lalu gunakan tagar #smalltalkprompt

 ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ • Bolehkah kalau dipost di medsos lain seperti twitter atau blog? 

Bebas. Yang penting postingan usahakan bersifat publik ya, jadi bisa dilihat semua orang.

 ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ • Apa tujuan gerakan #smalltalkprompt ini?

Sederhana saja. Aku ingin gerakan kecil²an ini menjadi tantangan tersendiri yang dapat meningkatkan kreativitas.  ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ 

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ 

Salam kreatif ~❤

-Shelly Fw-  ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤ

Advertisements

​Alhamdulillah; Saya Masih Bertahan

Sebenarnya sederhana saja. Kenapa sampai detik ini saya masih bertahan hidup? Pertama adalah karena perkenan dan rahmat-Nya. Kedua, karena saya yakin bahwa saya dapat mencapai impian-impian saya yang belum tercapai (aamiin). 

Salah satunya, membahagiakan orang tua saya. Seandainya bisa, saya akan selalu membahagiakan mereka. Senyum mereka adalah pelita sekaligus penyemangat. Tanpa dukungan dan perhatian mereka, mungkin saya takkan sanggup bertahan sampai sejauh ini.

Peran keluarga besar serta orang-orang di sekitar saya pun tak luput memberikan pelajaran berharga bagi saya. Bahkan mereka yang pernah ‘menjatuhkan’ saya sekali pun, membuat diri ini menjadi lebih tangguh daripada diri saya yang dulu. Juga, kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat. Tanpa semua itu, mungkin, saya yang sekarang tidak lebih baik dari saya yang dulu.

Saya sangat terbuka terhadap perubahan-perubahan. Juga pada segala kemungkinan yang ada. Faktor itu jualah yang membuat saya tetap bertahan. Lain halnya bila saya sangat tertutup pada berbagai perubahan. Intinya saya bersyukur (dan akan selalu bersyukur) dengan segala apa yang saya punya, baik dalam segi materiel maupun imateriel. 

Juga dengan event-event kepenulisan, salah satunya event kepenulisan 7 hari tantangan menulis #KampusFiksi dan #BasabasiStore yang saya ikuti ini. Saya selalu menghargai kegiatan-kegiatan yang memicu kreativitas saya demi bertahan hidup (dalam dunia yang penuh tuntutan ini), begitu pula terhadap tantangan ini. Saya harap, keikutsertaan saya dapat semakin mematangkan semangat saya untuk tetap berkreasi dan berkarya sampai akhir hayat. Harapan saya, semangat ini dapat berpengaruh pula untuk kita semua.

Dan saya akan melakukan yang terbaik untuk tetap bertahan. It’s easier to obtain than to maintain. Mempertahankan selalu lebih sulit daripada memperoleh, kan?

-Shelly Fw, 17 Maret 2017-

Berbagi Makna

Kalau kalian familier dengan nama Stephenie Meyer, kalian mungkin juga pernah mendengar suatu novel berjudul The Host. Itu loh, novel yang (memang) jauh lebih bagus daripada Twilight series HAHAHAHAHA (ampun, mbak Steph) xD

 

Nah. Ceritanya di sini saya mau berbagi makna dari salah satu paragraf novel ini. Berikut kutipannya:

 

 

Akan menyenangkan untuk kembali sendirian, dan memiliki benakku untuk sendiri. Dunia ini sangat nyaman dengan begitu banyak hal baru, dan akan menyenangkan jika aku bisa menghargainya tanpa gangguan-gangguan dari nonentitas pemarah dan salah tempat yang seharusnya lebih berpikiran waras dan tidak tetap tinggal tanpa diinginkan seperti ini – hlm. 62.

 

Kalau ditanya kenapa saya ambil paragraf dari The Host, alasan saya adalah: 1) Novel ini salah satu bacaan favorit saya (beberapa kali saya re-read, malah), 2) Saya sengaja mengutip dari novel yang belum pernah saya ulas (melainkan hanya memberi rating 5/5 di Goodreads), 3) Quote di atas amat sangat bermakna.

 

Sekarang, mari renungkan. Terlepas dari si ‘aku’ alias Wanda yang bisa dibilang cinta damai (saya sendiri juga sebenarnya tipe demikian, sih), dari teks di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kesenangan dan kenyamanan bahkan dapat dibentuk dari benak kita sendiri. Tak perlulah repot-repot dicari. Apalagi diimpi-impi. Konteks yang dimaksud di sini tentulah dalam cara yang waras, tentu saja. Ini bukan tempat untuk membicarakan kesenangan di atas kesusahan. Happiness from within, you could say that. Dengan begitu, kita dapat menyebarkan kebahagiaan itu pada dunia, bukan?

 

 

Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan. Sebelum saya ngawur tidak jelas, mungkin sebaiknya saya sudahi tulisan ini.

 

-Shelly Fw, 15 Maret 2017-

Ciluk Ba!

 

Ciluk Ba!

Aku adalah cinta

Bisa datang kapan saja

 

Ciluk Ba!

Tak peduli sasaranku tua atau muda

 

Ciluk Ba!

Aku bisa menguatkan, bisa pula melemahkan

 

Ciluk Ba!

Aku sering disalahkan, padahal kalianlah yang mengambil keputusan

Hei! Tetap mencintai adalah pilihan, sedangkan jatuh cinta tidak

 

Tapi aku tak pernah lelah!

Aku adalah karunia Sang Maha Kuasa

Tugasku menyambangi jiwa kalian, wahai para makhluk-Nya

Tentu saja kalian boleh mengusirku atau memintaku ‘tuk menetap

Itu semua tergantung kalian!

 

Ciluk Ba!

Berpikirlah seluas semesta

Karena aku tak hanya milik manusia

 

Ciluk Ba!

Menurut Shelly Fw, aku adalah lambang ketulusan

Bagaimana menurut kalian?

 

 

-Shelly Fw, 14 Maret 2017-

 

 

Ketika Takdir Bicara

 

Beri aku waktu sejenak.

Agar terasa dingin dalam benak.

Tapi aku harus bergerak.

Cepat. Atau takdir lain bicara kelak.

 

 

“Bagaimana perasaanmu jika memiliki anak yang tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan?”

 

Duh, aku tak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Jawaban apa yang bisa diharapkan dari diri ini? Hanya satu hal yang pasti, bahwa ‘mereka’ semua akan bicara menanggapi.

 

Si angkuh akan berkata, “tak usah kau akui saja!”

 

Berbeda dengan pendapat si santun. “Itu berarti kau akan menjadi orang tua yang luar biasa.”

 

Tapi si logis juga tidak salah. “Kau tidak sendirian. Bersama pasanganmu, kalian dapat saling menguatkan.”

 

Begitu juga si optimis. “Hei, itu berarti anakmu akan sangat cemerlang di bidang lainnya.”

 

Aduh. Aku pusing!

 

Terutama dengan racauan si gengsi. “Ini memalukan!”

 

“Tidak! Ini ladang pahala!” sangkal si suci.

 

Apalagi si pesimis. “Kau telah gagal menjadi orang tua ….”

 

Gagal? Aku bergidik. Aku tidak ingin menjadi orang tua yang gagal, wahai semesta!

 

Suara siapa yang harus kuturuti? Mereka semua semakin menjadi dalam benakku. Menggerogoti ketenanganku. Yang satu menimpali yang lain. Suara satu mengalahkan sisanya.

 

Demi Tuhan, mereka saling bersikeras! Tidak satu pun di antara mereka mengenal kata ‘diam’. Seakan belum cukup, luapan mereka mengaduk-aduk perasaanku. Oh!

 

Tidak. Aku tahu seandainya itu terjadi, Tuhan takkan menolongku kecuali aku berusaha untuk menolong diri sendiri.

 

Atau setidaknya melakukan yang terbaik untuk anakku nanti.

 

Jadi, ya. Aku akan berusaha semampuku. Guna memperbaiki itu semua. Agar ‘kesimpangan’ itu dapat setidaknya teredam. Mungkin cara didikanku dan pasangan terhadapnya selama ini salah? Itu berarti harus ada yang diubah.

 

Atau masalah lainnya? Sumpah, akarnya akan kucari sampai ke ujung dunia.

 

Karena seorang anak tidak pernah salah, bukan? Titipan Tuhan satu ini bagaimana pun juga harus dijaga, dirawat, dan dibina sedemikian rupa.

 

Ah, aku tak peduli. Pokoknya, aku tidak boleh menyerah pada kenyataan demikian. Tidak boleh!

 

-Shelly Fw, 13 Maret 2017-

 

Wahai Surga Kecilku

Aku selalu tersihir oleh pesonamu. Pada segala keelokan dan harum namamu. Inginku mengunjungimu, bermain-main denganmu. Menghipnotis diri dengan buaian surgawimu. Mengabadikan segala yang tercecap semua indraku, seandainya aku mampu.

Karena aku tidak percaya mereka.  Pada yang telah menjamahmu dan menyusuri panoramamu dengan leluasa. Aku ingin merasakanmu dengan raga dan juga batinku, karena itulah aku benar-benar berharap agar suatu saat aku bisa datang ke sana—di mana kau berada.

Kata mereka, keindahanmu luar biasa. Kehijauanmu tak perlu diragukan. Suara bagpipe yang sering terdengar di sana begitu unik tak terkira. Kastil demi kastil berdiri kokoh, menunggu untuk disapa. Belum lagi aksen aduhai khas orang-orangmu. Oya, bahkan monster Loch Ness berasal dari danaumu! Benarkah itu, Ed? Bolehkah aku membuktikan semua itu sendiri?

Ed, tunggulah aku. Mungkin barang beberapa tahun lagi aku ‘kan memijakkan kaki di sana. Bersabarlah. Selepas kita bersua, aku akan mengabadikanmu dalam karya yang kelak kupersembahkan pada dunia. Ed, kau membuatku gila!

Edinburgh, aku padamu ❤

-Shelly Fw, 12 Maret 2017-

81Perjalanan-1
Edinburgh (sumber: ummi-online.com)

 

 

 

 

 

Cinta Monyet Si Gadis dan Pujaannya

Sudah lama si gadis ingin menceritakan ini semua pada dunia. Terlalu dalam ia menyimpan semua ini untuk dirinya sendiri. Sekarang adalah waktunya bagi si gadis untuk meluapkannya.

 

Kisah ini ia alami bahkan sebelum usianya genap empat belas tahun. Ketika itu, ia hanya siswi SMP biasa yang selalu menjepit rambut keritingnya dan cukup sering bolak-balik ke kantin hanya untuk jajan makanan murah dan minuman kemasan seraya mengobrol dengan teman-temannya.

 

Ia begitu sibuk dengan dunianya sendiri; tak sadar dirinya kerap diperhatikan seorang pemuda sebayanya.

 

Hingga akhirnya, si pemilik rambut keriting sebahu itu mendapati sang pemuda tersenyum padanya. Senyum yang tulus. Kelewat tulus, malah. Hanya saja, si gadis malah kebingungan alih-alih membalas senyum itu.

 

Padahal, si pemuda seolah tak ada kapoknya untuk tersenyum pada gadis itu. Mungkin, si pemuda juga merasa malu. Tak pernah ada sapaan apalagi percakapan di antara mereka.

 

Gadis yang malang. Di saat hatinya mulai berdebar-debar tak keruan setiap kali ia berada di sekitar si pemuda, senyum tulus itu tak pernah lagi dialamatkan padanya. Tersebarlah kabar—ralat, fakta—bahwa si pemuda berpacaran dengan gadis lain. Si jago basket berpacaran dengan gadis cantik berambut panjang. Bagaimana itu bisa terjadi? Si gadis malang tentu saja tak tahu.

 

Si gadis bahkan terlalu polos untuk memahami arti patah hati. Betapa sangat lugu, bukan? Tapi, gadis itu tak peduli. Ia tetap gemar mencuri-curi pandang pada si pemuda. Entah ketika si pemuda sedang berwudu, atau ketika si pemuda bermain bersama timnya di lapangan, pokoknya sering. Si gadis benar-benar tak memedulikan si pemuda yang tak pernah lagi memperhatikannya atau tersenyum padanya.

 

Satu hal yang pasti, si gadis tak pernah melihat si pemuda terang-terangan berpacaran dengan si cantik itu. Melihat kedua sejoli tersebut duduk bersandingan saja tak pernah. Semua itu lebih dari cukup bagi si gadis malang.

 

Seakan belum cukup menyedihkan, suatu kali saat si gadis tengah berlari, ia mendapati si pemuda berada tak jauh dengannya. Salah tingkah tak terelakkan. Si gadis sukses mencium aspal. Bagian ‘terbaik’-nya, ia jatuh tersungkur dan mengakibatkan lengannya terluka cukup dalam.

 

Si gadis malah tertawa dengan polosnya. Tertawa sekaligus malu.

 

Tahukah kalian, ia tak pernah menyerah terutama untuk mendoakan si pemuda. Sorot mata hangat menenangkan. Senyum tulus yang menentramkan. Bagaimana itu semua dapat dilupakan?

 

Seiring bergulirnya waktu, mereka pun melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Terpisah tanpa ada perpisahan di antara keduanya. Kesibukan-kesibukan baru menyapa.

 

Semua itu berlangsung hingga kabar buruk itu datang. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa si pemuda. Ia pun berpulang, tak lagi memijak dunia.

 

Tahukah kalian, sangat banyak orang yang merasa kehilangan sosoknya. Sosok si kalem. Si jago basket. Sosok yang selalu menghormati orang-orang di sekitarnya.

 

Bagaimana dengan si gadis? Sebenarnya ia begitu ingin menangis, tapi tidak bisa. Tersenyum pun, tak kuasa.

 

Jadi, si gadis mendoakannya. Mendoakan sang pujaan. Berharap jiwa si pemuda dapat tenang untuk selamanya.

 

Pun untuk memaafkan si pemuda yang tak pernah membalas cinta monyetnya. Kepada yang telah memberi banyak pelajaran berharga bagi si gadis bahwa hidup adalah selalu tentang melakukan yang terbaik.

 

Bahkan sampai detik ini pun, si gadis masih senantiasa mendoakan si pemuda. Karena ia sadar, ia bukanlah sosok spesial dan hanya berhak untuk mendoakan si pemuda. Tak lebih.

 

Gadis itu, aku.

 

-Shelly Fw, 11 Maret 2017-